Jarum jam dinding di sudut kamar baru saja menunjukkan pukul tiga dini hari. Di dalam pelukanku, bayi mungil berusia kurang lebih sebulan ini tertidur pulas, menyisakan suara napasnya yang lebih halus dari minggu-minggu sebelumnya.
“Laruna, sudah tidak sering mengorok lagi, ya, Nak?” bisikku pelan sembari menatap wajahnya.
Aku menghela napas panjang, mencoba melonggarkan pundakku yang terasa begitu kaku dan pegal luar biasa. Pinggang dan punggungku terasa nyeri. Sudah hampir dua jam aku menyusui dalam posisi duduk. Lelah? Jelas saja. Sebagai orang tua baru, aku masih sering bertanya kepada diriku sendiri, “Bagaimana aku akan menjalani hari esok, ya?”
Aku masih kebingungan dan ketakutan akan salah langkah.
Namun, perasaan itu tak lagi sebuas di minggu-minggu awal. Pola tidur yang begitu berantakan, begadang untuk menyusui yang seolah tiada hentin, tangan yang masih terlalu kaku untuk menyentuh maupun menggendong buah hatiku, belum lagi kondisiku yang belum pulih setelah melahirkan.
Kini, perlahan aku mulai terbiasa untuk berdamai dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Dari hari ke hari, seakan ada suara yang berbisik, “Tenang, Nana, kamu sudah melewati hari ini dengan baik. Niscaya, esok pun Allah akan memberikanmu kekuatan dan jalan keluar.”
Di tengah keheningan yang kian pekat, aku menatap wajah suamiku yang tertidur pulas di sampingku. Aku hendak beranjak dari tempat tidur untuk menidurkan Laruna ke ranjang bayi, tempat ia terlelap mengistirahatkan badan mungilnya yang tampak seperti bunga kecil yang baru mekar. Aku yang sedang asyik menatapnya lekat-lekat tiba-tiba disuguhi senyuman manis darinya. Mimpi indah, ya, Nak?
Ketika kakiku baru saja menginjak lantai, suamiku terbangun setengah terkejut.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Mau dipindah, Yang?” Matanya mengerjap-ngerjap. “Sini, Aa yang gendong Dede, Yang.”
Aku tersenyum.
Arif menggandeng tanganku, lalu berbisik lirih, “Sudah berapa lama tadi, Yang? Capek banget, ya?”
Aku tersenyum tipis, mengusap pipi anak kami sebelum menjawab pelan, “Hampir dua jam, Yang. Kadang rasanya … pikiranku nano-nano nggak karuan, ya.”
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
Kami kembali naik ke tempat tidur. Suamiku membetulkan posisi duduknya, bersandar pada kepala ranjang, lalu merangkul pundakku. “Mau cerita sesuatu?”
Di sela-sela rasa kantuk yang menuntut, mataku menolak untuk terpejam.
“Hmm … zaman dulu punya perjuangannya sendiri. Tapi yang aku rasakan saat ini, lelahnya, cemasnya, takutnya, itu nyata, Yang. Cuma bentuk tantangannya saja yang beda.”
Arif mengecup keningku. “Kita belajar bareng-bareng, ya.”
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Aku mengangguk pelan, kemudian membetulkan posisi bantal tidurku.
“Sudah mau tidur, Yang?”
“Iya, Yang.” Aku menarik selimut.
“Ya sudah, istirahat dulu. Nanti kalau ada yang mau dibahas, bisa cerita ke Aa, ya, Yang.”
Kamar kembali senyap, hanya menyisakan deru pendingin ruangan dan napas dua orang yang aku cintai. Suamiku kembali terlelap setelah memastikan aku baik-baik saja.
Aku membuka mataku lagi. Di tengah keheningan malam, sebuah pemikiran yang tersimpan di dasar benakku kini muncul kembali.
“Astaghfirullah …” bisikku lirih dalam hati.
Aku teringat betapa seringnya istilah ‘anak durhaka’ disebut, tetapi jarang yang bertanya: apakah ada juga orang tua yang zalim?
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
Kata ‘zalim’ itu seakan berdengung di telingaku. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, menindas hak orang lain, dan membebani orang lain dengan beban yang bukan tanggung jawabnya.
Pandanganku mengabur oleh genangan air mata yang tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, “Kelak, aku akan menjadi ibu yang seperti apa untukmu, Nak?”
Berbagai pertanyaan makin membanjiri pikiranku. Mungkinkah aku kelak akan menjadi orang tua yang mengungkit jasa-jasa seolah anak adalah orang yang berutang budi kepada aku dan suamiku?
Lalu, bagaimana jika nantinya aku membesar-besarkan hal kecil atau tanpa sadar aku merasa benar sendiri dan malah mengadu domba sehingga membuat anak merasa frustrasi dan bersalah terus-menerus?
Bagaimana jika aku menjadi orang tua yang manis di hadapan orang lain? Menyanjung dan membangga-banggakan anakku di depan kerabat demi egoku sendiri, tetapi begitu pintu rumah tertutup, aku justru melukai hatinya dengan kata-kataku yang tajam. Aku takut tanpa sadar aku malah membanding-bandingkannya dengan anak orang lain yang memiliki kelebihan, kemudian menuntutnya untuk menjadi seseorang yang seperti itu, bahkan lebih.
Padahal, bisa jadi yang aku lakukan bukan memotivasi, melainkan membuat anak merasa dirinya selalu salah dan tidak cukup baik.
Air mataku akhirnya luruh, membasahi selimut yang kukenakan hingga menutupi leherku. Pikiranku melayang lebih jauh, membayangkan jika suatu hari nanti kata-kata yang kuucapkan menjadi suara yang terus terngiang di kepala anakku. Bagaimana jika tanpa sadar aku membuatnya tumbuh dengan perasaan bahwa ia harus selalu menjadi yang terbaik agar layak dicintai?
“Yassalam …” bisikku, meraba dadaku yang merasa pilu.
Baca Juga
Cerita Pendek: Perjanjian Kedua Iblis
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang bagaimana mengajarkan anak menjadi baik, tetapi juga perihal bagaimana belajar agar diriku sendiri tak keliru dalam mencintainya.
Entah berapa banyak orang tua yang begitu mudahnya merasa sedang mendidik anak, padahal mungkin yang sedang dilakukan justru menorehkan luka yang begitu dalam, menjatuhkan mentalnya, merusak rasa percaya dirinya, dan perlahan membuatnya kehilangan keyakinan bahwa dirinya layak dicintai dan dihargai apa adanya.
Aku menatap tanganku yang gemetar. Menjadi seorang ibu telah membawa begitu banyak perubahan. Tubuhku tak lagi sama, hormon yang naik-turun tak menentu, rasa lelah yang menghantui di setiap harinya, apakah semua ini kelak akan mengubah kepribadianku?
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kupejamkan mata sejenak untuk mengusir segala kecemasan yang memenuhi pikiranku.
Baca Juga
Cerita Pendek: Alhamdulillah
Melahirkan anak ini adalah pilihanku. Jika suatu hari nanti aku merasa terbebani, lalu mengungkit apa yang telah kulakukan maupun perjuangkan untuknya, apakah aku berhak merasa diriku telah menjadi seorang pahlawan?
Tentu tidak. Egois betul jika aku menuntut balasan dari apa yang telah kuputuskan sendiri, memilih untuk melahirkan keturunan. Naudzubillah, jangan sampai lelah ini berubah menjadi kezaliman. Jangan sampai pengorbanan yang semestinya menjadi jalan menuju cinta justru berubah menjadi alasan untuk berbuat semena-mena.
Ya Allah, tolong bimbing hamba-Mu ini …
Malam ini aku belajar satu hal penting. Menjadi orang tua yang baik tidak menuntutku untuk menjadi manusia yang sempurna tanpa cela. Menjadi orang tua yang baik dimulai dari niat baik, hati yang mau belajar, keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Tidak perlu sempurna, yang penting tulus dan sadar.
Aku membuka mata. Kulihat Laruna masih terlelap di ranjang kecilnya.
Aku tersenyum tipis.
Perlahan, aku turun dari kasur. Kudekati ranjang kecil Laruna. Aku berdiri di sampingnya, memandang wajah mungil itu beberapa saat.
“Nak, akan ada hari ketika Bunda merasa begitu lelah, kehilangan sabar, atau kembali merasa tidak cukup baik. Namun, Bunda ingin selalu punya jalan untuk kembali. Kembali meminta ampun, kembali belajar, dan kembali menitipkan Laruna kepada Allah.”
Lalu, dengan hati yang masih bergetar, aku mulai membacakan amalan yang kuupayakan untuk menghadiahkannya di setiap malam. Ila ruhi wa jasadi Laruna Ismaya Arif, binti Arif Hidayatullah.
Aku menarik napas, lalu melanjutkan dengan hati yang kutundukkan sepenuhnya kepada Allah. Al-Fatihah tiga kali. Al-Ikhlas tiga kali. An-Naas tiga kali. Al-Insyirah tiga kali.
Kemudian, aku melanjutkan dengan doa yang kupanjatkan untuk kebaikan anakku: Rabbi hab li minash shalihin.
Setelahnya, kubaca doa Nabi Muhammad: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.
Lalu, ayat dari QS. Ibrahim: 40: Rabbi-j'alni muqimash shalati wa min dzurriyyati, rabbana wa taqabbal du'a.
Dan doa Nabi Zakariya as: Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibatan, innaka sami'ud du'a.
Sesekali aku bacakan doa-doa ini ketika Laruna masih terjaga sembari meneguk ASI yang menjadi pengantar tidurnya. Bola matanya yang jernih itu mengarahkan pandangan ke arahku. Hatiku merasa begitu damai.
Terkadang, ia pun tak pernah tahu berapa kali namanya kusebut dalam doa-doa panjang yang kupanjatkan ketika ia tertidur.
Aku ingin terus melakukannya. Sebab, aku tahu, menjadi ibu bukan sekadar perihal menggendong, menyusui, menjaga, dan membesarkan. Ada bagian lain yang tak selalu terlihat: membersamainya di kala ia belum bisa menentukan pilihannya serta memohonkan kebaikan untuknya ketika ia bahkan belum mampu memintanya sendiri.
Aku mengusap pelan dari ujung kepala hingga ujung kaki Laruna.
Aku semakin menyadari, anak bukan milik orang tuanya. Ia adalah titipan. Dan kepada Pemiliknyalah, setiap malam, akan kukembalikan ia dalam doa.
Annisa Ratna Pratiwi. Menyukai cerita pendek sejak remaja. Membaca dan menulis menjadi perjalanan untuk menemukan kedamaian, makna, dan inspirasi. Tinggal dan berkarya di Majalengka, Jawa Barat. Baca cerpen-cerpen lainnya dari Annisa Ratna di NU Online melalui tautan ini