Kabar tentang Pocong Ireng di kampungku bertiup laksana angin di musim kemarau. Isu tersebut mula-mula muncul dari para pedagang ikan dari kampung sebelah yang membuka lapak di pasar kampungku. Mereka mengatakan kampungnya disatroni Pocong Ireng. Lebih lanjut mereka mengungkapkan bahwa cepat atau lambat Pocong Ireng akan menyatroni kampung tetangga.
Menyikapi rumor tersebut, kampungku terpecah menjadi dua kubu yang bisa dikatakan sama banyaknya. Kubu pertama berpendapat bahwa isu tersebut bukan cerita bohong, melainkan fakta. Sementara kubu kedua berpendapat sebaliknya. Namun belakangan ketika muncul pemberitaan dari stasiun televisi swasta mengenai teror Pocong Ireng di kampung sebelah, banyak dari kubu kedua yang beralih pandangan bahwa teror Pocong Ireng bukan isapan jempol belaka.
“Berita seperti itu saja diberitakan,” kata bapak yang duduk di depan televisi, lalu beranjak mengambil remote dan mengganti saluran. “Di berita tersebut cuma wawancara dari dua orang. Itu pun yang diwawancarai tidak melihat penampakan Pocong Ireng, melainkan menceritakan ulang cerita orang lain.”
Rumor Pocong Ireng di kampungku kian berembus kuat ketika pedagang cilok bernama Man Dahor mengaku melihat penampakan Pocong Ireng melintas di jembatan penghubung kampungku dengan kampung sebelah. Aku mencoba mengkonfirmasi kebenaran cerita itu ke orangnya langsung.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Sumpah, aku tidak bohong,” katanya sambil mengembalikan uang kembalian lima ribu rupiah kepadaku, “Kejadiannya dua hari lalu, menjelang Maghrib. Saat itu aku baru selesai menjajakan dagangan dari kampung sebelah. Karena hujan, aku berteduh di teras rumah dekat jembatan. Lalu, dari kejauhan muncul Pocong Ireng yang menyeberangi jembatan. Sontak aku langsung lari menerabas hujan sambil mendorong gerobak.”
“Kalau Mas Nadrick tidak percaya, terserah,” lanjutnya.
“Sepertinya Pocong Ireng itu mengikuti sampean Man Dahor, soalnya sampean habis berkeliling di kampung sebelah,” timpal Rudi yang ternyata sedari tadi berada di belakangku. “Aku beli cilok dua ribu,” imbuhnya sambil menyerahkan uang koin pecahan dua ratus rupiah.
“Kebiasaan kamu, Rud. Kalau beli, uangnya pasti receh,” kata Man Dahor sambil menerima uang itu dan memasukkannya ke laci gerobak. Rudi tersenyum sambil tangan kirinya menggaruk-garuk rambut kepala. “Kan yang penting bayar, tidak utang.”
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Sejak kejadian dua hari lalu, aku tidak berani berjualan ke kampung sebelah. Sekarang, habis atau tidak cilokku, jam lima sore aku harus sudah di rumah. Ini aku mau pulang sekarang,” ucapnya sambil menuangkan saus ke plastik berisi cilok.
“Man, sausnya banyakin! Sekalian tambahin ciloknya. Bonus pelanggan tetap,” pinta Rudi.
“Iya, iya.”
“Suwun Man Dahor. Aku doakan semoga nanti malam, Pocong Ireng tidak mengetuk pintu rumah sampean.”
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Sepeninggal Man Dahor, aku menanyakan kepada Rudi apakah ia percaya pada rumor Pocong Ireng yang beredar. Ia menjawab bahwa dirinya percaya.
“Jin memang ada. Guru ngaji kita pernah menerangkan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia semata-mata agar mereka tunduk dalam beribadah kepada-Nya. Sama seperti manusia, jin ada yang baik dan ada pula yang jahat,” jelasnya.
Kemudian, ia balik bertanya kepadaku dengan pertanyaan serupa. Aku menjawab bahwa aku sependapat dengan penjelasannya. Namun, soal rumor bahwa Pocong Ireng bisa membunuh manusia, aku tidak percaya.
“Kalau itu sih aku juga tidak percaya," ungkapnya.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
Jadi, konon Pocong Ireng adalah makhluk pesugihan. Perbedaannya dengan Pocong biasa terletak pada kain yang digunakan. Pocong biasa menggunakan kain mori putih, sementara Pocong Ireng mengenakan kain hitam. Ia ditugaskan oleh majikannya untuk mencari tumbal. Pada malam hari, Pocong Ireng berkeliling dari satu teras rumah ke teras rumah lainnya untuk mencari sandal atau pakaian yang diletakkan di luar rumah. Barang-barang tersebut kemudian dijilatinya. Keesokan harinya, orang yang menyentuh barang yang telah dijilati itu akan jatuh sakit, bahkan jika tidak segera disuwuk bisa meninggal dunia.
Sesampainya di halaman rumah, aku melihat adik bungsuku dan keponakanku yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar sedang memungut satu per satu sandal di teras rumah, lalu memasukannya ke dalam rumah. Melihat kedatanganku, mereka langsung memintaku membawa sandalku ke dalam.
Kemudian, mereka berlari ke dapur dan aku mengikutinya. Mereka membuka pintu belakang. Keponakanku membawa masuk sandal selop yang biasa bapak gunakan ke masjid dan sepatu bot yang biasa ia pakai ke sawah. Sementara itu, adik bungsuku membawa masuk pakaian yang biasa dipakai ibu dan kedua kakakku ketika menyiangi padi.
Bapak yang hendak mengambil wudu melihat apa yang dilakukan oleh anak bungsu dan cucu pertamanya. Ia menanyakan mengapa sandal hingga pakaian dimasukkan ke dalam rumah. Dengan kompak, mereka berdua menjawab bahwa hal itu berkaitan dengan Pocong Ireng. Bapak lantas meletakkan kembali sandal selop, sepatu bot, dan pakaian ke tempatnya semula. Kemudian, ia memintaku agar sandal yang berada di ruang tamu diletakkan kembali di teras rumah.
Aku berjalan menuju ruang tamu, Uma dan Kali mengikutiku. Di ruang tamu, mereka mencegahku mengembalikan sandal-sandal ke teras rumah. Aku tidak tega pada rengekan mereka, maka aku menuruti permintaan itu.
“Sandal selop, sepatu bot, dan pakaian di belakang bagaimana?” tanya Kali berbisik kepada Uma.
“Nanti kita masukkan lagi ke dalam, menunggu bapak pergi ke masjid.”
“Kalau sepulang kakek dari masjid dimarahi bagaimana?”
“Tidak mungkin dimarahi. Aku kan anak kesayangan, dan kamu cucu kesayangan.”
Adik bungsuku, Uma, menjelaskan kepadaku bahwa teman-temannya juga melakukan hal serupa. Ia menyebut nama temannya, Fitri, yang bahkan memasukkan lincak bambu milik ibunya—yang biasa digunakan untuk menjajakan sayuran—ke dalam rumah. Berbeda dengan Fitri, Uma mengatakan bahwa temannya yang lain, bernama Arin, sampai menaruh kaligrafi di pintu rumah.
“Kalau temanku, Hudi, karena lincaknya besar dan sulit dibawa bolak-balik masuk ke luar rumah, maka pada malam hari ia menaruh buku Surat Yasin di atasnya,” imbuh Uma.
Bapak memang tidak memarahi mereka. Namun, ketika mereka terlelap dalam hangatnya kasur, bapak memintaku menaruh kembali sandal, sepatu bot, dan pakaian ke tempat semula. Pagi harinya, saat mengetahui bahwa barang-barang itu semalaman berada di luar rumah, Uma dan Kali melarang siapa pun mengenakannya, disertai tangis bahwa seisi rumah dilarang menggunakan barang-barang tersebut. Barulah ketika bapak, ibu, dan kedua kakakku membuktikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan mengenakan barang-barang itu, tangis mereka reda.
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
Gara-gara itu, Uma dan Kali sempat meragukan cerita tentang Pocong Ireng. Namun, sepulang dari sekolah, keraguan itu kembali hilang. Penyebabnya, ketika mereka menceritakan peristiwa tersebut kepada teman-temannya, teman-teman mereka mengatakan bahwa Pocong Ireng tidak sempat singgah di rumah Uma dan Kali karena keburu Subuh.
Rumor Pocong Ireng berdampak pada sepinya kampungku pada malam hari. Warga tak lagi menjaga peternakan kambing di pinggiran desa, begitu pula tempat-tempat penggilingan padi di kampungku yang jumlahnya ada tiga. Beberapa waktu kemudian, ketiga penggilingan padi itu kehilangan banyak beras; masing-masing kehilangan dua puluh ton.
Bersamaan dengan pencurian beras tersebut, kambing milik Man Lihun ditemukan mati sebanyak dua puluh ekor. Yang tersisa dari kambing-kambing itu hanyalah kulit dan jeroannya; dengan kata lain, dagingnya hilang.
“Aku sudah menduga bahwa Pocong Ireng hanyalah desas-desus yang disebarkan oleh komplotan pencuri,” ucap bapak.
Setelah kejadian itu, rumor Pocong Ireng benar-benar menghilang dari kampungku. Meskipun begitu, masih ada saja warga kampungku yang percaya bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh Pocong Ireng.
Sementara itu, menjelang Subuh pada malam kejadian, Man Dahor membawa kedua anak dan istrinya keluar rumah dengan tergesa-gesa entah ke mana. Hal itu diungkapkan oleh Man Sabur, tetangganya. Kini, rumahnya kosong melompong dan menjadi sarang demit.
Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis yang Kelima (2024). Buku terbarunya kumpulan puisi berjudul Kumpulan Orang Kalah (2026).