Dua Musim Terlewati, Ratusan Petani Pidie Jaya Gagal Tanam, Sawah Tertimbun Lumpur Pascabanjir
Rabu, 8 Juli 2026 | 08:00 WIB
Hamparan sawah di Pidie Jaya Aceh mengering. Sejak banjir bandang November 2025, lahan ini tak bisa ditanami (Foto: Helmi Abu Bakar)
Pidie Jaya, NU Online
Ratusan petani di Kemukiman Kuta Simpang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, hingga kini belum dapat kembali menanam padi setelah sawah mereka tertimbun lumpur akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
Akibatnya, masyarakat terpaksa melewati dua musim tanam tanpa menghasilkan panen, sehingga beban ekonomi keluarga petani semakin berat.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah gampong di Kemukiman Kuta Simpang, meliputi Meunasah Jurong, Beuringen, Pante Beureune, Buangan, dan Lueng Bimba. Hamparan sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat berubah menjadi lahan tidak produktif karena tertutup endapan lumpur dengan ketebalan yang bervariasi. Hingga kini, sebagian besar lahan belum dapat diolah kembali.
Tokoh agama Jalakeh yang juga Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pidie Jaya, Tgk Yusri Gade, yang merupakan warga Kecamatan Meurah Dua, mengatakan dirinya turut merasakan langsung dampak bencana tersebut. Selain sebagai tokoh masyarakat, ia juga memiliki lahan persawahan yang sampai sekarang belum dapat ditanami karena masih tertimbun lumpur.
"Saya juga memiliki sawah di kawasan terdampak. Sampai hari ini belum bisa ditanami karena endapan lumpur masih cukup tebal. Artinya, apa yang dirasakan para petani juga kami rasakan. Karena itu, kami berharap pemerintah dapat segera mempercepat rehabilitasi lahan agar masyarakat bisa kembali bertani," ujarnya kepada NU Online, Selasa (7/7/2026).
Sosok yang akrab disapa Abiya Yusri itu menilai persoalan yang dihadapi petani bukan sekadar hilangnya hasil panen, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga, ketahanan pangan, dan kehidupan sosial masyarakat pedesaan yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
"Petani adalah penyangga pangan daerah. Jika sawah terus terbengkalai, dampaknya akan semakin luas. Karena itu, percepatan pemulihan lahan harus menjadi perhatian bersama," katanya.
Abiya Yusri berharap seluruh elemen, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat, dapat bersinergi mempercepat pemulihan sektor pertanian. Menurutnya, mengembalikan sawah agar kembali produktif bukan hanya memulihkan lahan yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali harapan ratusan keluarga petani di Meurah Dua dan wilayah terdampak lainnya.
Senada dengan itu, Ketua PCNU Kabupaten Pidie Jaya, Abati Ikhwani, berharap pemerintah mempercepat rehabilitasi lahan pertanian sehingga petani tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali mengolah sawah mereka. Ia juga mendukung pengembangan tanaman palawija sebagai solusi sementara agar masyarakat tetap memperoleh penghasilan sambil menunggu proses normalisasi lahan.
Salah seorang petani, Abdullah, mengaku sejak banjir bandang melanda dirinya bersama petani lainnya belum dapat menanam padi karena sawah masih tertutup lumpur.
"Selama ini kami hidup dari hasil panen sawah. Sekarang sudah dua musim tanam kami tidak bisa menanam karena sawah masih tertimbun lumpur kiriman banjir bandang," katanya.
Menurut Abdullah, setiap hektare sawah di kawasan tersebut biasanya mampu menghasilkan sekitar delapan ton gabah setiap musim panen. Dengan luas lahan produktif yang diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare, kerugian ekonomi yang dialami masyarakat menjadi sangat besar. Banyak petani kini terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca Juga
Doa Petani saat Awal Menanam Padi
Keluhan serupa disampaikan Armia. Ia berharap pemerintah segera membersihkan endapan lumpur agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan normal dan masyarakat tidak kehilangan musim tanam berikutnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Pidie Jaya, M Nur, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengusulkan program rehabilitasi lahan sawah terdampak banjir kepada pemerintah pusat. Program tersebut mencakup pembersihan lahan yang tertimbun lumpur dan direncanakan mulai direalisasikan pada 2027.
Sebagai solusi jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh akan memfasilitasi bantuan pengolahan lahan serta benih tanaman palawija agar petani tetap memiliki sumber penghasilan sambil menunggu proses rehabilitasi sawah selesai. Para petani berharap berbagai upaya tersebut dapat segera direalisasikan sehingga hamparan sawah yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat kembali menghijau dan produktif..