Ramadhan dalam Kondisi Darurat, 12.144 Warga Aceh Butuh Percepatan Bantuan Logistik
Senin, 23 Februari 2026 | 17:30 WIB
Jakarta, NU Online
Sebanyak 12.144 warga Aceh menjalani Ramadhan 1447 H dalam kondisi darurat. Mereka hingga kini masih bertahan di tenda pengungsian pascabencana akhir tahun lalu.
Di tengah bulan suci, warga Aceh menjalankan ibadah puasa dalam keterbatasan, sembari menanti percepatan bantuan logistik dan kepastian hunian tetap.
Berdasarkan data pemerintah, Aceh tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pengungsi terbanyak dibandingkan wilayah lain yang terdampak bencana pada periode yang sama.
Ketua LAZISNU PCNU Aceh Tengah Musliadi Rishna mengakui kondisi pengungsian belum sepenuhnya layak dan nyaman, terlebih di bulan Ramadhan.
“Tentu dalam bulan Ramadhan tinggal di pengungsian atau di huntara tidak senyaman di rumah sendiri. Dan diawal Ramadhan ini kondisi warga membutuhkan bantuan logistik dari berbagai pihak,” ujarnya kepada NU Online, Ahad (22/2/2026).
Ia menuturkan, kebutuhan dasar para penyintas hingga kini belum terpenuhi secara maksimal. Banyak warga kehilangan sumber penghidupan setelah kebun yang menjadi andalan ekonomi keluarga tertimbun longsor dan banjir bandang.
“Saya kira kebutuhan makanan, logistik belum maksimal terpenuhi, banyak warga terdampak bencana kehilangan pekerjaan, dulunya kebun merupakan andalan pendapatan keluarga kini hilang tertimbun longsor dan banjir bandang,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka. Selain bahan makanan dan air bersih, kebutuhan pakaian, alat tulis sekolah, serta perlengkapan ibadah juga menjadi persoalan mendesak, terutama menjelang Idul Fitri dan tahun ajaran baru.
“Kendala yg harus menjadi perhatian kita adalah bahan makanan, pakaian, alat tulis sekolah, dan peralatan ibadah. Ditambah lagi dengan suasana menghadapi Hari Raya Idul Fitri, belum lagi dengan kebutuhan menjelang tahun ajaran baru bagi anak-anak sekolah. NU Peduli di Aceh Tengah rencananya mengadakan Santunan Anak Yatim,” ujar Musliadi.
Menurutnya, para penyintas kini sedang berupaya memulai kembali kehidupan dari awal. Karena itu, ia mendorong kehadiran pemerintah agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan terarah.
“Masyarakat kita menata dan memulai kehidupan baru dari titik nol, di sinilah butuh perhatian kita semua, terutama pemerintah untuk hadir agar warga terdampak mampu bangkit dan pulih kembali,” sambungnya.
Ia juga berharap percepatan penyediaan hunian tetap dan pemulihan lapangan pekerjaan dapat segera direalisasikan.
“Warga terdampak memiliki hunian tetap dan kembali mendapatkan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya menyampaikan bahwa di Sumatera Utara masih terdapat 850 warga yang tinggal di tenda, khususnya di wilayah Tapanuli Tengah. Adapun di Sumatera Barat, seluruh pengungsi dilaporkan telah meninggalkan tenda.
“Di Sumatra Barat, sudah tidak ada lagi yang di tenda,” ujar Tito di Jakarta, Rabu (18/2/2026).