Refleksi Hari Santri, IPNU-IPPNU Makassar Tekankan Pentingnya Merawat Tradisi Keilmuan
Rabu, 21 Oktober 2026 | 14:30 WIB
Makassar, NU Online
Merawat warisan keilmuan ulama sekaligus menjawab tantangan kehidupan modern menjadi tanggung jawab penting generasi santri. Tradisi keilmuan pesantren tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dihidupkan melalui budaya membaca, diskusi, dan keberanian merespons persoalan zaman.
Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Makassar, Amiruddin Almuqtadir, mengatakan bahwa merawat tradisi dan membangun peradaban merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Menurutnya, penghormatan kepada ulama perlu disertai upaya melanjutkan semangat keilmuan yang telah mereka wariskan.
“Merawat tradisi dan menjemput peradaban adalah dua langkah yang berjalan beriringan. Ziarah mengajak kita pulang ke akar, mengenang ulama dan menghidupkan kembali keilmuan yang mereka wariskan. Diskusi mengajak kita melangkah ke depan, membaca tantangan zaman modern dengan jernih, lalu menegaskan peran santri, IPNU, dan IPPNU dalam menjawabnya,” ungkap Amiruddin dalam refleksi Hari Santri yang diinisiasi IPNU-IPPNU Makassar, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, tantangan kehidupan modern menuntut kader pelajar NU untuk tidak berhenti pada penghormatan simbolis terhadap para ulama. Kader perlu memperluas wawasan, membangun kemampuan berpikir kritis, dan menjadikan pengetahuan sebagai bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Persoalan santri, pesantren, dan kiai juga perlu dibaca dalam konteks perubahan sosial yang terus berlangsung. Tradisi pesantren memiliki warisan nilai dan keilmuan yang penting, tetapi keberlanjutannya membutuhkan generasi yang mampu memahami persoalan kontemporer tanpa kehilangan pijakan keagamaan.
Sementara itu, Ketua PC IPPNU Makassar Clara Nur Azizah, menegaskan bahwa kader IPNU dan IPPNU memiliki tanggung jawab menjaga warisan ulama sekaligus memastikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah tetap relevan dalam kehidupan generasi muda.
“Ziarah mengajarkan kita untuk kembali mengenang jejak perjuangan para ulama, sementara refleksi dan diskusi buku menjadi ruang untuk menggali makna tradisi, keilmuan, dan peradaban. Sebagai kader IPNU-IPPNU, kita memiliki tanggung jawab untuk merawat warisan ulama, memperluas wawasan, serta membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” tuturnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan dalam refleksi Hari Santri yang dirangkai dengan ziarah ke makam Datuk Ri Bandang, Gurutta KH. Muhammad Nur, dan Gurutta KH. Muhammad Haritsah A.S. Di makam Gurutta KH. Muhammad Haritsah A.S., kegiatan dilanjutkan dengan diskusi buku mengenai santri, pesantren, dan kiai dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
Baca Juga
Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari
Rangkaian tersebut menempatkan ziarah sebagai sarana mengenang jejak perjuangan ulama, sedangkan diskusi menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran dan memperdalam pemahaman terhadap persoalan zaman.
Bagi kader IPNU-IPPNU, refleksi Hari Santri pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga membangun tanggung jawab intelektual dan sosial. Merawat tradisi berarti menjaga kesinambungan nilai dan ilmu, sementara menjemput peradaban berarti menghadirkan warisan tersebut dalam jawaban atas kebutuhan masyarakat hari ini.