Seminar Lintas Agama di UIN Ar-Raniry Aceh Bahas Solidaritas Kemanusiaan Hadapi Bencana Alam
Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:00 WIB
Ketua LP Maarif PCNU Aceh Besar, Tgk Mawardi (memegang mikropon) saat Seminar Lintas Agama, Kamis (22/10/2026) (istimewa)
Banda Aceh, NU Online
Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PCNU Aceh Besar Tgk Mawardi menegaskan bahwa perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang dalam membangun solidaritas kemanusiaan, terutama saat menghadapi bencana.
Hal itu disampaikan Mawardi saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Lintas Agama bertema Berbeda Keyakinan, Bersama dalam Kemanusiaan: Kolaborasi Lintas Umat Beragama dalam Membangun Ketangguhan Menghadapi Bencana di Gedung LPPM UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (22/10/2026).
Mawardi mengatakan, keselamatan jiwa dan kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas bersama tanpa membedakan agama, suku, maupun kebangsaan.
Menurutnya, pengalaman tsunami Aceh pada 2004 menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan mampu melampaui sekat perbedaan. Saat bencana melanda, masyarakat dari berbagai negara datang memberikan bantuan kepada para korban tanpa mempersoalkan latar belakang keyakinan mereka.
“Manusia tidak dapat menghadapi bencana sendirian. Kerja sama, kepedulian, dan kesediaan membantu sesama menjadi kekuatan utama dalam penanganan maupun pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Sebagai Instruktur Nasional Moderasi Beragama, Mawardi menjelaskan tiga konsep persaudaraan dalam Islam yang relevan untuk memperkuat solidaritas, yakni ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan, serta ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia.
Ia menilai, ukhuwah insaniyah menjadi landasan penting dalam penanggulangan bencana karena setiap orang berhak memperoleh pertolongan tanpa diskriminasi.
Mawardi menambahkan, moderasi beragama tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Lembaga pendidikan, menurutnya, juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai persaudaraan, toleransi, dan kepedulian sosial kepada generasi muda.
Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh Besar itu menekankan bahwa kerukunan tidak hanya ditandai dengan kehidupan yang damai, tetapi juga kesediaan bekerja sama menghadapi persoalan sosial, termasuk bencana alam.
Ia berharap perguruan tinggi terus menjadi ruang dialog lintas agama sekaligus mendorong mahasiswa terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Fijal Andika mengatakan, seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama (HIMASAA) UIN Ar-Raniry tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Tgk Mawardi dari perspektif Islam, Samarel Telaumbanua dari perspektif Protestan, dan Radha Krisna dari perspektif Hindu.
Menurut Fijal, kegiatan tersebut menjadi ruang dialog akademik untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya kolaborasi lintas agama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Seminar yang dimulai pukul 09.00 WIB itu juga dimeriahkan pertunjukan seni dari Sanggar Keulabe Puteh.