IGIC 2026 Resmi Dibuka, Dorong Peran Imam sebagai Duta Perdamaian Dunia
Sabtu, 26 September 2026 | 10:00 WIB
Pembukaan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Sabtu (26/9/2026) di Hotel Bidakara, Jakarta (NU Online/Haekal Attar)
Jakarta, NU Online
Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) Nasaruddin Umar resmi membuka International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 dengan tema Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan kehadiran imam memiliki peran penting sebagai ambasador perdamaian sekaligus penghubung antara kemauan Tuhan dan kehendak manusia.
"Kehadiran imam sebagai moderator antara kemauan Tuhan dengan kehendak manusia. Mari kita jadikan masjid sebagai meeting point, tempat perjumpaan antara hamba dan Tuhan," katanya dalam sambutan.
Menurut Nasaruddin, posisi imam sangat strategis karena memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan umat. Dalam sehari semalam, para imam dapat berjumpa dengan umat hingga lima kali melalui pelaksanaan ibadah berjamaah.
"Para imam akan berjumpa dengan umat, bahkan melampaui pemerintah atau pimpinan ormas yang lain dalam berjumpa dengan umat," katanya.
Baca Juga
Peran NU untuk Perdamaian Dunia
Ia menegaskan posisi imam di hadapan para makmum memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing umat. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab imam dalam menghadirkan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.
Sementara itu, Head of Steering Committee IGIC 2026, Muhammad Sabilul Alif, mengatakan konferensi tersebut merupakan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan para pemimpin agama dan berbagai tokoh dunia dalam satu forum persaudaraan dan perdamaian.
Ia menyampaikan, hingga pelaksanaan konferensi tersebut, telah terkonfirmasi sebanyak 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para grand imam, grand mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia. Selain itu, sekitar 350 peserta dari dalam negeri juga turut hadir.
"Bagi kami, jumlah tersebut bukan sekadar angka. Kehadiran mereka merupakan simbol bahwa dunia menaruh harapan besar pada dialog persaudaraan dan kekuatan agama dalam membangun perdamaian," katanya.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal IGIC 2026 dirancang bukan hanya sebagai forum konferensi, tetapi juga sebagai gerakan pemikiran dan moral yang mendorong agama menjadi kekuatan yang mempersatukan, mendamaikan, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan dunia.
"Di sinilah kami memandang masjid memiliki posisi yang sangat strategis. Masjid bukan hanya tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan, pusat pemberdayaan umat, pusat kemanusiaan, sekaligus ruang membangun persaudaraan dan harmoni," terangnya.
Sebelum pelaksanaan konferensi utama di Jakarta, rangkaian kegiatan IGIC 2026 melalui program Roadmap Journey to the Conference telah berlangsung di sejumlah daerah.
Rangkaian tersebut dimulai pada Juni 2026 di Masjid Al Markaz, Sulawesi Selatan, kemudian dilanjutkan pada Juli 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, Banten. Selanjutnya, kegiatan digelar pada Agustus 2026 di Masjid Al Akbar, Jawa Timur, dan Masjid Al Pusdai, Jawa Barat, serta pada September 2026 di Masjid Raya Mujahidin, Kalimantan Barat.
Puncak rangkaian IGIC 2026 berlangsung di Jakarta pada September 2026 dengan agenda konferensi yang digelar di Masjid Istiqlal, Hotel Bidakara, dan Hotel Grand Sahid Jaya.