Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Jakarta, NU Online
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva kembali terpilih setelah mengungguli Flavio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro, dalam pemilihan presiden putaran kedua pada Ahad, 25 Oktober 2026.
Kemenangan ini mengantarkan Lula, 80 tahun, mencatat sejarah sebagai presiden Brasil pertama yang memperoleh empat mandat. Ia sebelumnya memimpin negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin itu pada periode 2003–2006, 2007–2010, dan sejak 2023. Masa jabatan berikutnya dijadwalkan dimulai pada Januari 2027.
Mengutip kantor berita Dewan Perwakilan Rakyat Brasil, Lula memperoleh 51,79 persen suara sah, sedangkan Flavio meraih 48,21 persen. Lula memperoleh 64.256.232 suara, melampaaui rekor sebelumnya yang ia buat sendiri pada tahun 2022 melawan Jair Bolsonaro, Ayah Flavio. Keunggulan tahun ini melebihi 4,4 juta suara, melampaui 2,1 juta suara dari pemilihan sebelumnya.
Hasil pemilu tersebut juga menjadi catatan tersendiri dalam sejarah pemilihan presiden Brasil. Lula berhasil membalikkan keadaan setelah berada di posisi kedua pada putaran pertama, ketika Flavio unggul dengan perolehan suara 47,03 persen, sementara Lula mengantongi 45,16 persen.
Tingkat kehadiran pemilih yang melampaui perkiraan diduga turut berkontribusi terhadap kemenangan Lula. Melansir Al Jazeera, Andrei Roman, pimpinan lembaga survei AtlasIntel, menilai berkurangnya jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya menjadi salah satu faktor yang menguntungkan presiden petahana tersebut.
Pada putaran pertama yang berlangsung 4 Oktober, sekitar 33,4 juta warga Brasil tercatat tidak memberikan suara. Angka itu mencapai sekitar 21 persen dari total pemilih, sekaligus menjadi tingkat abstain tertinggi dalam pemilihan umum Brasil sejak 1998. Padahal, pemungutan suara diwajibkan bagi sebagian besar warga dewasa di negara tersebut.
Besarnya pengaruh kelompok pemilih yang sebelumnya absen menjadi salah satu aspek penting dalam menjelaskan perubahan hasil pada putaran kedua. Dengan selisih lebih dari 2,2 juta suara antara kedua kandidat pada putaran pertama, perubahan partisipasi dalam jumlah relatif kecil sekalipun berpotensi memengaruhi hasil akhir. Data kehadiran pemilih di wilayah yang menjadi basis masing-masing kandidat dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai keberhasilan Lula membalikkan keunggulan lawannya.
Menjelang pemungutan suara, Lula juga meningkatkan upaya untuk menggalang dukungan, terutama dari kalangan pekerja. Salah satu tawaran kampanyenya adalah memperjuangkan layanan transportasi umum tanpa biaya pada akhir pekan.
Baca Juga
Brasil: Dunia Harus Rangkul Iran
Kemenangan Lula berlangsung ketika sejumlah negara Amerika Latin mengalami penguatan politik sayap kanan. Di tengah perkembangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya memperluas pengaruh Washington di kawasan.
Keluarga Bolsonaro selama ini dikenal dekat dengan Trump. Reuters melaporkan bahwa sejumlah pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendorong penerapan sanksi terhadap Brasil. Langkah itu disebut sebagai bagian dari tekanan untuk melemahkan pemerintahan Lula sekaligus membuka peluang bagi keluarga Bolsonaro kembali berkuasa.
Berbeda dengan Bolsonaro yang menjanjikan penguatan hubungan dengan Washington, Lula menjadikan perlindungan kedaulatan Brasil dan penolakan terhadap intervensi asing sebagai pesan utama kampanyenya.
Lula berulang kali mengkritik kebijakan tarif Trump yang agresif serta komentar terbuka presiden Amerika Serikat tersebut mengenai proses persidangan Jair Bolsonaro. Ia memandang tindakan-tindakan itu sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri Brasil.