AI Teaching Power Hadirkan Praktik Baik Transformasi Pendidikan Melalui Teacher & School of the Batch
Jumat, 3 Juli 2026 | 11:00 WIB
AI Teaching Power menetapkan Teacher of the Batch dan School of the Batch pada setiap gelombang pelatihan. (Foto: dok NU Care Global - Microsoft)
Jakarta, NU Online
Transformasi pendidikan tidak terjadi semata-mata karena hadirnya teknologi, melainkan karena adanya pendidik dan institusi yang berani beradaptasi dan berinovasi. Melalui program AI Teaching Power, yang diinisiasi Microsoft Elevate dan dilaksanakan bersama NUCare Global by LAZISNU, ribuan guru, madrasah, dan pesantren membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran tanpa menggeser peran guru maupun nilai-nilai pendidikan.
Sebagai bentuk apresiasi atas praktik baik tersebut, AI Teaching Power menetapkan Teacher of the Batch dan School of the Batch pada setiap gelombang pelatihan. Penghargaan ini diberikan kepada individu dan institusi yang tidak hanya aktif mengikuti program, tetapi juga berhasil mengimplementasikan AI secara kontekstual, etis, dan berdampak di lingkungan masing-masing.
Pada Batch 4, praktik transformasi terlihat di MAN Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, yang berhasil membangun budaya inovasi melalui pemanfaatan AI untuk menyusun perangkat pembelajaran, mengembangkan media ajar, serta meningkatkan efisiensi administrasi guru.
Semangat serupa ditunjukkan oleh Kepala MA Daarul Hikmah Luwuk, Febriancu Nasulili. Ia berhasil mengubah cara pandang lingkungan pesantrennya terhadap AI. Jika sebelumnya AI dipandang sebagai ancaman, kini teknologi tersebut dipahami sebagai alat bantu produktivitas yang mendukung kinerja guru dan tenaga kependidikan tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Pada Batch 5, praktik baik berlanjut di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza' Izza, Tangerang. Lembaga ini mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran sekaligus menanamkan literasi AI yang etis kepada peserta didik.
Guru Informatika dan Bahasa Inggris, Raden Nur Tsawaabit Faheim Yasin, menunjukkan bagaimana AI dapat membantu penyusunan perangkat pembelajaran, menjadi mitra diskusi dalam mengembangkan ide kreatif, hingga mendorong peserta didik menghasilkan proyek berbasis teknologi yang tetap berpijak pada nilai dan tanggung jawab.
Sementara itu, Batch 6 menghadirkan kisah inspiratif dari MTsS Umdatur Rasikhien yang menunjukkan bahwa transformasi digital tidak mengenal batas usia maupun generasi. Berkat kepemimpinan sekolah yang proaktif dalam pengembangan teknologi dan budaya belajar yang kolaboratif, para guru antusias mengeksplorasi Microsoft Copilot untuk mendukung proses pembelajaran.
Semangat tersebut tercermin pada sosok Pak Amin, seorang pendidik senior yang membuktikan bahwa menjadi pembelajar sepanjang hayat merupakan kunci menghadapi perkembangan zaman. Antusiasmenya mempelajari AI menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk terus belajar dan beradaptasi.
Meski berasal dari daerah, jenjang pendidikan, dan latar belakang yang beragam, seluruh penerima penghargaan Teacher of the Batch dan School of the Batch memiliki benang merah yang sama. Mereka memanfaatkan AI bukan untuk menggantikan guru, melainkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan produktivitas, serta membuka ruang inovasi yang tetap berlandaskan etika, nilai, dan peran manusia dalam pendidikan.
Melalui kisah-kisah tersebut, AI Teaching Power menunjukkan bahwa transformasi pendidikan berawal dari keberanian untuk belajar, beradaptasi, dan berbagi praktik baik. Ketika guru terus bertumbuh dan institusi membuka ruang bagi inovasi, teknologi tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan menjadi sarana untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak bagi generasi masa depan.