BMKG Prakirakan Hujan Berangsur Turun di Daerah Rawan Karhutla
Rabu, 23 September 2026 | 09:00 WIB
Konferensi Pers Prediksi Musim Hujan Tahun 2026/2027 digelar secara daring, Selasa (22/9/2026). (BMKG)
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan mulai turun secara berangsur pada September hingga Oktober 2026 di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Hujan yang mulai turun diharapkan membantu mengurangi asap dan menekan jumlah titik panas. Namun, upaya pemadaman tetap perlu dioptimalkan untuk mengantisipasi kebakaran dan asap yang masih berpotensi terjadi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, berdasarkan pemantauan, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan bagian utara bahkan telah mulai diguyur hujan.
“Untuk Kalimantan Barat bagian selatan dan Kalimantan Tengah bagian selatan, prediksi awal musim hujan secara persisten terjadi pada Oktober Dasarian II dan III. Namun, sebelum itu hujan sudah mulai masuk secara gradual,” katanya dalam Konferensi Pers Prediksi Musim Hujan Tahun 2026/2027 yang digelar secara daring pada Selasa (22/9/2026).
Ardhasena menyampaikan, hujan yang turun secara bertahap diharapkan dapat mengurangi kerapatan asap sekaligus membantu memadamkan titik panas yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah akan memasuki awal musim hujan pada Oktober. Hujan bahkan telah mulai turun lebih awal di Kalimantan Barat bagian utara.
Di Sumatra, kondisi serupa juga mulai terlihat. Ardhasena mengatakan, pada September hujan telah masuk ke wilayah Riau dan berpotensi membantu menurunkan jumlah titik panas. Sementara pada Oktober, hujan diprakirakan mulai masuk ke Jambi dan Sumatra Selatan.
Senada, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani mengatakan, potensi hujan di Sumatera bahkan mulai mengguyur sejumlah wilayah rawan karhutla sejak September.
“Wilayah Riau sudah mulai masuk musim hujan pada September sehingga membantu menurunkan jumlah hotspot. Sedangkan untuk wilayah di selatannya, seperti Jambi dan Sumatera Selatan, hujan mulai masuk pada Oktober,” ujarnya.
Meski hujan mulai datang, Andri menegaskan bahwa upaya pemadaman tidak boleh sepenuhnya bergantung pada presipitasi alami. Satuan tugas karhutla di daerah perlu tetap mengoptimalkan pembasahan lahan melalui operasi darat maupun udara, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Ia berharap pelaksanaan OMC dapat membantu memadamkan titik panas yang masih berpotensi menjadi sumber kebakaran dan asap.
“Hujan dari OMC ini tidak berbahaya karena yang digunakan adalah bahan yang food grade, jadi tidak ada sedikit pun efek samping. OMC ini juga berjalan secara substansial dengan memperhatikan kondisi atmosfer yang ada peluang untuk dikondisikan, itu yang dilakukan,” ucapnya.