Nasional

BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:00 WIB

BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober

Ilustrasi kekeringan. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda enam provinsi di Indonesia menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca yang masih relatif kering di sejumlah wilayah. Keenam provinsi tersebut adalah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

 

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani memprakirakan kondisi kering tersebut berlanjut pada 17–24 Oktober 2026, seiring rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.

 

Sebaliknya, peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen masih terdapat di beberapa wilayah, terutama Sumatra bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Kondisi ini mendukung potensi terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

 

Meski demikian, BMKG juga mewaspadai potensi hujan lebat di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Papua Pegunungan.

 

“Sementara pola angin pada lapisan atmosfer 925–500 hPa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5–34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi yang dimuat di laman BMKG pada Sabtu (17/10/2026).

 

Andri juga menyampaikan bahwa sebaran asap karhutla masih terpantau di sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Asap tersebut bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.

 

BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 16 Oktober 2026. Jumlah terbanyak terdeteksi di Sumatra Selatan, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur sebanyak 89 titik, Papua Selatan 63 titik, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.

 

Meski demikian, jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan dengan pemantauan pada 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik.

 

“Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai,” ujar Andri.

 

Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengimbau masyarakat untuk mewaspadai cuaca panas, udara kering, dan penurunan kualitas udara akibat asap karhutla. Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan tabir surya, serta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.

 

“Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan,” terangnya.