Harta Bukan Sekadar Milik Pribadi, Ada Tanggung Jawab Moral dan Spiritual di Dalamnya
Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:00 WIB
Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla mengisi pengajian Ramadhan Kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali ditayangkan Youtube Ghazalia College pada Jumat (27/2/2026).
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyampaikan bahwa harta bukan sekadar milik pribadi yang bebas digunakan tanpa batas. Setiap harta yang dimiliki manusia mengandung tanggung jawab moral dan spiritual.
Menurut Gus Ulil, Islam memandang harta sebagai amanah dari Allah swt yang harus dikelola secara benar. Karena itu, tanggung jawab manusia tidak hanya pada cara membelanjakan harta, tetapi juga pada proses memperolehnya.
“Dosa memperoleh harta secara haram sama dengan dosa membelanjakannya secara haram,” ujarnya dalam pengajian Ramadhan Kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali yang ditayangkan di kanal Youtube Ghazalia College pada Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa seorang Muslim harus berhati-hati pada dua sisi sekaligus, yakni sumber dan penggunaan harta.
“Harta yang diperoleh dengan cara tidak halal akan kehilangan keberkahannya, sementara harta yang digunakan secara tidak tepat juga berpotensi menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat,” ucapnya.
Gus Ulil menyampaikan bahwa pentingnya niat dalam setiap aktivitas ekonomi. Bekerja, berdagang, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mendukung ketaatan kepada Allah.
“Segala aktivitas duniawi bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk mendukung pengabdian kepada Allah,” jelasnya.
Ia juga menyinggung konsep zuhud yang sering disalahpahami. Menurutnya, zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, melainkan tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.
“Seseorang bisa memiliki seluruh harta dunia dan tetap dianggap zuhud jika tujuannya demi Allah swt,” katanya.
Untuk menggambarkan posisi harta dalam kehidupan, Gus Ulil mengibaratkannya seperti ular. “Harta itu seperti ular: bisa menjadi racun yang membinasakan, tetapi juga bisa menjadi obat jika dikelola dengan benar,” tuturnya.
Analogi tersebut, ia menegaskan bahwa harta bersifat netral, dampaknya sangat bergantung pada ilmu dan kesadaran pengelolanya.
“Intinya, harta itu netral. Harta bisa menjadi jalan keselamatan atau kebinasaan, tergantung niat, ilmu, dan cara mengelolanya,” ucapnya.
Gus Ulil menyinggung perdebatan klasik di kalangan ulama mengenai siapa yang lebih utama, kaya yang bersyukur atau miskin yang sabar.
“Sebagian ulama menilai kekayaan yang disertai rasa syukur lebih utama karena manfaatnya dapat dirasakan banyak orang. Sebagian lain berpandangan bahwa kefakiran lebih aman dari godaan dunia,” pungkasnya.