Nasional

Jejak Karier Prof Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031

Ahad, 4 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Jejak Karier Prof Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031

Prof Mohammad Nuh, Katib Aam PBNU 2026-2031 (NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan Prof Mohammad Nuh sebagai Katib Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Penetapan tersebut diumumkan dalam susunan kepengurusan PBNU di Jakarta, Rabu malam, 30 September 2026.

 

Mohammad Nuh lahir di Surabaya pada 17 Juni 1959. Ia merupakan arek Suroboyo yang tumbuh dalam lingkungan agamis. Ayahnya, KH Muchammad Nabhani, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Gununganyar, Surabaya.

 

Riwayat Pendidikan dan Karier Akademik

Mohammad Nuh menempuh pendidikan dasar di SD Al-Islah Surabaya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Wahid Hasyim I Surabaya dan SMA Negeri 9 Surabaya.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan meraih gelar sarjana Teknik Elektro pada 1983.

 

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Prancis. Pada 1987, Mohammad Nuh meraih gelar magister (S2), disusul gelar doktor (S3) pada 1990 di Université des Sciences et Techniques du Languedoc, Montpellier.

 

Sejak 1984, ia berkarier sebagai dosen Teknik Elektro-Biomedika di ITS Surabaya. Perjalanan kariernya di bidang pendidikan tinggi berlanjut ketika dipercaya menjadi Direktur Politeknik Elektronika Surabaya pada 1997-2003.

 

Pada 15 Februari 2003, Mohammad Nuh dikukuhkan sebagai Rektor ITS pada usia 42 tahun. Ia menjadi salah satu rektor termuda dalam sejarah perguruan tinggi tersebut dan mengemban jabatan itu hingga 2007.

 

Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Sistem Kontrol Digital dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika.

 

Karier di Pemerintahan dan Lembaga Nasional

Setelah berkiprah di lingkungan perguruan tinggi, Mohammad Nuh memasuki pemerintahan dengan menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada 2007-2009. Dalam posisi tersebut, ia turut berkontribusi dalam penataan frekuensi digital nasional.

 

Pada 2009-2014, ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Selama menjabat, ia menginisiasi Kurikulum 2013 (K-13) yang menekankan pembentukan karakter siswa serta meluncurkan program beasiswa Bidikmisi untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu mengakses pendidikan tinggi.

 

Di tingkat internasional, Mohammad Nuh menjadi anggota Dewan Eksekutif UNESCO pada 2012-2015.

 

Ia juga mengemban sejumlah jabatan di berbagai lembaga. Mohammad Nuh menjabat Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya sejak 2005 dan Komisaris Utama Bank Mega Syariah sejak 2015.

 

Di lingkungan perguruan tinggi, ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS pada periode 2016-2020 dan 2021-2026. Ia juga menjabat Ketua Badan Wakaf Indonesia pada periode 2017-2021 dan 2021-2024.

 

Pada 2019-2022, Mohammad Nuh terpilih sebagai Ketua Dewan Pers.

 

Selain itu, ia pernah menjabat Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) Surabaya yang menaungi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya.

 

Perjalanan di Nahdlatul Ulama

Perjalanan Mohammad Nuh di Nahdlatul Ulama (NU) dimulai melalui keterlibatannya sebagai pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya. Ia kemudian masuk jajaran Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada masa khidmah 2008-2013 sebelum menjadi Mustasyar.

 

Pada masa khidmah 2009-2014, pria yang akrab disapa M Nuh tersebut masuk jajaran PBNU sebagai A'wan. Selanjutnya, pada masa khidmah 2015-2019, ia dipercaya menjadi salah satu Ketua PBNU.

 

Pada masa khidmah 2021-2026, Mohammad Nuh menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU. Kini, ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Katib Aam PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.

 

Selain aktif dalam kepengurusan NU, Mohammad Nuh dikenal sebagai salah satu pengembang Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). Ia berperan dalam mengonsolidasikan dan mendorong pendirian berbagai universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di Indonesia.

 

Ia juga turut mendorong transformasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menjadi salah satu perguruan tinggi swasta milik NU yang berkembang pesat.

 

Deretan Penghargaan

Prof Mohammad Nuh menerima sejumlah penghargaan atas kiprahnya di bidang pendidikan, pemerintahan, pengembangan sumber daya manusia, serta hubungan internasional.

 

Pada 2003, ia menerima Special Awards dari Japan International Cooperation Agency (JICA) atas prestasinya dalam mengembangkan kerja sama pendidikan.

 

Pada 2006, ia memperoleh Highest Honor Award dari Soka University, Tokyo, Jepang, atas kontribusinya dalam memajukan pendidikan tinggi, kebudayaan internasional, nilai-nilai kemanusiaan, dan perdamaian. Pada 2008, ia kembali menerima Education and Culture Award dari universitas yang sama.

 

Pada 2010, Mohammad Nuh menerima Sepuluh Nopember Award sebagai penghargaan tertinggi dari ITS. Setahun kemudian, ia memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari University of Technology Malaysia serta penghargaan Ganesa Prajamanggala Bakti Adiutama dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Pada 2012, ia kembali menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Naresuan University, Thailand. Pada tahun yang sama, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Eksekutif UNESCO hingga 2015.

 

Pada 2013, Mohammad Nuh dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tersebut merupakan salah satu tanda kehormatan sipil tertinggi di Indonesia atas jasa dan kontribusinya bagi negara. Pada tahun yang sama, ia juga menerima Wing Penerbang Kehormatan Angkatan Udara dari TNI Angkatan Udara.

 

Pada 2016, ia menerima penghargaan The Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Pemerintah Jepang. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam mempererat hubungan Indonesia-Jepang, termasuk memperluas jejaring bilateral perguruan tinggi dan mendorong program pertukaran mahasiswa.

 

Pada tahun yang sama, ia memperoleh Anugerah Upakara Baghyaning Sasama dari Universitas Negeri Semarang.

 

Penghargaan lainnya meliputi Budai Award: Tokoh Peduli Pendidikan Kaum Dhuafa dari Universitas Islam Sultan Agung pada 2021, ESQ Award atas dedikasi dan kontribusinya bagi pembangunan karakter dan pendidikan di Indonesia pada 2023, serta penghargaan Cendekiawan Berdedikasi dari Harian Kompas pada 2024.

 

Berbagai jabatan dan penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Mohammad Nuh di bidang pendidikan, pemerintahan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kini, ia kembali mengemban amanah di lingkungan PBNU sebagai Katib Aam untuk masa khidmah 2026-2031.