Nasional

Korban Banjir dan Longsor Aceh–Sumatra Capai 1.204 Jiwa, BNPB Kebut Huntara

Kamis, 5 Februari 2026 | 15:30 WIB

Korban Banjir dan Longsor Aceh–Sumatra Capai 1.204 Jiwa, BNPB Kebut Huntara

Ilustrasi: rumah warga terdampak banjir bandang di Tapanuli, Sumatra Utara. (Foto: NU Online/Lukman)

Jakarta, NU Online

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengakselerasi penanganan dampak banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra. Selain fokus pada pencarian korban dan distribusi bantuan kemanusiaan, BNPB menggenjot pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak yang masih berada di pengungsian.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, hingga Selasa (3/2/2026), jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana di wilayah Sumatra mencapai 1.204 jiwa. Sementara itu, sebanyak 140 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan.


“Total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.204 jiwa, sementara korban hilang sebanyak 140 jiwa,” ujar Abdul dalam keterangan pers.


BNPB mencatat jumlah pengungsi secara bertahap mulai menurun. Namun hingga awal Februari 2026, sekitar 105.842 warga masih harus mengungsi karena tempat tinggal mereka belum layak huni. Secara keseluruhan, jumlah pengungsi bencana di wilayah Sumatra tercatat sebanyak 111.788 orang.


“Pemulihan kawasan permukiman terus ditingkatkan agar wilayah terdampak semakin kondusif untuk dihuni kembali,” kata Abdul.


Sebagai bagian dari upaya pemulihan, BNPB mempercepat pembangunan hunian sementara yang diproyeksikan sebagai solusi transisi sebelum masyarakat menempati hunian tetap. Pembangunan huntara ditargetkan rampung sebelum Ramadhan 1447 Hijriah agar para penyintas dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang dan layak.


Dari sisi logistik, BNPB melaporkan bahwa sejak 29 November 2025 hingga 27 Januari 2026 telah disalurkan sebanyak 1.767,07 ton bantuan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan pangan, perlengkapan dasar, obat-obatan, serta kebutuhan penunjang lainnya.


Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara, darat, dan laut dengan melibatkan 56 sorti pesawat carter BNPB, 68 sorti pesawat Hercules, 55 armada truk, serta tujuh kapal laut. Selain itu, BNPB mengoptimalkan dua pos logistik regional, yakni Pos Logistik Sumatra Barat dan Pos Logistik Aceh.


“Dari Pos Logistik Sumatra Barat, bantuan yang telah didistribusikan mencapai 2.321,18 ton, sementara dari Pos Logistik Aceh sebanyak 2.186,2 ton,” jelas Abdul.


BNPB juga mengoptimalkan skema Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk menopang kebutuhan dasar masyarakat selama masa transisi menuju hunian tetap. Hingga awal Februari 2026, sebanyak 18.938 rekening penerima DTH telah siap, dengan bantuan yang telah disalurkan kepada 9.360 kepala keluarga.


Menanggapi kondisi tersebut, Ketua PWNU Aceh Tgk H. Faisal Ali atau Abu Sibreh menegaskan pentingnya pemulihan pascabencana yang berorientasi pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.


“Korban yang begitu besar ini menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak boleh setengah-setengah. Negara dan seluruh elemen masyarakat harus hadir secara utuh, tidak hanya membangun fisik, tetapi juga memulihkan kehidupan dan martabat warga,” ujarnya.


Ia berharap sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat terus diperkuat agar proses pemulihan pascabencana berjalan cepat, transparan, dan berkelanjutan.