Meneladani Keberanian Abu Bakar, Gus Hilmy: Kunci Kesuksesan Berawal dari Kesabaran dan Tekad yang Kuat
Rabu, 25 Februari 2026 | 07:00 WIB
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hilmy Muhammad. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Krapyak Official)
Jakarta, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hilmy Muhammad menegaskan bahwa kunci kesuksesan seseorang berawal dari sifat syajaah atau keberanian sebagai fondasi karakter.
Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang memiliki sifat tersebut adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia memiliki keberanian melampaui anggapan umum. Hal itu Gus Hilmy, sapaan akrabnya, jelaskan dalam pengajian Ramadhan kitab Mabadi’ Khoiri Ummah yang tayang di kanal Youtube Krapyak Official pada Senin (23/2/2026).
Ia menceritakan peristiwa Perang Badar, pada saat kaum Muslimin membangun markas, Abu Bakar adalah orang pertama yang dengan sigap mengajukan diri untuk mendampingi Nabi Muhammad saw di titik paling berbahaya.
“Jika tidak dilandasi oleh sikap keberanian, tidak mungkin seseorang berani pasang badan di titik yang menjadi sasaran utama musuh,” ujarnya.
Gus Hilmy juga menyoroti ketegasan Abu Bakar yang lebih mementingkan aturan agama dan kebenaran di atas hubungan kekeluargaan sekalipun. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebuah integritas yang sangat relevan untuk diteladani oleh para pemimpin bangsa saat ini agar tidak terjebak dalam praktik keistimewaan keluarga yang merusak tatanan hukum.
“Sikap Abu Bakar ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak akan membiarkan aturan dikalahkan demi kepentingan pribadi atau keluarga,” tuturnya.
Pengasuh Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut juga menyampaikan bahwa keberanian bukanlah sifat instan yang muncul begitu saja, melainkan sesuatu yang harus diupayakan (an tukasaba), dilatih, dan dipraktikkan melalui situasi-situasi sulit.
“Keberanian ini bukan sesuatu yang instan, tetapi sesuatu yang harus dilatih, dipraktikkan, dan dibiasakan melalui pengalaman hidup,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Hilmy juga mengutip kisah pahlawan Antarah bin Syaddad, yang mendefinisikan keberanian sebagai kesabaran sesaat (sobru saatin).
Ia menggambarkan kisah Antarah bin Syaddad, seorang kesatria Arab yang memenangkan duel karena kemampuannya menahan rasa sakit lebih lama dibanding lawannya.
“Keberanian itu adalah sabar sebentar. Jika Anda mampu sabar sedikit saja saat menghadapi kesulitan, Anda akan menjadi pemenangnya,” tutur Gus Hilmy.
Ia menegaskan agar tidak tidak mudah menyerah atau mengeluh dalam menjalani kehidupan. Keberanian untuk menghadapi tantangan zaman harus dibarengi dengan tekad yang kuat dan inspirasi dari sejarah tokoh-tokoh besar agar karakter khoyru ummah atau umat terbaik dapat terwujud.
"Gunakan kesungguhan dan tekad untuk menghasilkan sesuatu yang jernih, jangan biarkan rasa malas menghalangi jalan menuju kesuksesan," pungkas Gus Hilmy.