Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj Ingatkan Pengurus Berpegang pada Khittah dan Cita-Cita Pendiri NU
Ahad, 25 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pelantikan kepengurusan PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, pada Sabtu (24/10/2026). (NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan jajaran pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 agar tetap berpegang pada khittah dan cita-cita para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjalankan amanah organisasi.
Pesan tersebut disampaikan setelah pelantikan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Baca Juga
Perjuangan NU Kembali ke Khittah 1926
Kiai Said berharap kepengurusan baru dapat membawa NU semakin maju dan berkembang serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
“Siang ini saya menghadiri pelantikan pengurus besar Nahdlatul Ulama periode 2026–2031 dengan harapan semoga ke depan semakin berkembang, semakin maju, semakin bermanfaat untuk umat Islam dan pada umumnya bangsa Indonesia,” ujarnya.
Kiai yang juga Ketua Umum PBNU masa khidmah 2010–2015 dan 2015–2021 itu juga berharap pengurus baru dapat melanjutkan cita-cita Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari melalui berbagai program yang mendukung kemajuan warga NU dan pesantren.
Baca Juga
Makna Khittah NU
“Bisa melanjutkan cita-cita Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, menunjang program-programnya demi kemajuan warga NU dan pesantren,” tuturnya.
Ditanya mengenai nasihat bagi 210 pengurus yang telah dilantik, Kiai Said menekankan pentingnya doa dan komitmen untuk menjaga semangat perjuangan para pendiri NU.
“Nasihat enggak ada, tapi yang penting doa. Semoga semuanya tidak pernah lupa dengan khittah, cita-cita semangat Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab, Kiai Bisri Syansuri, dan kiai-kiai yang lain,” ujarnya.
Baca Juga
Hikayat Khittah NU 1926
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menekankan pentingnya nilai-nilai dalam Qanun Asasi, seperti welas asih, persatuan, dan kasih sayang, sebagai landasan dalam menjalankan amanah organisasi.
Kiai Miftach meminta seluruh pengurus mengesampingkan kepentingan pribadi, terlebih NU kini memasuki abad kedua perjalanan organisasinya.
“Singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi. Apalagi ini mengawali abad kedua kepengurusan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Baca Juga
Majelis 24, Perumus Khittah NU 1926
Ia juga mengingatkan bahwa warga NU memiliki latar belakang ekonomi, politik, budaya, dan keilmuan yang beragam. Karena itu, pengurus perlu mengedepankan dakwah yang merangkul, bukan menjauhkan, agar masyarakat dapat terus dibimbing menuju kebaikan.
“Bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik itu kewajiban kita. Bagaimana cara kita berdakwah, merangkul tidak memukul karena itu contoh dari Rasulullah saw,” tutur Kiai Miftach.