Pemuda di Malang Gelar Aksi Hari Sumpah Pemuda, Sampaikan Enam Tuntutan dan Satu Seruan
Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:45 WIB
Pemuda di Malang gelar aksi dengan enam tuntutan dan satu seruan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok istimewa)
Malang, NU Online
Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi demonstrasi di kawasan Alun-Alun hingga Balai Kota Malang, Jawa Timur, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan enam tuntutan dan satu seruan kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aksi yang dimulai pukul 13.00 WIB itu berlangsung di tengah hujan. Sejumlah demonstran membawa poster berisi kritik terhadap berbagai persoalan sosial dan kebijakan pemerintah, di antaranya bertuliskan “Flores Belum Pulih dari Gempa”, “Hentikan Pembangunan Batalyon Militer”, dan “Bakar Kekuasaan Prabowo-Gibran, Padamkan Api Karhutla”.
Demonstrasi tersebut digerakkan berbagai elemen masyarakat dengan seruan “Bangun Persatuan Rakyat!”. Berdasarkan poster ajakan aksi yang diunggah akun Instagram @aliansirakyatbangkitbersatu, seruan tersebut ditujukan kepada pemuda, mahasiswa, pengemudi ojek online (ojol), pedagang, petani, nelayan, buruh, pelajar, sopir angkutan kota, hingga tukang becak.
Dalam keterangan unggahannya, penyelenggara mengajak masyarakat yang tidak puas dengan kondisi sosial dan ekonomi untuk berhimpun dan menyampaikan aspirasi melalui aksi bersama.
Enam Tuntutan dan Satu Seruan
Dalam demonstrasi tersebut, massa membawa enam tuntutan dan satu seruan yang ditujukan kepada pemerintah. Tuntutan itu mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, ketenagakerjaan, agraria, anggaran negara, serta reformasi militer dan penegakan hak asasi manusia (HAM).
Berikut enam tuntutan dan satu seruan yang disampaikan massa aksi:
1. Penetapan karhutla sebagai bencana nasional. Massa mendesak pemulihan bagi korban kebakaran hutan dan lahan, pencabutan izin, serta pemberian sanksi tegas kepada perusahaan yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran.
2. Stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok. Massa menuntut penurunan harga bahan pokok, pajak, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan, sekaligus jaminan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat.
3. Perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Massa mendesak penyediaan lapangan kerja yang layak dan berkualitas, kenaikan upah, serta penghapusan sistem kerja kontrak dan alih daya (outsourcing).
4. Keadilan agraria. Massa menuntut pemberian akses terhadap tanah, modal, dan teknologi bagi petani, nelayan, serta masyarakat miskin perkotaan.
5. Evaluasi anggaran dan kebijakan pemerintah. Massa menyerukan penghentian praktik yang mereka sebut sebagai penjarahan anggaran, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembubaran Koperasi Desa Merah Putih.
6. Reformasi militer dan penegakan HAM. Massa menuntut pengembalian militer ke barak, pengadilan terhadap pelanggar HAM berat, serta pembubaran Batalyon Pembangunan Yon TP.
Adapun satu seruan yang disampaikan ialah membangun komite perlawanan rakyat untuk menentang penindasan dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Donasi Warga Terkumpul Rp11 Juta
Di tengah pelaksanaan aksi, dukungan juga datang melalui penggalangan dana yang dilakukan kelompok Donatur Kolektif. Mengutip unggahan akun Instagram @malangraya_info, kelompok tersebut berhasil menghimpun dana sebesar Rp11 juta untuk mendukung kebutuhan logistik demonstrasi.
Penggalangan dana dilakukan melalui Instagram dan kode QRIS sejak Senin (26/10/2026). Inisiatif ini disebut sebagai bentuk partisipasi warga yang tidak dapat hadir langsung di lokasi aksi.
Perwakilan Donatur Kolektif, Azelia, mengatakan dana yang terkumpul hingga pukul 14.00 WIB berasal dari sumbangan masyarakat, dengan nominal mulai dari Rp5.000 hingga jutaan rupiah.
"Ini kali keempat kami turun memberikan dukungan logistik. Semuanya berasal dari donasi warga, bukan uang pribadi relawan," ujar Azelia.
Dari total dana tersebut, sebanyak Rp2 juta dialokasikan untuk membeli dagangan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi aksi. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian pedagang kecil yang beraktivitas di sekitar kawasan demonstrasi.
Aksi yang dipusatkan di sekitar Balai Kota dan Tugu Malang tersebut mendapat pengawalan aparat kepolisian. Setelah menyampaikan tuntutan, massa membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB.