Nasional

Pesantren Jauhkan Orang dari Pemahaman Islam secara Instan

Jumat, 15 Desember 2017 | 07:41 WIB

Pesantren Jauhkan Orang dari Pemahaman Islam secara Instan

Ilustrasi santri (foto: Romzi)

Jakarta, NU Online 
Intelektual Muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla menjelaskan dihadapan peserta Seminar Kebangsaan yang diselenggarakan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (14 /12) tentang di antara hal yang menyebabkan radikalisme merebak di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. 

Menurutnya, karena tradisi memahami Islam seperti yang dilakukan pesantren, yaitu secara sistematis, pendekatan yang beragam, dan dari berbagai sisi sudah menurun. 

Di lain sisi, banyak masyarakat di kota-kota besar yang dalam memahami Islam dengan cara instan atau loncat, yakni langsung kepada Al-Qur'an dan Hadits tanpa melalui seperangkat ilmu untuk memahaminya. 

"Ini mentalitas untuk mendapatkan hasil instan itu loh, ini menurut saya berbahaya," kata Ulil. 

Oleh karena itu, menurutnya, agar dapat memahami Islam secara sistematis, harus kembali ke pesantren sebagaimana Gerakan Nasional Ayo Mondok yang digerakkan Rabithah Ma'haid Islamiyah PBNU sejak 2015 silam. 

Menurutnya, gerakan Ayo Mondok dapat dimaknai secara lebih luas sebagai ajakan memahami Islam dengan cara yang  sistematis dan tidak langsung lompat ke Al-Qur'an dan Hadits. 

"Apalagi (belajar) terjemahan tok terus dia merasa tau segala hal. Apalagi mengkafir-kafirkan orang lain," katanya diikuti tawa hadirin. (Husni Sahal/Fathoni)


Terkait