Umumkan Pengurus 2026-2031, PBNU Tegaskan Solidaritas untuk Rakyat Palestina dan Anti-Zionisme
Kamis, 1 Oktober 2026 | 01:00 WIB
Pengurus PBNU masa khidmah 2021-2026 setelah penguman susunan kepengurusan di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (30/9/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Aqil Siroj mengingatkan jajaran pengurus PBNU 2026-2031 agar tidak melupakan persoalan Palestina. Ia menyebut genosida yang terjadi di Palestina sebagai salah satu persoalan yang harus menjadi perhatian dalam perjuangan NU.
“Yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana kita mempunyai hal yang mengerikan, adalah genosida dari kaum Zionis Israel,” tegas Kiai Musthofa Aqil, Rabu (30/9/2026) saat pengumuman pengurus PBNU 2026-2031.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya konsistensi NU yang anti-Zionisme dan terus mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kedaulatan.
“Oleh karena itu, tidak boleh sekecil apa pun kita lupa pada perjuangan untuk kedaulatan rakyat Palestina,” kata Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat itu.
Ia kemudian mengajak seluruh jajaran pengurus, baik dari unsur Syuriyah maupun Tanfidziyah, untuk menjalankan amanah kepengurusan baru dengan berpedoman pada nilai-nilai yang telah diwariskan para muassis NU.
“Oleh karena itu, kepada rekan-rekan, baik yang Syuriyah maupun yang non-Syuriyah. Insyaallah, di bawah kepemimpinan yang baru, baik yang stok lama maupun stok baru, insyaallah kita berpijak kepada titah-titah muassis kita,” katanya.
Kesiapan khidmah
Kiai Musthofa Aqil juga menekankan pentingnya kesiapan berkhidmah bagi seluruh jajaran pengurus PBNU periode 2026–2031.
Menurutnya, menjadi pengurus organisasi tidak cukup hanya dengan merasa bangga. Kebanggaan tersebut harus diiringi kesiapan untuk menjalankan amanah dan berkhidmat.
“Detik ini kita ada dua. Ada perasaan bangga menjadi pengurus, ada perasaan siap menjadi pengurus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rasa bangga dan kesiapan menjalankan amanah merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat merasa bangga menjadi pengurus, tetapi belum tentu siap menjalankan tugasnya. Sebaliknya, seseorang dapat siap menjalankan tugas tanpa disertai rasa bangga.
“Antara bangga dan siap itu kadang berbeda. Bangga tanpa siap, tetapi kadang siap tanpa bangga,” katanya.
Karena itu, Kiai Musthofa menegaskan bahwa hal yang paling dibutuhkan oleh jajaran pengurus PBNU adalah kesiapan untuk berkhidmat.
“Oleh karena itu, yang diperlukan adalah kesiapan. Kesiapan apa? Kesiapan berkhidmat,” tegasnya.
Kiai Musthofa mengatakan semangat khidmah merupakan bagian penting dari sejarah berdirinya NU. Para muassis NU, menurutnya, sejak awal telah meletakkan khidmah kepada agama dan bangsa sebagai orientasi perjuangan organisasi.
“Dari awal, muassis itu tidak ada lain, ya, khidmat. Khidmat kepada bangsa, khidmat kepada agama,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa salah satu bentuk khidmah tersebut adalah menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, baik dalam konteks kehidupan masyarakat di tingkat lokal maupun dalam kehidupan global.
“Terutama menjaga akidah kita, akidah Ahlussunnah wal Jamaah, baik secara lokal maupun secara global,” katanya.