Guru Besar Filologi Indonesia, Prof Nabilah Lubis Tutup Usia di Mesir
Sabtu, 28 Februari 2026 | 22:59 WIB
Jakarta, NU Online
Kabar duka datang dari Kairo, Mesir. Prof Hj Nabilah Lubis, akademisi dan filolog terkemuka Indonesia, wafat pada Sabtu sore waktu setempat (28/2/2026). Kepergian sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan ini meninggalkan duka mendalam, baik di tanah kelahirannya maupun di Indonesia, tempat ia menanamkan dedikasi akademiknya.
Salah satu muridnya, Guru Besar Filolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Oman Fathurrahman mengenang Prof Nabilah sebagai salah satu perintis kajian filologi di lingkungan perguruan tinggi Islam.
"Prof Nabilah Lubis adalah guru pertama saya di bidang filologi. Meski di eranya peminat filologi hanya ada 4 mahasiswa, tapi ia tetap gigih mengenalkan kajian manuskrip Islam Nusantara ini," ungkap Prof Oman kepada NU Online, Sabtu (28/2/2026) petang.
Baca Juga
Ulama Wafat, Ikan dan Burung pun Berduka
Sebagai ilmuwan, Prof Nabilah dikenal produktif. Ia menulis dan menerjemahkan berbagai karya yang menjembatani khazanah keislaman Arab dengan konteks Indonesia. Disertasinya tentang naskah Zubdat al-Asrar karya Syekh Yusuf al-Makassari menjadi salah satu kontribusi penting dalam studi teks klasik Islam Nusantara. Kini, karya tersebut bahkan sedang akan ditabalkan sebagai Memory of the World di UNESCO.
"Ia seorang putri Mesir yang sangat mencintai khazanah manuskrip Nusantara. Kontribusinya yang terbesar adalah mengenalkan kitab Zubdat al-Asrar, salah satu karya besar Syekh Yusuf al-Makassari, seorang ulama terkemuka abad 17 asal Gowa, Sulawesi Selatan," kata Prof Oman.
Namanya tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama yang meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dahulu bernama IAIN Jakarta, pada tahun 1992. Pencapaian itu bukan sekadar prestasi personal, melainkan tonggak penting bagi kiprah perempuan dalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
"Tanpa jasa Bu Nabilah, mungkin filologi tidak akan pernah dikenal dengan sangat baik seperti saat ini di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam," tuturnya.
Prof Hj Nabilah Lubis lahir di Kairo, Mesir, pada 14 Maret 1942. Ia kerap dijuluki “Putri Mesir yang Mengabdi untuk Indonesia", sebuah sebutan yang merekam perjalanan hidupnya: dari tanah Arab menuju Nusantara, mengikuti suami, lalu menanamkan akar pengabdian di dunia akademik Indonesia.
Kakeknya adalah salah satu pengajar di Al-Azhar pada masa itu. Ia dilahirkan dari pasangan Abdel Fattah, seorang pegawai Kementerian Keuangan dan guru bahasa Prancis bagi keluarga elit Pasha, penguasa Turki yang memerintah Mesir sebelum kemerdekaan dan Daulat. Keluarga ini tinggal di kawasan Husein, dekat Masjid al-Azhar, Kairo.
Nabilah memulai pendidikan di jenjang universitas ketika ia masuk di jurusan Library and Achievement di Universitas Kairo. Satu tahun menjelang kuliahnya selesai, 1963, ia dipinang oleh Burhanuddin Lubis, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Baghdad University yang mengenal keluarga besar Nabilah di Kairo.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak yakni Prof. Amany Lubis, Guru Besar Sejarah Islam UIN Jakarta; Sri Ilham Lubis, birokrat di Kementerian Agama Republik Indonesia; Umar Lubis, aktor dan pengusaha; serta Ahmad Shobri Lubis.
Sejak 1965, Nabilah mulai mengajar di Fakultas Adab IAIN (kini UIN) Jakarta, mengampu mata kuliah Sastra Arab, Insya’, dan lainnya. Di antara mahasiswanya kala itu adalah Panji Gumilang, Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Fachir.
Menariknya, ketika menempuh studi doktoral, Nabilah justru sempat diajar oleh Cak Nur sapaan akrab Nurcholish Madjid yang lebih dahulu menyandang gelar doktor dari University of Chicago.
Dalam karier akademiknya, Prof Nabilah menempati sejumlah posisi strategis di antaranya Guru Besar Sastra Arab dan Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (1994-1988), Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra di fakultas yang sama (1994), Pembantu Rektor IIQ (1972-1977) dan berbagai jabatan super lainnya.
Nabilah juga aktif di berbagai organisasi, diantaranya Dewan Pakar Muslimat NU masa khidmah 2016-2021, Ketua Umum Persatuan Cendekiawan Muslimat Sedunia, Dewan Penasihat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Indonesia, Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), dan anggota Dewan Pakar Agama dan Budaya, ICMI Pusat.
Ia menjadi perempuan pertama yang berceramah di masjid Istiqlal pada 17 Ramadhan tahun 2000 lalu. Ia berceramah di hadapan ratusan jamaah dan para petinggi negara, ditayangkan di layar televisi Indonesia.
Nabilah sudah pensiun dari jabatannya sebagai Guru Besar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, tercatat sejak tahun 2007. Namun, kegiatan beliau masih cukup padat dan beragam. Sejak awal tahun 2000, ia membangun majalah berbahasa Arab pertama dan satu-satunya sampai saat ini di Indonesia, Halo Indonesia.
Majalah ini mendapat perhatian luas khususnya khalayak masyarakat Timur Tengah seperti kedutaan-kedutaan. Bahkan, Parlemen Suriah mengabarkan kalau mereka berlangganan majalah ini.
Pada tahun 2005, Kementerian Pariwisata meluncurkan program Kunjungi Indonesia untuk promosi tempat wisata Indonesia. Alo kemudian dapat bersinergi sebagai mitra media resmi untuk mempromosikan tempat wisata Indonesia untuk dunia Arab.
Selain mengembangkan Alo, Nabilah juga masih sering melakukan kerja sama di luar negeri seperti ke Turki dalam rangka undangan komunitas pecinta Said Nursi dan Iran untuk acara Festival Media Islam.
Nabilah juga aktif menulis dan menerjemahkan buku-buku Indonesia ke bahasa Arab. Misalnya, buku karya BJ Habibie tentang memoar kisah cintanya dengan istrinya diterjemahkan menjadi Qisshah Hubb Waqi'iyyah: Habibi-'Aynun. Buku karya Dino Pattie Djalal tentang catatan-catatannya selama mendampingi Presiden SBY sebagai Juru Bicara di periode pertama (2004-2009), diterjemahkan menjadi Laazim Nuqaddim: Fann al-Qiyadah 'ala Thariqah al-Ra'iis Susilo; dan beberapa kumpulan puisi Taufik Ismail seperti al-Sahb wa al-Riyah fi Bilaadi Khatt al-Istiwaa' dan al-Turab fawqa al-Turab.