Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, Pelita Keteladanan Sang Bu Nyai, Ahli Riyadhah, dan Politisi
Senin, 5 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Pada Ahad, 4 Oktober 2026 malam, berita duka itu menghampiri kita semua dengan keheningan yang menyayat. Ibunda tercinta, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid binti KH Abdul Wahab Hasbullah, telah mengembuskan nafas terakhir dan berpulang ke hadirat Allah SWT.
Duka mendalam menyelimuti keluarga besar, para santri, hingga segenap umat yang selama ini merasakan keteduhan nasihat dan doa-doa beliau.
Sebagai keponakan menantu, saya menyaksikan sendiri bahwa perjalanan hidup almarhumah adalah hamparan keteladanan. Beliau bukan sekadar sosok sepuh dalam keluarga besar Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah, melainkan juga figur Bu Nyai pengayom, politisi yang senantiasa menjaga keutuhan nilai, serta pribadi yang tekun menjalani riyadhah dan istiqamah menembus sepertiga malam.
Gelar Bu Nyai yang melekat pada perempuan kelahiran 12 Maret 1944 ini lahir dari kedalaman ilmu dan keikhlasan dalam mengasuh umat. Mengalir dalam darah beliau trah keulamaan sang ayah, salah satu pilar pendiri Nahdlatul Ulama, yang menanamkan kecintaan mendalam kepada ilmu, pesantren, dan santri.
Kehadiran almarhumah di tengah pesantren selalu menghadirkan ketenangan. Pintu rumahnya seakan tidak pernah tertutup bagi siapa saja yang datang untuk mencari nasihat, pencerahan batin, maupun sekadar mengadu tentang persoalan kehidupan.
Bu Nyai Pengayom Umat
Sebagai pendidik masyarakat, beliau memandang tradisi pesantren dan majelis taklim bukan sekadar ruang transfer pengetahuan keagamaan, melainkan juga benteng moral bangsa.
Kasih sayangnya mengayomi tanpa membedakan status sosial. Sentuhan keibuannya yang hangat mampu mencairkan berbagai kerumitan persoalan yang dibawa jamaah dan masyarakat.
Bagi mereka yang datang, nasihat beliau tidak selalu panjang. Namun, sering kali justru kalimat sederhana yang disampaikan dengan ketenangan mampu meninggalkan kesan mendalam.
Keteladanan itu pula yang membuat sosoknya tidak hanya dihormati sebagai bagian dari keluarga besar ulama, tetapi juga sebagai tempat masyarakat mencari keteduhan.
Politisi yang Menjaga Nilai
Di samping kiprahnya sebagai Bu Nyai dan pengasuh masyarakat, Nyai Hj Machfudloh Aly Ubaid merupakan politisi perempuan yang mengukir sejarah pengabdian panjang.
Keterlibatan beliau dalam politik tidak dipandang semata sebagai jalan meraih kekuasaan, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar memperjuangkan kepentingan rakyat dan kaum perempuan. Politik baginya harus tetap berakar pada etika dan nilai keagamaan.
Beliau pernah menjadi anggota DPR RI selama tiga periode, yakni 1987-1992, 1997-1999, dan 2004-2009.
Di ruang kebangsaan, almarhumah membawa keanggunan seorang Bu Nyai ke ruang publik. Keberanian menyuarakan kebenaran dan keadilan selalu dibungkus dengan kesantunan, tetapi tidak kehilangan ketegasan prinsip.
Perpaduan antara nilai keagamaan dan wawasan kebangsaan yang beliau peragakan menjadi salah satu teladan bagi kader muda dan kaum perempuan Nahdliyin.
Pengabdian itu telah beliau jalani sejak muda melalui keterlibatan aktif di Fatayat NU dan Muslimat NU hingga akhir hayatnya.
Riyadhah yang Menjadi Sumber Kekuatan
Namun, di balik hiruk-pikuk gerakan politik dan tugas keumatan yang menyita waktu, bagi saya dimensi paling dalam dari kehidupan beliau adalah ketekunannya dalam riyadhah.
Kehidupan spiritual almarhumah menjadi benteng yang menopang seluruh aktivitas lahiriahnya. Tirakat, puasa sunnah, zikir, dan ibadah malam menjadi bagian dari keseharian yang senantiasa menjaga kesucian niat dalam menjalankan pengabdian.
Kami di lingkungan keluarga menyaksikan konsistensi ibadah malam dan wirid almarhumah. Kesibukan sosial yang padat tidak membuat kebiasaan tersebut runtuh.
Ketenangan raut wajah dan ketajaman batin beliau, bagi kami, merupakan buah dari riyadhah panjang yang dijalani dengan penuh kerendahan hati. Dari sanalah terpancar ketenangan yang membuat beliau disegani, baik oleh kawan maupun oleh mereka yang pernah berada dalam perbedaan pilihan politik.
Riyadhah bagi beliau bukan sekadar aktivitas ritual yang berdiri sendiri. Ia menjadi sumber keteguhan dalam menjalani kehidupan sosial, keluarga, politik, dan pengabdian kepada umat.
Warisan Nilai untuk Keluarga
Dari perpaduan tiga pilar—Bu Nyai, politisi, dan pribadi yang tekun dalam riyadhah—almarhumah meninggalkan warisan nilai yang sangat berharga bagi anak-cucu dan keluarga besar.
Beliau menunjukkan bahwa dedikasi sosial dan politik yang besar tidak boleh menggerus kedalaman hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Sebaliknya, pengabdian kepada masyarakat semestinya bersumber dari kedalaman hubungan spiritual tersebut.
Sebagai bagian dari keluarga yang beruntung bisa menimba kearifan langsung dari almarhumah, kehilangan ini tentu menyisakan ruang hampa yang tidak mudah tergantikan.
Wasiat-wasiat lisan maupun teladan sikap yang beliau tinggalkan akan senantiasa menjadi pedoman bagi kami dalam mengarungi jalan pengabdian masing-masing.
Saya masih mengingat silaturahim terakhir beberapa waktu lalu di rumah Kalibata. Dalam pertemuan itu, beliau menyampaikan pesan sederhana: “Moco Burdahe, ditambahi Bed (Baca Burdahnya ditambahi Bed).”
Pesan itu kurang lebih berarti agar membaca wirid Burdah dan meningkatkannya. Kalimat pendek tersebut terasa semakin dalam setelah beliau berpulang. Bagi kami, pesan itu bukan sekadar nasihat menjelang perpisahan, melainkan warisan spiritual yang harus terus dijaga.
Menjadi Bagian dari Sejarah NU
Perjuangan almarhumah menembus batas-batas zaman. Beliau menunjukkan bahwa seorang perempuan Muslimah dapat berdiri di ruang publik dan mengambil bagian dalam perjuangan kebangsaan tanpa harus meninggalkan identitas keagamaan, kesederhanaan, dan akar tradisinya.
Jejak kebaikan yang beliau torehkan di ranah keumatan dan kebangsaan kini menjadi bagian dari sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama.
Bahkan dalam susunan kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031 yang diumumkan pada Rabu (30/9/2026), nama beliau masih tercantum sebagai salah satu Mustasyar PBNU. Nyai Machfudhoh aktif menjadi pengurus Pimpinan Pusat Muslimat NU dari periode ke periode. Pada periode 2025-2030, beliau menjabat sebagai Dewan Pertimbangan PP Muslimat NU.
Kepergian beliau malam ini membawa duka yang teramat dalam. Namun, kita meyakini bahwa perjalanan panjang pengabdian almarhumah telah sampai pada muara kedamaian di sisi Allah SWT.
Seluruh doa, wirid, pengorbanan, ilmu, dan kebaikan yang beliau wariskan semasa hidup semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menjadi penerang di alam keabadian.
Selamat jalan, Ibunda, Bu Nyai, Bude tercinta, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.
Senyum ketulusan, nasihat yang menyejukkan, serta uswah hasanah yang diwariskan akan terus menyalakan api semangat di dalam dada kami untuk melanjutkan perjuangan mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhumah, mengampuni segala kekhilafannya, melipatgandakan pahala dari setiap ilmu dan kebaikan yang diwariskan, serta menempatkannya di tempat yang paling mulia bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا، وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Ubaidillah Sadewa, Keponakan Menantu Almarhumah Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid