BANGSA Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis di segala bidang kehidupan, mulai dari krisis politik, ekonomi hingga krisis moral. Akibatnya bangsa ini kehilangan karakter dan identitasnya sebagai sebuah bangsa. Melihat kenyataan itu, maka saat ini merupakan mementum sangat penting untuk membangkitkan kembali bangsa ini dengan melakukan character-building (pembentukan karakter). Dan ini merupakan bagian dari usaha melakukan nation-building (pembangunan bangsa), sehingga menjadi bangsa yang maju dan beradab.
<>Mengingat kenyataan itu, kami dari segenap elemen bangsa Indonesia menolak segala bentuk character assassination (pembunuhan karakter) terhadap segenap lapisan masyarakat, baik terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, para seniman dan artis, maupun pengusaha, sebagaimana yang lazim ditayangkan dalam program-program infotainment yang disiarkan stasiun-stasiun TV. Apalagi program-program tersebut merupakan satu bentuk eksploitasi kapitalisme global terhadap manusia dan bangsa Indonesia. Dan hal itu jelas-jelas bertentangan dengan upaya character building yang sedang dilakukan bangsa ini.
Kami juga mencermati intervensi kapitalisme global itu ke dalam karya-karya seni bangsa kita, dan itu telah merusak segala aspek kehidupan, termasuk dalam produksi film dan sinetron, dengan mengeksploitasi kekayaan agama dan kebudayaan bangsa kita. Akibatnya terjadi pendangkalan terhadap warisan kebudayaan bangsa, serta perampasan terhadap masa depan anak-anak dan generasi muda kita. Dan juga tidak mampu memperdalam spiritualitas dan kecerdasan bangsa ini. Maka, haruslah dihindarkan pembuatan karya-karya drama, film, sinetron, jurnalistik dan karya-karya seni lainnya yang mendistorsi sejarah, legenda dan sastra Indonesia, hanya demi keuntungan bisnis semata.
Oleh karena itu kami mendukung langkah yang dilakukan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dalam Munas dan Konbesnya akhir Juli 2006 lalu, yang mengharamkan segala bentuk character assassination sebagaimana yang ditayangkan dalam program-program infotainment. Karena hal itu bertentangan dengan agenda bangsa ini untuk melakukan character building, pembentukan watak, akhlak dan moral bangsa.
Selanjutnya kami mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa ini agar melakukan pendidikan moral di segala sektor kehidupan, menjaga kemandirian dan menjaga kesatuan bangsa, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, maju dan sejahtera, sehingga bisa duduk sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.
Jakarta, 10 Agustus 2006
NU Online, Lesbumi, Majelis Kebudayaan Muslim dan Dewan Peradaban Nasional
**) Dibacakan oleh Sultan Saladin (artis senior), dalam "Diskusi Publik "Infotaintment: Kezaliman Era Baru?" di Pusat Gedung Film, JI. MT Haryono kay. 47-48 Jakarta Selatan. Maklumat Kebudayaan ini ditandatangani oleh semua peserta diskusi publik yang terdiri dari artis, wartawan, dan seniman, serta para pembicara: Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj (PBNU), Prof. DR. Abdul Hadi WM (budayawan), Hans Miller (Kabid Infotainment PWI Pusat), Effendi Ghazali (pakar komunikasi UI), dan Akhlis Suryapati (Ketua Seksi Film dan Budaya PWI DKI Jaya).