Warta

Hariri, Penabuh Drumband Ansor 60-an

Jumat, 10 Februari 2012 | 04:48 WIB

Jakarta, NU Online
Hariri? Siapa pria 66 tahun ini? Ia berasal dari Ciomas, Banten. SR (Sekolah Rakyat) di desa itu pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai siswa kelas 1. Tiada batasan usia kapan seorang bocah mesti masuk sekolah. Mengangkat tangan kanan lalu mencoba melingkari kepala hingga meraih telinga, adalah tanda bahwa seorang anak sudah layak masuk sekolah. Lepas kelas 3, ia harus pindah sekolah untuk melanjutkannya ke kelas 4 di kecamatan. Karena, sekolah di desanya hanya menyelenggarakan pendidikan sampai jenjang kelas 3.
<>
Aktivitas belajar di zaman itu, sarat hambatan. Tidak jarang, dalam kesehariannya, ia mesti menyalin pelajaran gurunya di sabak, alat tulis pengganti buku. Sabak terbuat papan hitam seukuran buku tulis yang dapat dihapus bilamana suka. Sabak adalah alternatif bagi siswa-siswi yang tidak mampu membeli buku tulis.

“Nilai pelajaran menghitung, anjlok nggak karuan. Tetapi untuk pelajaran menulis sambungnya, nilai saya mencapai angka 9,” ujar bangga Hariri yang pernah menjabat RT selama 2 periode setengah. Ia menguras waktu 8 tahun untuk menyelesaikan sekolah 6 kelas itu, tahun 1959 tepatnya.

Pada 1962 tepat menginjak usia 16 tahun, ia pindah ke Jakarta, persisnya RW. 5 Kebayoran Utara. Setahun kemudian, ia terlibat gerakan Pemuda Ansor. Setiap perayaan hari besar kemerdekaan di Senayan, Ansor selalu dilibatkan.

“Saya sudah hadir lebih dahulu di lapangan. Melihat Presiden Soekarno dari jauh yang bergerak memasuki rapat akbar, lutut saya menjadi gemetar karena kewibawaan Beliau,” ungkap penabuh drumband dari barisan Ansor ini.

Saat tragedi 65 terjadi, Banser bergerak cepat melakukan operasi. Banser ketika itu berjumlah 40 orang. Sepuluh di antaranya, diambil dari Ansor. Dalam operasi tersebut, ia hanya mengenakan sandal jepit dan bersenjatakan satu tongkat.

“Masjid Muyassarin di Kebayoran lama adalah pos pertahanan kami,” kenang pria yang memilih hobi olahraga sepak bola dan voli ini.

Ia aktif di Ansor dari 1963 sampai 1970. Setelah itu, ia terlibat di NU hingga kini. H. Moley Hasan Nausin, ustaz setempat inilah yang menyambungkannya dengan KH. Idham Chalid di Cipete. “NU ya Ahlussunnah wal Jama’ah. Saya memilih NU karena persamaan akidah,” tambahnya.

Zaman Gus Dur dan KH. Hasyim Muzadi, adalah masa yang hangat baginya. “Saya pernah ketemu langsung Gus Dur dan KH Hasyim, tetapi hanya dari jauh saja,” ingatnya. “Saya berharap NU kini cukup mengurus masyarakat saja,” katanya mengamati keadaan NU sekarang.

Untuk membuat dapur istrinya mengepul, ia bermain di percetakan seperti undangan dan kop surat. Pemesannya cukup deras berdatangan dari berbagai kalangan seperti Kejaksaan Agung, Walikota Jaksel, Angkatan Laut, dan kampus di kawasan Jakarta Selatan. Namun, usaha ini sudah ditinggalkannya. Kini ia hanya dimintakan tolong untuk urus-mengurus KTP dan KK ke kelurahan.

Kegiatannya kini hanya tadabburan (mengaji kepada kiai) saja. Gurunya adalah KH Zamlawi (Kebayoran Selatan), alm. KH Syafi’i Hadzami, dan Ust H Nadirsyah. Gurunya yang masih tinggal adalah KH Maksum Nasuha dan Ust Fahruddin Albantani. Dengan Ust. Fahruddin ia mengaji kitab Azkar, Mu‘awanah, dan Sifat 20.

Di usia senja kini, ia hanya mendekatkan diri pada kiai dan ibadah saja. Setiap pagi ia hampir selalu ibadah dengan menyuci pakaian sendiri. “Inilah yang disebut ngumpet di rumah jadi ibadah,” ujarnya sambil terkekeh.

Bapak yang dianugerahi 5 anak ini sangat mensyukuri hidupnya walaupun hingga kini ia belum memiliki rumah sendiri. Hanya saja ia cukup prihatin memandang anak sekarang karena kurang dekat dengan ulama. “Anak sekarang, dunianya hebat, tapi takwanya kurang,” tutup pria yang tak menggunakan dan memiliki HP.

Bapak penabuh drumband tahun 60-an ini, sedang asyik duduk menikmati sorenya di MWC NU Kebayoran Lama, Jakarta Selatan saat didatangi kontributor NU Online. Gaya bangunan kantor MWC NU ini, mengambil bentuk rumah Betawi zaman lampau. Pekarangannya kini sarat dengan motor karyawan mall di seberangnya yang menumpang parkir. Kecuali motor dari berbagai jenis, merk, warna, dan model, kios makanan semi permanen dan gerobak rokok pun ambil tempat dalam merayakan pekarangan MWC ini. Kemacetan sore itu pun menambah semarak perbincangan saya dengannya, Senin 6/2.


Redaktur: Mukafi Niam
Penulis   : Al Hafidz Kurniawan


Terkait