Warta

Ormas Islam Minta TKI Tak Dilihat Sekedar Penghasil Devisa

Selasa, 7 Desember 2010 | 11:03 WIB

Jakarta, NU Online
Dua belas ormas Islam meminta agar TKI jangan hanya dipikirkan devisanya yang dihasilkan karena cara berfikir seperti itu nyata betul telah menumbuhsuburkan komersialisasi TKI.

Masyarakat seolah diajak untuk befikir bahwa TKI luar negeri adalah penghasil devisa, pemerintah menyebutnya pahlawan devisa. Pelaku Usaha (PJTKI) dan atau pelaksana pengiriman dan penempatan TKI dengan bangga menunjukkan angka-angka devisa hasil remitansi dana buruh migrant tersebut.<>

“Sayangnya, semua ini tidak diimbangi dengan penghargaan dan perlindungan yang memadai terhadap para TKI luar negeri yang seharusnya diterima sehingga dari tahun ke tahun selalu muncul korban kekerasan, perkodaan dan lainnya, terutama di Arab Saudi,” kata KH Said Aqil Siradj, dalam konferensi pers tentang pengiriman TKI Luar Negeri, Selasa, 7 Desember.

Kedua belas ormas Islam yang menyampaikan keprihatinan tersebut adalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), PP. Muhammadiyah, PP. Al Irsyad Al Islamiyyah, PB. Al Washliyah, DPP Al Ittihadiyah, DPP PERTI, PP PERSIS, PP. Syarikat Islam Indonesia, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), PP. Rabithah Alawiyin, DPP PARMUSI, PP Mathlaul Anwar.

Kang Said yang 12 tahun berada di Arab Saudi ini menyatakan masyarakat Arab Saudi masih kuat kecenderungannya untuk memperlakukan orang, terutama dari negeri non Arab sebagai budak.

“TKI di Arab Saudi berada diantara dua keburukan, tidak memperoleh apresiasi dan perlindungan darinegaranya dan budaya perbudakan yang masih melekat dalam perilaku orang Arab,” tandasnya.

Dikatakannya, Indonesia bukan satu-satunya negara pengirim tenaga kerja kurang berkeahlian atau untuk pekerjaan di sektor domestik, bedanya di negara lain, buruh migrannya, sekalipun hanya bekerja di sektor domestik, tetapi tetap jauh lebih dihargai dan cukup memperoleh perlindungan dari pemerintahnya sehingga jarang diperlakukan tidak senonoh oleh para majikannya.

Munculnya TKI dikarenakan sulitnya mendapat pekerjaan di Indonesia sehingga dengan terpaksa mereka pergi ke negara lain karena tidak ada pilihan lain. “Menjadi TKI di luar ngeri adalah untuk memenuhi tuntutan hidup, untuk mempertahankan hidup dan hak untuk berusaha. Betapapun hanya di sektor domestik, kita harus mengapresiasi para TKI di luar negeri,” imbuhnya.

Apresiasi dan empati terhadap TKI yang menjadi korban, yang dikembangkan terus menerus akan memperbesar dan bergelombang sehingga bisa menjadi kekuatan moral untuk menekan tumbuh suburnya komersialisasi, tipu menipu seta muslihat dari sementara calo dan mengontrol berbagai fihak yang memperlakukan dan menempatkan TKI secara lebih bertanggung jawab. (mkf)


Terkait