Warta

PCNU Kota Semarang Terus Solidkan Barisan

Jumat, 6 Januari 2012 | 12:56 WIB

Semarang, NU Online
Pengurs Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang terus menyolidkan barisan Majelis Wakil Cabang (MWC) di tingkat kecamatan. Usai para pengurus pulang dari haji, gerakan konsolidasi kencang dilakukan. Silaturahmi ke MWC dilakukan hampir setiap sepekan.

Dikemas dalam acara Lailatul Ijtima’, PCNU bersama pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom (banom) berdialog dengan jajaran pengurus MWC dan Pengurus Ranting dari kelurahan-kelurahan.
<>
Setelah istighostah dan tahlilan, serta pembacaan sholawat bersama-sama, berbagai persoalan warga dimusyarahkan. Mulai masalah keagamaan, sosial, sampai administrasi organisasi.

Ada warga NU yang menanyakan soal hukum fiqih, ada yang mengeluh adanya gerakan kaum wahabi yang meresahkan umat, soal kelompok radikal yang terus membuat kisruh di masyarakat,  juga keluhan tentang anak-anak mereka yang pendidikan agamanya kurang.

Di awal Januari lalu, Lailatul Ijtima diadakan di kantor MWC NU Kecamatan Mijen, Jl Lemah Pendak Semarang. Dihadiri seratusan kaum nahdliyin, Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Shodiq Hamzah menyampaikan, NU ikut mendirikan negara Republik Indonesia bersama para sultan nusantara dan para pejuang kemerdekaan. Maka seluruh warga NU pastilah cinta tanah air dan takkan rela jika dicabik-cabik kaum radikal-teroris-separatis.

Pengasuh Ponpes As-Shodiqiyah Kaligawe, Genuk, Semarang ini menjelaskan, kelompok Wahabi yang suka memfitnah dan menghujat umat Islam termasuk NU, perlu dihadapi dengan bijaksana. Jika mereka mengajak debat, diladeni dengan argumen yang baik.

“Dalam menghadapi kaum fundamentalis dan  radikal, kita beri saja mereka hujjah yang baik,” tutur pengurus takmir Masjid Agung Jawa Tengah ini.

Kiai Shodiq mengajak warga NU untuk serius mengurusi organisasi. Menurutnya, NU didirikan sebagai wujud kebanbgkitan ulama selaku pewaris para nabi dan penerus para wali.

“NU itu didirikan sebagai jam’iyyah, organisasi. Bukan sekedar jamaah yang sifatnya cair. Makanya namanya Kebangkitan Ulama, bukan persatuan ulama,” lanjutnya.

Seraya mengutip ayat Al-Qur'an dan matan Hadis ia menyampaikan, orang baik saja tidak cukup. Kebaikan jika tidak diorganisir, jelasnya, kalah oleh kejahatan yang terorganisir. Karena itu organisasi sangat penting agar kebaikan bisa mengalahkan kejahatan.

“Mari kita tata organisasi ini. Semua kelurahan harus hidup kepengurusan rantingnya. Perlu juga membuat pengurus anak ranting berbasis masjid dan mushola, atau dibuat di tingkat Rukun Warga,”  ajaknya.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang H Anasom menambahkan, ia menargetkan dalam 3 tahun seluruh 16 kecamatan memiliki kepengurusan MWC definitif. Dan setiap MWC harus menghidupkan  Pengurus Ranting dan atau ditambah Pengurus Anak Ranting.

Setelah organisasi jalan, dia berpesan, badan otonom NU juga harus dihidupkan secara aktif. Yaitu Muslimat (kaum ibu), Fatayat (pemudi), Gerakan Pemuda Ansor dan Bansernya, Ikatan Pelajar NU, Ikatan Pelajar Putri NU, Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa, dan banom lain yang sesuai kebutuhan.

“Pengurus MWC juga perlu mengaktifkan lembaga dan lajnah  yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayahnya. Misal Lembaga Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Lesbumi) untuk kecamatan Genuk dan Tugu yang terdapat banyak pabrik,” pesan Anasom.



Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan


Terkait