Semarang, NU Online
Setiap kader Fatayat NU harus siap mengkader para pemudi muslimah. Potensi kader dari aktivis IPPNU, PMII maupun santri putri, harus digarap sejak dini. Dipersiapkan menjadi kader Fatayat di masa depan.
Selanjutnya, setelah matang di Fatayat, para kader itu dipromosikan untuk menjadi tokoh-tokoh Muslimat NU. Dalam organisasi ibu-ibu ini, kader Fatayat juga bisa dan harus memiliki peran dalam organisasi NU secara keseluruhan. Termasuk melalui lajnah dan lembaga NU yang memerlukan keahlian khusus. <>
Ungkapan motivasi itu disampaikan Eman Hermawan kala menjadi fasilitator satu-satunya dalam Training of Trainer PW Fatayat NU Jateng yang digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (28-29/1) di kawasan wisata Bandungan Kabupaten Semarang. Acara diikuti pengurus PW Fatayat NU Jateng.
“Kader itu tidak sekedar anggota. Terlebih Anda semua adalah pengurus tingkat propinsi. Pelatihan ini harus membuat Anda bisa mengkader walau tanpa forum pelatihan,” ujar mantan Ketua PMII Yogyakarta yang kini menjadi fungsionaris DPP PKB ini.
Eman yang puluhan tahun menggeluti organisasi kader, mengajak para pengurus Fatayat Jateng untuk membuat program pelatihan yang bagus dan kontinyu. Serta harus membuat para peserta bisa menjadi pelatih, minimal untuk level di bawahnya, pimpinan cabang di kabupaten/kota.
Mantan Ketua DKN Garda Bangsa ini juga menyampaikan materi soal kesetaraan gender. Hebatnya, kata Eman, para peserta khusyuk training di dalam ruangan, para suami mereka momong anak-anak bareng-bareng di luar ruangan pelatihan.
“Saya mengajar Anda tentang gender, malah saya sudah dapat bukti langsung. Suami-suami antunna pada momong anak-anak di taman. Hebaaat…,” seru alumnus IAIN Sunan Kalijaga yang semenjak kuliah dikenal sebagai demonstran ini.
Dia pun menuliskan kesaksiannya, “Sudah tumbuh kembang model keluarga baru plus laki laki baru dalam komunitas pergerakan. Tak kurang delapan delapan laki-laki begitu mahir momong anak-anak mereka sementara para istri mereka sedang ikut pelatihan. Rahasianya, ada akad sebagai sesama aktifis sebelum mereka bersepakat untuk menikah. Sungguh bahagia keluarga yang adil gender. Kalian teladan dalam wa 'ashiruhunna bilma'ru..:-)”.
Salah satu suami pengurus Fatayat NU, Hasyim mengatakan, bagi tugas mengasuh anak itu sudah menjadi komitmen sejak awal berkeluarga.
"Kami dulu sama-sama di PMII Mas. Jadi sesama aktivis harus saling mendukung untuk pasangan dan buah hati kami," ujar Ketua DPC Gerindra Wonosobo yang bertemu Evy Nurmilasari, istrinya, saat kuliah di IAIN Walisongo tahun 90-an lalu.
Sekretaris Umum PW Fatayat NU Jateng Misbahatul Hidayati menyahuti, “Mungkin itu satu-satunya komunitas di dunia. Istri ikut trining di ruangan, para suami momong anak di halaman. Ha..ha..ha.. Geli juga melihat para bapak momong anak bareng-bareng. Ramai sekali”.
Tazkiyyatul Muthmainnah, Ketua III menambahkan, “Kami bangga pada suami-suami kami. Mereka secara sadar dan rela memberikan ruang 'tak terbatas' untuk istrinya. Bahkan ketika ada ada komentar miring "istri ga sopan, enak-enakan bikin acara, suami disuruh momong" Tapi suami malah menghibur "sudahlah, ga usah didengar, selama yang kamu lakukan untuk kebaikan. jalan saja terus. Aku bahagia kok, nemani anak-anak. hmm.. Semoga semakin banyak laki-laki baik seperti suami kami”.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan