Sidoarjo, NU Online
Bulan Ramadhan kenapa jatuh pada saat musim panas? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Hj Mufidah Hafidz kepada ratusan pegawai RSI Siti Hajar Sidoarjo ketika mengisi acara pengajian bertajuk "Al-Qur'an sebagai inspirasi dan solusi (obat) bagi hati orang mukmin" di masjid Siti Hajar, Sabtu (4/7).
<>
Dia menjelaskan, bahwa pada saat Rasulullah SAW mendapatkan wahyu, ketika mendapatkan perintah dari Allah untuk berpuasa, kondisi saat itu kering, sumur tidak ada sumber. Seketika itu Rasulullah langsung mensosialisasikan kepada para sahabat. Tanpa basa basi, tanpa catatan dan berfikir sahabat berkata siap. Para sahabat pun menerima dengan senang hati.
"Orang berpuasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja. 14 jam tidak terisi, kalau bukan karena iman. Mereka tidak akan melakukan hal itu. Maka Allah ingin memberikan pahala kepada orang-orang yang berpuasa. Puasa dari awal hingga akhir," tuturnya.
Allah akan membalas setiap orang yang mau berpuasa. Bahwa di surga ada satu pintu yang namanya Arrayyan. Dimana, pintu itu disediakan hanya untuk orang-orang yang berpuasa. Bagi mereka yang berpuasa, berduyun-duyun pertama kali masuk pintu Arryyan.
Bulan Ramadhan adalah bulan panen. Karena di dalamnya terdapat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar. Itulah yang menjadikan Ramadhan istimewa. Nuzulul Qur'an yang tidak asing lagi bagi umat Islam.
"Kenapa Al-Qur'an diturunkan secara berkala? tanya Hj Mufidah. Kembali dia menjelaskan bahwa Al-Qur'an menjawab semua yang terjadi pada bangsa Arab waktu itu, dan bagi semua manusia di masa mendatang. Al-Qur'an tidak pernah lapuk dan bergeser oleh perkembangan zaman," jelasnya.
Al-Qur'an sebagai pegangan apapun, kondisi susah, guncang, Al-Qur'an menjadi kunci kita semua. Rahmatan lil alamin berguna sampai kapan pun berada. Al-Qur'an tidak pernah berubah redaksinya sejak diturunkan hingga masa yang akan datang, imbuhnya.
"Manfaat paling besar, ialah Al-Qur'an sebagai kekuatan, petunjuk kepada manusia. Al-Qur'an adalah obat. Penyembuh semua penyakit. Obat yang paling mujarab adalah Al-Qur'an. Tombo ati ada lima, salah satunya membaca Al-Qur'an," katanya.
Al-Qur'an diturunkan Allah sesuai bahasa nabinya. Bahasanya satu, bahasa Arab. Sehingga memudahkan Rasulullah untuk berdakwah dan tidak mengalami perubahan bahasa hingga sekarang.
Dia menambahkan, Al-Qur'an mempunyai dampak positif untuk beribadah kepada Allah. Sebaik-baiknya belajar adalah belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.
Siapapun orang tua yang memerintahkan anaknya untuk bisa membaca Al-Qur'an, maka Allah akan memberikan pahala kepada kedua orang tuanya. Namun sebaliknya, jika orang tua yang tidak bertanggung jawab, tanpa memberikan perintah untuk sholat dan ngaji, maka Allah akan melaknat orang tuanya.
"Jangan sampai terjadi orang tua-orang tua yang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat. Semoga Al-Qur'an bisa menjadikan penolong buat kita baik di dunia terlebih di akhirat nanti," ungkapnya.
Kalau dalam satu bulan ini komplit menjalankan ibadah puasa, diimbangi dengan shalat tarawih dan kegiatan yang bersifat positif lainnya, “insya Allah berhasil. Maka kita benar-benar kembali fitrah,” tandasnya.
"Semoga tidak menjadi ibadah musiman, tetapi bisa kita lanjutkan di bulan-bulan yang akan datang," pungkasnya. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
2
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
3
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
4
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
5
Para Kiai Sepuh Sampaikan Seruan Moral Jelang Muktamar Ke-35 NU, Soroti Penggalangan Dukungan Calon AHWA
6
Jelang Muktamar Ke-35 NU, PBNU Bakal Cek Kesiapan Lokasi dan Istighotsah Terbatas di Jombang pada 20 Agustus 2026
Terkini
Lihat Semua