Marawis Daarul Ikhlash Tampil dengan ‘Ikhlash’
NU Online · Kamis, 21 Maret 2013 | 13:18 WIB
Subang, NU Online
Sebagai sarana dalam menyalurkan minat dan bakat peserta didik di lingkungan MTs dan MA Terpadu Daarul Ikhlash, pihak Yayasan Islamic Center Daarul Ikhlash (YICDAI) selaku lembaga yang membawahi madrasah tersebut sejak 2011 yang lalu membentuk grup musik marawis.<>
“Kita ingin minat dan bakat dalam diri siswa tersalurkan, jadi kita bikin tim marawis” Kata Fatah Yasin Ekayana selaku Ketua Umum YICDAI yang juga Pengurus MWCNU Kalijati saat ditemui NU Online di Kompleks YICDAI, Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Subang, Jawa Barat, Kamis (21/3).
Selain itu, tambah Katib Syuriah Ranting NU Desa Caracas ini, motivasi pembentukan tim marawis adalah sekaligus sebagai media dalam berdakwah melalui seni, seperti yang dicontohkan oleh para wali songo dalam melakukan dakwah di pulau Jawa
“Salah satu kesuksesan dakwah wali songo itu ya dakwahnya dengan seni, dengan budaya, contohnya Sunan Kalijaga, jadi lagu-lagu yang disampaikan oleh anak-anak (marawis) itu sarat dengan pesan-pesan moral diharapkan dapat menjadi sugesti untuk terus beribadah kepada Allah SWT,” kata alumni Uninus Bandung tersebut
Salah satu keunikan dari Tim marawis MTs – MA Daarul Ikhlash ini adalah tidak “mematok harga”. Meski demikian, di setiap kali tampil entah dalam acara hajatan warga, muludan, rajaban, dan lain sebagainya, tim marawis ini selalu mendapatkan shadaqah atau ‘saweran’ dari masyarakat.
Jika dikumpulkan dalam sekali manggung bisa mendapat puluhan ribu rupiah, bahkan pernah mencapai ratusan ribu, dari hasil ‘saweran’ tersebut sebagian dibagi kepada tim marawis, dan sebagian lagi untuk dana kas yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan operasional marawis, seperti perawatan alat, pembelian pakaian seragam, sewa mobil, dan lainnya.
“Namanya juga Daarul Ikhlash, ya anak-anak pun kalau manggung harus ikhlash,” ujarnya.
Fatah Yasin menambahkan, tidak dipatoknya ‘harga manggung’ selain untuk tujuan dakwah juga sebagai media promosi lembaga, karena maklum saja, sejak didirikannya YICDAI pada tahun 2005, sebagian masyarakat ada saja yang beranggapan bahwa madrasah merupakan sekolah “kelas dua”, masa depannya tidak jelas, tidak bisa melanjutkan ke tingkat SMA Negeri dan Perguruan Tinggi Negeri, lulusannya sulit mendapat pekerjaan.
Dalam menghadapi opini yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ini, setiap tahun ajaran baru pihak madrasah dan yayasan harus bekerja ekstra, salah upaya yang dilakukan adalah melalui marawis ini.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor : Aiz Luthfi
Terpopuler
1
Gus Kikin Kenang Perjuangan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid untuk NU
2
Kiai Miftach Ingatkan Pentingnya Wirid hingga Akhir Hayat
3
Data Hilal Awal Bulan Jumadal Ula 1448 H
4
Status Gunung Anak Krakatau Siaga, Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius 5 Km
5
Kemenhaj Cabut Izin KBIHU Al-Fatah karena Palsukan Data Dam dan Badal Haji
6
Material Pemadam Karhutla dari Brasil Diuji di Sumsel, Diklaim 10 Kali Lebih Efektif
Terkini
Lihat Semua