Protes Besar-besaran Pelajar Prancis Tuntut Perbaikan Sistem Pendidikan hingga Gaji Rendah Guru
NU Online · Ahad, 4 Oktober 2026 | 18:00 WIB
Polisi mengamankan aksi protes para siswa sekolah menengah di Prancis, Ahad (4/10/2026). (The Guardian)
Husnul Khotimah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Aksi protes besar-besaran yang melibatkan para siswa sekolah menengah kembali mengguncang berbagai kota di Prancis, Ahad (4/10/2026).
Aksi tersebut memicu penutupan ratusan sekolah hingga pemblokiran gerbang masuk.
Melansir The Guardian, gelombang demonstrasi tersebut dipicu oleh akumulasi rasa frustrasi para murid terhadap minimnya investasi negara dalam sistem pendidikan, fasilitas bangunan sekolah yang rusak, hingga kondisi gaji guru yang tergolong rendah.
Aksi blokade yang diwarnai penumpukan tempat sampah hingga pembakaran barikade di depan pintu sekolah menjadi gambaran ketegangan yang terjadi di lapangan.
Sophia (17), seorang siswi tingkat akhir di Lycée Voltaire, Paris, menilai bahwa aksi tersebut menjadi satu-satunya opsi tersisa untuk mengetuk kepedulian pemerintah.
“Kami berharap ini berkembang menjadi gerakan protes pemuda secara masif. Kami hanya ingin didengar oleh pemerintah. Kami lebih baik berdiri di sini melakukan ini daripada harus belajar dalam kondisi yang buruk. Ini satu-satunya cara agar suara kami didengar,” ungkapnya sebagaimana dikutip NU Online dari The Guardian, Ahad (4/10/2026).
Sophia menyebut beberapa tuntutan siswa, mulai dari fasilitas di banyak sekolah Prancis yang rusak, ruang kelas yang berdesakan hingga diisi 40 siswa, hingga ketimpangan prioritas alokasi anggaran nasional. Pengurangan dana pendidikan juga dinilainya sangat kontras jika dibandingkan dengan alokasi anggaran sektor lain.
“Anggaran pendidikan dipotong hingga berkeping-keping sementara begitu banyak dana tambahan dialokasikan untuk tentara,” lanjutnya.
Sementara itu, Camille (18) mengeluhkan masalah kualitas pendidikan serta durasi belajar yang panjang tanpa diimbangi perbaikan mutu yang juga tidak luput dari sorotan para demonstran. Menurutnya, aksi tersebut terjadi karena ketidakmampuan pemerintah dalam merespons peringkat pendidikan internasional yang semakin merosot.
“Prancis memiliki hasil yang sangat buruk padahal kita adalah salah satu negara dengan hari sekolah terpanjang. Pemerintah menolak untuk melihat bahwa ini adalah soal kualitas, bukan jumlah jam mengajar,” ungkap siswi yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Aksi protes tersebut tak hanya datang dari golongan siswa sekolah menengah, tetapi juga dari para mahasiswa. Sofiane (19), mahasiswa sastra di Lycée Hélène Bouche, juga mengeluhkan lingkungan belajar saat cuaca ekstrem hingga ancaman pemotongan bantuan bagi pelajar.
Menurutnya, hal tersebut kian menambah gejolak amarah para pemuda di Prancis. Mereka berharap pemerintah tidak menutup mata dan segera membenahi fasilitas serta kualitas pembelajaran.
“Kami juga memprotes kondisi saat gelombang panas. Sangat tidak tertahankan mengikuti ujian dalam cuaca panas 35–40 derajat Celsius, bahkan para guru mengatakan itu adalah kondisi yang mustahil. Anak muda hanya ingin belajar dan menuntut ilmu dalam kondisi yang layak. Negara Prancis tampaknya terkejut dengan memburuknya hasil sekolah, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk memperbaikinya,” ucap Sofiane.
Sejak Jumat (2/10/2026), ratusan sekolah menengah ditutup atau dibarikade dan ratusan anak muda dilaporkan telah ditangkap. Gerakan tersebut mengancam akan berlanjut hingga minggu depan.
Gelombang aksi yang semakin meluas hingga terjadi di luar sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri tersebut mengejutkan pemerintah Prancis dan memaksa aparat kepolisian turun tangan untuk membubarkan barikade di sejumlah tempat.
Para siswa mengaku bahwa polisi menggunakan kekerasan berlebihan dan menyebabkan cedera hingga menembakkan gas air mata untuk membubarkan protes. Yves (17), siswa lain di Lycée Voltaire, menekankan bahwa aksi demonstrasi siswa di sekolah mereka berorientasi damai tanpa berniat memicu kerusuhan.
“Kami sepenuhnya pasifis. Suasana di barikade ini secara umum sangat tenang. Namun ada orang-orang lain dari luar sekolah yang lewat dan mencoba membakar berbagai hal, jadi kami mencoba memindahkan tempat sampah untuk menghentikannya,” ujar Yves (17).
Namun, pada Jumat pagi (2/10/2026), dilaporkan bahwa kebakaran merusak pintu masuk dua sekolah menengah atas, yakni Léonard de Vinci di wilayah selatan kota dan Gaston-Bachelard di wilayah tenggara. Beberapa siswa dilaporkan terluka dalam protes tersebut.
Kementerian Pendidikan mengatakan 65 staf pendidikan terluka, termasuk 40 kepala sekolah. Investigasi juga sedang berlangsung setelah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun di Val-d'Oise menderita luka serius di mulut dan rahangnya setelah polisi diduga memukulinya dan menembakkan sejenis peluncur peluru karet.
ABC News melaporkan bahwa aksi protes pertama kali pecah di Créteil, pinggiran tenggara Paris, pada pertengahan September. Aksi yang dipicu oleh gerakan guru dan siswa dalam menuntut penambahan staf di sebuah lycée (SMA) tersebut meluas dengan cepat. Pemogokan kelas, blokade, dan demonstrasi menyebar dari pinggiran Paris hingga ke sekolah-sekolah di kota kecil di seluruh negeri.
Geliat aksi tersebut mendapat sorotan setelah Guetté, anggota parlemen dari partai sayap kiri jauh France Unbowed, mengunggah fotonya saat menemui para demonstran pertama di Créteil. Langkah politikus muda tersebut diikuti oleh pejabat France Unbowed lainnya yang turun ke lapangan untuk menyatakan solidaritas.
Eskalasi makin memanas ketika Pemimpin France Unbowed, Jean-Luc Mélenchon, menginstruksikan pendukungnya untuk membentengi para siswa dari tindakan polisi.
Mélenchon mengecam keras kebrutalan petugas yang menggunakan gas air mata, pentungan, hingga proyektil pengendali huru-hara yang menyebabkan beberapa demonstran muda menderita luka di bagian wajah.
Sikap aktif partai tersebut memicu kritik dari para penentang politik yang menuding France Unbowed memanipulasi para siswa demi kepentingan politik.
Menjawab tuduhan tersebut, Mélenchon menegaskan bahwa partainya hanya mendukung gerakan organik siswa tanpa mengorganisirnya, serta mengimbau agar aksi tetap berjalan damai.
“Yang kita inginkan adalah agar generasi muda negara ini dapat keluar dari episode ini dengan kepala tegak, setelah memenangkan sesuatu dan mempelajari sesuatu, dan mengingatnya ketika mereka memberikan suara mereka,” ujar Mélenchon.
Terpopuler
1
Suyudi Ario Seto Segera Dilantik Presiden Prabowo sebagai Kapolri Hari Ini
2
Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal
3
Wajah Baru Kepengurusan PBNU 2026-2031: Masuk Dua Tokoh Disabilitas di Kepengurusan
4
Dilantik Jadi Wantimpres, Kiai Said Siap Berikan Pertimbangan Konstruktif untuk Presiden
5
Khutbah Jumat: Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan
6
Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam
Terkini
Lihat Semua