Nasional

98 Zona Iklim Basah Terdampak Kekeringan akibat El Nino Kuat 2026

NU Online  ·  Rabu, 23 September 2026 | 09:00 WIB

98 Zona Iklim Basah Terdampak Kekeringan akibat El Nino Kuat 2026

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam Konferensi Pers Prediksi Musim Hujan Tahun 2026/2027 secara daring, Selasa (22/9/2026). (BMKG

Jakarta, NU Online

Fenomena El Nino kuat sepanjang 2026 tidak hanya memperpanjang musim kemarau, tetapi juga berdampak pada sejumlah wilayah Indonesia yang secara klimatologis memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun.

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 98 dari 110 Zona Musim (ZOM) yang secara klimatologis memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun kini mengalami musim kemarau.

 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang saat ini berlangsung di Samudra Pasifik.

 

“Secara klimatologis, Indonesia memiliki 110 ZOM tipe basah sepanjang tahun. Namun pada 2026 ini, sebanyak 98 ZOM di antaranya ikut terdampak kekeringan dan mengalami musim kemarau,” ujarnya dalam Konferensi Pers Prediksi Musim Hujan Tahun 2026/2027 yang digelar secara daring, Selasa (22/9/2026).

 

Berdasarkan pemantauan BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3,4 Samudra Pasifik pada periode Juli-September 2026 mencapai rata-rata +2,63 derajat Celsius. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator kuatnya fenomena El Nino yang berdampak terhadap pola hujan di Indonesia.

 

Dampak El Nino juga terlihat dari masih luasnya wilayah yang mengalami musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen dari luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

 

Kondisi tersebut turut memicu hari tanpa hujan (HTH) dalam periode panjang di sejumlah wilayah. BMKG mencatat HTH lebih dari 60 hari tersebar di 25 provinsi.

 

Di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, HTH terpanjang tercatat mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan. Sementara itu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mencatat HTH selama 120 hari.

 

Ardhasena juga menyampaikan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada angka +0,376 atau masih dalam kategori netral. Namun, IOD diprediksi berpeluang memasuki fase positif hingga akhir 2026.

 

Menurutnya, fenomena El Nino diprediksi bertahan setidaknya hingga akhir kuartal pertama 2027. Meski demikian, dampak kekeringan di Indonesia diperkirakan berakhir seiring masuknya musim hujan secara bertahap di berbagai wilayah.

 

Sementara itu, Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mengatakan, salah satu indikasi dampak El Nino adalah kondisi kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

 

“Data analisis menunjukkan bahwa banyak titik pengamatan yang melaporkan kondisi hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi dengan HTH terpanjang saat ini di wilayah Bantul yaitu 131 hari,” katanya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang