Aru Lego Triono
Kontributor
Jakarta, NU Online
KH Agus Arifin menjelaskan cara untuk menumbuhkan rasa qanaah (sikap rela dan menerima) di dalam diri. Menurutnya, qanaah merupakan suatu proses yang harus tetap ada sepanjang hidup. Bersikap qanaah akan dicatat sebagai amal ibadah jika diniatkan sebagai upaya mencari ridha Allah.
“Jadi, qanaah itu satu proses yang sebenarnya long life. Selama hidup, itu harus tetap ada. Itu merupakan bagian kalau kita niatkan sebagai upaya kita mencari ridha Allah maka dicatat sebagai amal ibadah,” tutur Gus Arifin, dalam tayangan galawicara Sahur Time di Kompas TV, Selasa (13/4).
Masyarakat Indonesia pun kerap kali diperdengarkan dengan narasi-narasi tentang cara untuk menumbuhkan rasa qanaah di dalam diri. Misalnya narasi yang menyatakan, jika ingin hidup bahagia maka lihatlah orang yang ada di bawah.
“Kalau ingin bahagia lihatlah orang yang kedudukannya di bawahmu, dalam hal ekonomi misalnya. Jangan lihat di atasmu, kamu nanti akan masalah karena tidak akan bisa mengejar itu,” terang Gus Arifin.
Ternyata, narasi-narasi yang seperti itu sebagaimana hadits yang pernah disampaikan Nabi. Hadits tersebut berbunyi, unzur ilaa man asfala minkum wa laa tanzuruu ilaa man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallahi ‘alaikum.
“Nabi pernah menyampaikan, lihatlah orang yang ada di bawahmu, jangan melihat yang ada di atasmu. Karena kalau melihat di bawah kita, paling tidak akan menumbuhkan rasa syukur,” jelas Gus Arifin memaknai hadits Nabi tersebut.
Sebagai contoh, orang-orang yang saat ini bisa mengenakan sepatu akan merasa sangat bersyukur karena masih ada orang-orang yang memakai sendal, karena tidak mampu membeli sepatu.
“(Orang) yang pakai sendal juga masih bisa bersyukur karena ada orang yang nyeker (tanpa alas kaki). (Orang) yang nyeker masih bersyukur karena ada orang yang tidak punya kaki,” katanya, memberi contoh.
“Kalau punya mobil harus bersyukur karena masih ada orang yang naik motor. Mereka yang naik motor harus bersyukur karena ada yang naik sepeda. Orang yang naik sepeda juga harus bersyukur karena masih ada yang berjalan kaki,” pungkasnya.
Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Fathoni Ahmad
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua