Jakarta, NU Online
Banyak gelar yang disematkan kepada Ketua Umum PBNU 1984-199, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Mulai dari Guru Bangsa, Bapak Demokrasi hingga Bapak Pluralisme.
Ā <>
Menurut pemerhati pemikiran Gus Dur, Syaiful Arif, gelar yang paling tepat untuk cucu pendiri NU tersebut adalah Bapak Humanisme. Ia menjelaskan alasannya dengan membagi fase Gus Dur; yaitu Gus Dur muda dan Gus Dur tua.
Ā
āGus Dur muda adalah teoritis, dan masa tua disebut āGus Dur praktisā atau āGus Dur Mudaā dan āGus Dur Tuaā.
Ā
Gus Dur muda dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur Muda pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, Pesantren, di koran-koran, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Ā
āNah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis.ā
Ā
Sementara Gus Dur tua itu sejak menjadi presiden sampai lengser. Waktu itu tulisan Gus Dur hanya dipercikan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu ya Gus Dur yang sudah Ā praktis.
Ā
Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikirannya.
Ā
āSelama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda.ā
Ā
āPribumisasi Islam adalah basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial.ā
Ā
Jadi, Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Ia tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.
Ā
āDi Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu katakanlah amal ya dari iman.ā
Ā
Kata Gus Dur, di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat; ketika berjamaah. Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat.
Ā
Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis Ā : Abadullah Alawi
Terpopuler
1
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
2
Bolehkah Suami Menggunakan Tabungan Istri untuk Membayar Utang?
3
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
4
Khutbah Jumat: Jangan Putus Asa Mencari Rezeki Halal Saat Ekonomi Sulit
5
Berikut Daftar Wakil Rais Aam PBNU Periode 2026-2031 Beserta Bidangnya
6
BNPB Sebut 639 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi
Terkini
Lihat Semua