Investasi Besar Belum Serap Banyak Pekerja, Daya Beli Masyarakat Terancam
NU Online · Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Besarnya nilai investasi yang masuk ke Indonesia belum tentu sejalan dengan banyaknya lapangan kerja yang tercipta. Investasi asing yang berorientasi pada penggunaan modal besar berisiko tidak menyerap banyak tenaga kerja ketika perusahaan mulai beroperasi. Kondisi ini dapat berdampak pada pendapatan dan daya beli masyarakat.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. R. Agus Sartono, menyoroti karakter investasi asing yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, investasi padat modal atau capital-intensive tidak selalu menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama setelah tahap pembangunan proyek selesai.
“Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital-intensive,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Selasa (20/10/2026).
Agus menjelaskan bahwa investasi padat modal dapat melibatkan pembangunan berskala besar. Namun, kebutuhan tenaga kerja ketika perusahaan mulai beroperasi cenderung lebih terbatas.
“Nilai investasi yang besar tidak serta-merta menunjukkan banyaknya lapangan kerja yang tercipta bagi masyarakat,” katanya.
Persoalan ini juga berkaitan dengan keberlangsungan industri. Ia mengatakan bahwa ketika masyarakat tidak memperoleh pekerjaan, pendapatan mereka terbatas sehingga kemampuan membeli barang dan jasa ikut menurun.
Padahal, kata Agus, daya beli masyarakat menjadi salah satu penopang permintaan terhadap produk industri. “Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa tanpa penyerapan tenaga kerja yang memadai, manfaat investasi berisiko tidak dirasakan secara luas. Di sisi lain, lemahnya permintaan masyarakat dapat menyulitkan industri dalam memasarkan produk dan mengembangkan usaha.
Agus menilai penciptaan lapangan kerja perlu menjadi bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar dampak tambahan dari masuknya modal asing.
Menggerakkan Ekonomi Daerah dan Pasar Domestik
Agus menilai pengembangan ekonomi daerah dapat memperluas kesempatan kerja. Ia mencontohkan kegiatan ekonomi di desa melalui usaha-usaha kecil yang berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Menurutnya, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.
“Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan usaha di dalam negeri, sehingga penciptaan lapangan kerja tidak hanya bergantung pada masuknya investor asing atau pembangunan industri berskala besar,” katanya.
Agus juga menilai penguatan ekonomi daerah dapat memperluas sumber penghasilan masyarakat. “Ketika aktivitas usaha lokal berkembang, masyarakat memiliki peluang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dan meningkatkan daya beli. Perputaran ekonomi tersebut kemudian dapat mendukung pertumbuhan usaha di tingkat lokal,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut bukan berarti mengesampingkan investasi asing. Namun, pembangunan ekonomi perlu memperhatikan kebutuhan pasar domestik dan kemampuan kegiatan usaha dalam menciptakan pekerjaan.
“Kebijakan ekonomi perlu mempertimbangkan manfaat investasi bagi masyarakat, termasuk kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua