Nasional

Jaringan Gusdurian Gelar Kuliah Umum Pancasila dan Relasi Agama-Negara di UMY

NU Online  ·  Sabtu, 3 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Jaringan Gusdurian Gelar Kuliah Umum Pancasila dan Relasi Agama-Negara di UMY

Mahfud MD menjadi pembicara dalam kuliah umum Gusdurian di UMY. (Foto: Dok Gusdurian)

Yogyakarta, NU Online

Jaringan Gusdurian mengajak generasi Z merefleksikan kembali posisi Pancasila dalam relasi agama dan negara melalui kuliah umum bertajuk “Point of View: Pancasila dan Relasi Agama-Negara” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).


Kuliah umum yang digelar di Gedung Amphitheater E8 Djarnawi Hadikusuma UMY tersebut dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini merupakan kerja sama Jaringan Gusdurian dengan Program Studi Doktor Politik Islam dan Pusat Studi Ahmad Syafi’i Maarif UMY.


Mustasyar PBNU Mahfud MD yang menjadi pembicara mengatakan, pergulatan antara Pancasila, agama, dan negara telah berlangsung sepanjang sejarah Indonesia. Perdebatan tersebut, antara lain, muncul sejak proses perumusan Pancasila menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Menurut Mahfud, salah satu perdebatan awal berkaitan dengan pilihan Indonesia menjadi negara agama atau negara sekuler. Ketegangan antara kelompok religius dan nasionalis kemudian menemukan titik temu melalui Pancasila.


Pancasila menjadi dasar yang menempatkan Indonesia bukan sebagai negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler karena agama tetap memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


“Kalau kata Gus Dur, kita ini negara bukan-bukan,” seloroh Mahfud saat memberikan kuliah umum, sebagaimana keterangan yang diterima NU Online, Jumat (2/10/2026).


Pakar hukum tata negara itu juga mengulas peran organisasi keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dalam dinamika kebangsaan hingga konsepsi Pancasila dapat diterima sebagai pilihan yang mengakomodasi kemajemukan masyarakat Indonesia.


Menurut Mahfud, ketegangan antara agama dan negara merupakan hal yang wajar mengingat konsep negara bangsa relatif baru di berbagai negara. Ia menjelaskan bahwa Islam dapat menjadi sumber nilai, sementara bentuk negara dapat beragam.


“Di dunia ada lebih dari 50 negara dengan penduduk mayoritas muslim, tetapi bentuk negaranya bermacam-macam. Ada yang republik, emirat, kerajaan, dan sebagainya,” lanjutnya.


Ajak Gen Z Refleksikan Kondisi Bangsa

Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian Jay Akhmad mengatakan, kuliah umum bersama Mahfud MD merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang akan digelar di sembilan kota di Indonesia.


Menurut Jay, Mahfud merupakan sosok yang dekat dengan Gus Dur dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia menilai gagasan Mahfud memiliki kedekatan dengan pemikiran Gus Dur, terutama dalam hal penegakan hukum dan menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai dasar kebijakan.


“Khususnya melalui tema ini kami ingin mengajak sivitas akademika yang saat ini didominasi Gen Z untuk bersama-sama merefleksikan posisi kita dalam kondisi berbangsa dan bernegara hari ini,” ujar Jay.


Ia juga menanggapi anggapan sebagian kalangan bahwa generasi muda tidak peduli terhadap persoalan negara.


“Kehadiran kita di sini menjadi salah satu bukti bagaimana anak muda masih memikirkan situasi negara tercinta,” sambungnya.


Jay mengatakan rangkaian kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di sejumlah kota, antara lain Makassar, Pontianak, Mataram, Medan, dan Semarang.


Sementara itu, Wakil Rektor UMY Zuly Qodir dalam pengantarnya menegaskan pentingnya kolaborasi kelompok keagamaan, seperti NU dan Muhammadiyah, untuk bersama-sama memperjuangkan negara yang adil dan berpihak pada kepentingan masyarakat.


Rangkaian kuliah umum berlangsung dengan Inayah Wahid sebagai moderator. Putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut menyelingi forum dengan humor yang mengundang tawa peserta.


Acara diawali dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza dan Sang Surya, kemudian dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY Slamet Riyadi.


“Saya tadi di samping Pak Mahfud MD dan bersaksi meski beliau tokoh NU, ternyata hafal lagu Sang Surya,” ujar Slamet yang disambut tawa peserta.


Menurut Slamet, hal tersebut menunjukkan kedekatan NU dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi keagamaan yang dapat saling mendukung.


Bahas Demokrasi dan Kebebasan Beragama

Selain kuliah umum, Jaringan Gusdurian bersama Program Studi Doktor Politik Islam dan Pusat Studi Ahmad Syafi’i Maarif UMY juga menggelar “Sarasehan: Situasi Demokrasi dan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan di Yogyakarta”.


Sarasehan tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan akademisi, jurnalis, organisasi kemasyarakatan keagamaan, hingga lembaga swadaya masyarakat.


Para peserta membahas berbagai persoalan serta gagasan penyelesaian terkait kondisi demokrasi dan kebebasan beragama atau berkeyakinan di Yogyakarta dan Indonesia.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang