Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menegaskan, tidak ada bentuk baku tentang apa yang disebut Negara Islam. Dalam sejarah, umat Islam mengalami bentuk kenegaraan yang bermacam-macam, dari kerajaan, kekhilafahan, hingga republik.
<>
Kiai Ma’ruf juga mengkritik sejumlah kelompok yang berhasrat mengislamkan Negara Republik Indonesia berdasarkan idealisme sistem khilafah. Baginya, khilafah tidak harus dimaknai kelembagaan melainkan spirit berkebangsaan.
“Jadi semangat khilafahnya, bukan institusinya,” tegas Ketua MUI ini saat mengisi materi Pelatihan Dai Kader NU VIII Lembaga Dakwah NU, Sabtu (28/7), di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
Pemerintahan yang baik, lanjutnya, adalah pemerintahan yang dapat memenuhi tangung jawabnya. Sebagaimana kaidah fiqih, beban berat tersebut tak lain adalah menciptakan kemaslahatan bagi segenap rakyatnya.
“Maka saya sering mengatakan pemerintah harus taharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah (kebijakan pemimpin senantiasa bertalian dengan kemaslahatan warganya),” tuturnya.
Kiai Ma’ruf menyadari, masyarakat Islam Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan sekularisme dan ekstemisme agama. Karenanya, mereka perlu mengadakan pembentengan diri dan gerakan-gerakan sinergis untuk tujuan kemaslahatan umat.
“NU menjadi besar itu karena dulu kiai-kiai sepuh, seperti Mbah Wahab mau bergerak. Beliau berdiskusi, pidah dari tempat satu ke tempat lain untuk menyebarkan dakwah,” terangnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Mahbib Khoiron
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga
2
Berikut Daftar Wakil Rais Aam PBNU Periode 2026-2031 Beserta Bidangnya
3
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Kepala BNPB, dan Pimpinan Badan Pengelola Gambut
4
Gus Ipul: Jangan Campuradukkan Muktamar NU dengan Persoalan Lain
5
Khutbah Jumat: Pentingnya Membantu Korban Kebakaran Hutan dan Lahan
6
Judi Online, Racun Keharmonisan Keluarga dan Kesehatan Mental
Terkini
Lihat Semua