Nasional

Penasehat Presiden Palestina Kenang Ikatan Sejarah Indonesia-Palestina, Komitmen Kirim Dai Secara Berkala

NU Online  ·  Senin, 28 September 2026 | 19:00 WIB

Penasehat Presiden Palestina Kenang Ikatan Sejarah Indonesia-Palestina, Komitmen Kirim Dai Secara Berkala

Penasehat Presiden Palestina Bidng Keagamaan Mahmoud SA Al-Habbash (kanan) di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (27/9/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Tebuireng)

Jombang, NU Online

Penasehat Presiden Palestina Bidng Keagamaan Mahmoud SA Al-Habbash mengenang ikatan sejarah antara Palestina dan Indonesia. Ia menyoroti sejarah panjang dukungan timbal balik antara Indonesia dan Palestina yang sudah berakar kuat sejak era awal kemerdekaan.


"Palestina memang terikat dengan Indonesia, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ustadz Abdul Hakim Mahfudz dan saudara saya. Palestina dan Indonesia terikat oleh ikatan yang sangat kuat. Kami tidak heran mendengar bahwa solidaritas warga Indonesia terhadap Palestina sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka," ujar Al-Habbash saat menghadiri acara Muhadhoroh 'Ammah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (27/9/2026).


Al-Habbash menceritakan bahwa pada era awal kemerdekaan Indonesia, Mufti Palestina menjadi salah satu orang pertama yang turut menyerukan pengakuan kemerdekaan Indonesia.


"Pada tahun 1945—yang saat itu belum menjadi negara, belum merdeka, bahkan kami belum meraih kemerdekaan hingga saat ini. Nah, sejak tahun tersebut, para ulama dan pemimpin kami telah mengumumkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945 ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Haji Amin Al-Husseini, pemimpin besar Palestina, pernah datang ke Indonesia dan merupakan salah satu tokoh awal yang menyuarakan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia," kenangnya.


Selain hubungan sejarah, Al-Habbash menyebut hubungan yang terjalin antara Indonesia dengan Palestina sebab berasal dari ikatan agama yang sama.


"Kita disatukan dan dipererat oleh ikatan Islam. Alhamdulillah, agama kita satu. Lebih dari 87 persen penduduk Indonesia adalah Muslim, dan di Palestina mayoritas mutlak lebih dari 99 persen juga Muslim. Islamlah yang menyatukan hati dan pikiran kita," ujar perwakilan ulama Palestina dalam sambutannya.


Al-Habbash mengatakan bahwa dirinya sangat bersemangat dalam acara Muhadhoroh 'Ammah tersebut. Ia menyatakan bahwa hubungan silaturahmi harus dilakukan secara langsung meski tidak setiap hari.


"Meskipun perjalanan cukup berat, dan ada kesulitan perjalanan dari Palestina akibat pendudukan, kami tetap sangat bersemangat dan berupaya untuk datang menemui kalian secara langsung. Sebab, silaturahmi, komunikasi, dan pertemuan itu harus dilakukan secara langsung, tidak hanya dari jauh, melainkan kita perlu bertemu tatap muka dari waktu ke waktu," ungkapnya.


Selanjutnya, Al-Habbash menyampaikan komitmen untuk mengirim dai dari Palestina melalui berbagai program keagamaan. Hal tersebut, kata Al-Habbash, guna untuk menjaga komunikasi dan silaturahmi secara langsung dengan umat Islam di Indonesia.


"Insyaallah ke depan kami akan berkoordinasi dengan pimpinan Nahdlatul Ulama untuk mengirimkan para dai, imam, dan ulama dari Palestina secara berkala dan berkelanjutan. Hal ini agar mereka bisa hadir langsung, berbincang, dan berbagi kondisi terkini di Palestina kepada Anda sekalian," ungkapnya.


Di akhir penyampaiannya, Al-Habbash mengajak para santri dan peserta yang hadir untuk membuka ruang dialog interaktif daripada sekadar mendengarkan pidato panjang.


"Pidato yang terlalu panjang terkadang saling melupakan. Hal yang paling baik adalah kita berdialog, berdiskusi, dan saling bertanya jawab agar informasi dan pemahaman dapat tersampaikan secara langsung dan jelas," pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang