Nasional

Perjuangan Banser Kalbar Tempuh 20 Kilometer Pikul Pompa Padamkan Karhutla

NU Online  ·  Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Perjuangan Banser Kalbar Tempuh 20 Kilometer Pikul Pompa Padamkan Karhutla

Personel Satkorcab Banser Kabupaten Bengkayang berupaya padamkan api di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, Sabtu (10/10/2026) (Dok GP Ansor Kalbar)

Jakarta, NU Online

Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan peralatan hingga sulitnya akses sumber air. Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) bahkan harus berjalan kaki sejauh 15 hingga 20 kilometer sambil memikul mesin pompa dan selang untuk menjangkau titik api.

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan terbakar di Kalbar mencapai 2.500 hektare dengan 201 titik api hingga Jumat (30/10/2026) pukul 09.30 WIB.

 

Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Kasatkorwil) Banser Kalbar Muhammad Hasin mengatakan, setiap hari sebanyak 15 personel Banser diterjunkan ke sejumlah titik di Kabupaten Kubu Raya. Sementara itu, sekitar 10 anggota lainnya bertugas di Desa Sungai Malaya dan Mika Timur.

 

“Anggota kami itu memang agak terbatas, karena anggota yang turun hanya ada beberapa yang bergabung dengan TNI, Polri, kemudian dengan Pemda,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (29/10/2026).

 

Wilayah penanganan karhutla oleh Banser meliputi Kabupaten Kubu Raya, terutama Kecamatan Sungai Raya, Rasau Jaya, dan Sungai Ambawang. Selain itu, personel juga menjangkau Kabupaten Mempawah, Ketapang, Melawi, dan Bengkayang.

 

Hasin menjelaskan, kebakaran di sekitar Kota Pontianak mulai mereda seiring turunnya hujan. Namun, kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, seperti Ketapang dan Kayong Utara, karena hujan belum turun secara merata.

 

“Kebakaran yang di daerah Ketapang dengan di Kayong Utara itu jauh dari pemukiman warga,” katanya.

 

Menurut Hasin, persoalan kabut asap masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Kalbar. Sejak Agustus hingga Oktober 2026, dampak asap masih dirasakan warga, termasuk di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Mempawah.

 

“Jadi beberapa bulan ini untuk masalah dampak asap itu dari mulai Agustus itu sampai sekarang itu masih sangat terasa. Meskipun ada di daerah Kota Pontianak dengan Kubu Raya atau Mempawah, meskipun itu mulai ada hujan, cuman dampak asap itu sampai sekarang itu masih sangat pekat. Sampai saat ini untuk melihat matahari masih belum bisa melihat,” tuturnya.

 

Ia mengungkapkan, upaya pemadaman di lapangan terkendala keterbatasan peralatan, minimnya persediaan air, serta tidak tersedianya masker khusus untuk melindungi anggota dari paparan asap kebakaran.

 

“Minimnya alat pemadam, seperti yang mencukupi air, peralatan kaya masker yang anti asap itu, bahkan anggota kami ada yang berjalan kaki 15 sampai 20 kilo sambil memikul pompa dan selang berat,” ucapnya.

 

Kendala tersebut semakin berat karena sebagian wilayah Kalbar merupakan lahan gambut. Api yang terlihat padam di permukaan tanah ternyata masih dapat menyala di bawahnya sehingga membutuhkan penanganan lebih intensif.

 

“Jadi meskipun kita itu semprot dengan air, itu nggak serta-merta mati. Di bawahnya itu masih hidup kalau sudah kena ke tanah gambut itu,” ujar Hasin.

 

Jauhnya sumber air juga membuat proses pemadaman semakin sulit. Ketika sumber air mengering, anggota Banser terpaksa menggunakan peralatan seadanya, seperti ranting kayu, untuk membantu mengendalikan api.

 

“Kita itu memadamkan api di lapangan itu kaya memakai alat seadanya aja, kaya ranting kayu atau segala macam, karena akses air itu sangat jauh dari titik kebakaran tersebut, kering airnya,” katanya.

 

Hasin mencontohkan kebakaran di kampungnya yang diperkirakan mencapai hampir 10 hektare. Meskipun warga dan petugas pemadam kebakaran telah berupaya memadamkan api, keterbatasan sumber air membuat penanganan tidak berjalan maksimal.

 

“Ya enggak bisa berbuat banyak, karena airnya memang nggak ada yang mau disedot, yang mau disiram pakai air itu nggak ada. Makanya yang jalan satu-satunya ya pakai ranting,” katanya.

 

Selain menghadapi kesulitan pemadaman, anggota Banser juga harus berjibaku dengan paparan asap tanpa perlindungan pernapasan yang memadai. Selama bertugas, mereka hanya menggunakan masker biasa, bukan masker khusus untuk melindungi saluran pernapasan dari asap kebakaran.

 

“Selama anggota kami turun ke lapangan itu hanya memakai masker biasa, tidak ada masker khusus yang seperti pelindung asap, tidak ada juga yang tidak pakai masker. Itu tantangan terburuk bagi kami,” ucap Hasin.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang