Prihatin Perundungan Anak Down Syndrome, PBNU: Pemahaman mengenai Disabilitas Perlu Diperkuat
NU Online · Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:30 WIB
Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bahrul Fuad menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus perundungan terhadap Z, anak berusia 10 tahun dengan Down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya.
Menurut Bahrul, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas, termasuk anak-anak, masih rentan mengalami kekerasan, perundungan, stigma, dan diskriminasi di tengah masyarakat.
“Kasus ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai disabilitas masih perlu terus diperkuat. Penyandang disabilitas masih kerap dipandang sebagai individu yang lemah, berbeda, atau dianggap tidak sesuai dengan standar ‘normal’ yang dibentuk masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, cara pandang tersebut dapat melahirkan stigma dan diskriminasi, bahkan menjadi pembenaran atas tindakan perundungan. Padahal, setiap anak, baik dengan maupun tanpa disabilitas, memiliki martabat dan hak yang sama untuk mendapatkan rasa aman, penghormatan, serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan.
PBNU mengapresiasi langkah kepolisian yang telah menangani kasus tersebut. Namun, Bahrul menekankan pentingnya penanganan yang proporsional dan adil dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan anak, mengingat pihak-pihak yang diduga terlibat dalam perundungan juga masih berusia anak.
“Penegakan hukum tetap penting, tetapi kasus ini juga harus menjadi ruang pembelajaran dan pendidikan. Kita perlu memastikan adanya pemulihan bagi korban, sekaligus pendekatan edukatif terhadap anak-anak yang terlibat agar mereka memahami bahwa perundungan dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak dapat dibenarkan,” tegasnya.
Bahrul berharap kasus tersebut menjadi momentum untuk memperkuat edukasi publik mengenai disabilitas, terutama di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Menurutnya, pemahaman mengenai hak, keberagaman, dan inklusi disabilitas perlu diperkuat agar menjadi bagian dari pendidikan sosial masyarakat.
“Kita berharap kasus seperti ini tidak terulang. PBNU berkomitmen untuk terus meningkatkan pemahaman mengenai inklusi disabilitas melalui pengembangan program, pendidikan, pelayanan, dan kegiatan sosial-keagamaan yang berperspektif disabilitas,” ungkapnya.
Ia menegaskan, inklusi perlu dibangun sejak dini agar setiap anak tumbuh dengan kesadaran untuk menghormati perbedaan dan menjaga martabat sesama. Dengan demikian, penyandang disabilitas dapat hidup setara dan diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
3
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
4
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
5
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
6
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
Terkini
Lihat Semua