Yogyakarta, NU Online
Malam itu, jagat kayangan dibuat gempar dan para dewa ketakutan karena amarah seorang raja raksasa bernama Kala Pracona. Amarah Kala Pracona disebabkan karena keinginannya untuk mempersunting dewi kayangan yang bernama Dewi Supraba, ditolak mentah-mentah oleh Bhatara Guru.<>
Para dewa pun kuwalahan menghadapi kemarahan Kala Pracona dengan bala tentara raksasanya. Bhatara Narada turun dari kayangan mencari jago ke Mayapada atas perintah Bhatara Guru. Akhirnya, Jabang Bayi Tetuko yang baru beurmur 15 hari , anak dari Werkudara dan Dewi Arimbi dijadikan jago para dewa.
Setelah dilemparkan ke Kawah Candradimuka, Jabang Bayi Tetuko dengan sekejap berubah menjadi dewasa dengan kesaktian yang luar biasa. Kala Pracona akhirnya bisa dikalahkan oleh Jabang Bayi Tetuko yang diberi nama Raden Gatotkaca.
Seperti itulah kisah singkat pagelaran wayang dengan lakon Lahirnya Tetuko atau Raden Gatotkaca di lapangan Piyungan Bantul, Yogyakarta, Sabtu (11/5) malam lalu. Pagelaran wayang dengan dalang Ki Cermo Radyo Harsono tersebut merupakan rangkain acara yang digelar oleh PWNU DIY dalam menyambut harlah NU yang ke-90.
Dalam sambutannya, KH. Asyari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, mengungkapkan bahwa dipilih lakon lahirnya tetuko dalam pagelaran wayang tersebut, dengan harapan, nantinya bangsa Indonesia juga memiliki pemimpin yang seperti Raden Gatotkaca.
“Dengan adanya pagelaran wayang yang mengambil lakon Lahirnya Tetuko ini, Saya berharap suatu saat nanti bangsa Indonesia akan memiliki pemimpin seperti radeng gatot koco yang bisa melindungi dan mengayomi masyarakatnya,” ujar KH. Asy’ari.
Dalam kesempatan itu juga, KH. Asyari juga mengajak masyarakat NU untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kebudayaan asli Indonesia.
“Mari kita jaga dan lestarikan kebudayaan lokal seperti wayang kulit ini, yang sejatinya merupakan warisan para Wali Songo agar tetap lestari,” tandasnya.
Acara pagelaran wayang yang dimulai sejak pukul 09.30 tersebut, dihadiri oleh warga Piyungan dan sekitarnya. Mereka berduyun-duyun datang memenuhi lapangan Piyungan untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut. Tapi sayang sekali, hanya sedikit sekali para muda-mudi yang datang.
Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi kemeriahan acara, sesekali lapangan Piyungan Bantul bergetar karena gelak tawa penonton akibat guyonan-guyonan yang dilontarkan Sang dalang lewat wayang-wayangnya. Sebelum acara pegelaran wayang dimulai, Kolaborasi Shalawat Arab-Jawa-Tionghoa menggema di lapangan piyungan bantul dengan merdu.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor: Jumadi/Rokhim
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
2
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
3
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
4
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
5
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
6
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
Terkini
Lihat Semua