Rais Aam PBNU Pimpin Doa Hari Santri 2026, Berharap Kebaikan untuk Jamiyah NU
NU Online · Kamis, 22 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat memimpin doa pada apel Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026). (Foto: NU Online/Umi Kholifah)
Umi Kholifah
Kontributor
Jombang, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar didapuk memimpin pembacaan doa pada apel Hari Santri 2026 yang diselenggarakan oleh PBNU di Lapangan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).Â
Dalam kesempatan itu, Kiai Miftach melangitkan doa agar Allah swt dapat menganugerahkan kehidupan yang baik nan ideal untuk jam'iyah Nahdlatul Ulama.
"Ya Allah, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Hidupkanlah jam'iyah kami, jam'iyah Nahdlatul Ulama dengan kehidupan toyibah, kehidupan baik dan ideal sesuai kehendak-Mu," ujarnya diiringi amin ribuan santri dengan balutan busana putih.
Oleh karena itu, ia memohon agar umat Islam, khususnya warga Nahdliyin, dapat dicukupi segala kebutuhannya dan rezeki yang mengarahkan pada ketakwaan.
"Maka jadikanlah hati sebagai manusia cenderung senang dengan mereka dan berilah mereka Rizki dari macam-macam buah-buahan kebutuhan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. Dan karuniakanlah mereka rezeki berupa kekuatan yang mengalahkan kebatilan, kezaliman, ketidaksenonohan, dan keburukan agar mereka bertakwa," lanjutnya.
Dalam doanya, Kiai Miftach juga melangitkan harapan agar hati para ulama dan umat Islam dapat dibangunkan dari kelalaiannya.
"Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari tidurnya, kelalaiannya yang dalam dan berkepanjangan. Dan tunjukilah mereka ke Jalan petunjuk-Mu," katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu juga menyelipkan ajakan refleksi bagi para ilmuwan, santri, dan ulama agar senantiasa menjauhi sifat sombong atas ilmu yang dimiliki. Ia menegaskan bahwa segala ilmu tidak ada apa-apanya tanpa petunjuk dan hidayah dari Allah swt.
"Ilahi, kamilah orang yang jahil di saat menyandang gelar ilmuwan, ulama. Betapa hal ini tiada yang lebih jahil manakala nyata-nyata kami ini jahil," lanjutnya.
"Ilahi, manakala lahir dari kami kebaikan itu lantaran kasih dan karunia-Mu jua. Engkau berhak menuntut kami jika ada kejahatan dari kami. Itu semua lantaran keadilanmu engkau berhak menjalankan kami," lanjutnya.
Kiai Miftach juga memohon perlindungan kepada Allah swt atas segala keburukan dan kegelapan, serta murka-Nya.
"Kami berlindung dengan cahaya zat-Mu yang telah Engkau pancarkan ke segala arah kegelapan. Menjadi baiklah di atasnya segala urusan dunia dan akhirat. Kami berlindung daripada turunnya murka-Mu atau berlakunya atas kami murka-Mu," katanya penuh harap.
"Kepada-Mu, pengaduan yang sungguh-sungguh sehingga mencapai keridhaan-Mu. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu," lanjutnya.
Â
Dengan penuh kerendahan, Kiai Miftach juga mendaku sebagai orang yang fakir. "Ya Allah. kami adalah fakir di saat orang lain menganggap kami kaya. Kami tidak bisa membayangkan betapa makin fakirnya kami manakala orang lain yakin kami betul-betul fakir," katanya.
Oleh karena itu, Kiai Miftach menegaskan kepasrahan diri kepada Allah swt yang Maha Penyayang.
"Ya Allah yang maha penyayang, mengatasi segala yang menyayangi, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhan kami. Kepada siapa, engkau serahkan diri kami ini, kepada orang jauh yang memandang kami dengan muka masam atau kepada musuh yang ingin menguasai diri kami, jika tiada murka-Mu terhadap diri kami, kami tidak peduli, tapi kemaafan-Mu lebih luas kepada kami," katanya.
Sebelumnya, Kiai Miftach mengajak segenap peserta apel untuk meluruskan niat dan berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon kepada Allah swt dengan penuh ketundukan dan kehadiran hati agar segala harapan dikabulkan.
"Kita luruskan niat, kita memohon kepada Allah dengan kekhusyukan dan kekhuduran, agar apa yang kita harapkan segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Amin ya rabbal 'alamin. Al-Fatihah," ajaknya.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
3
Ketum GP Ansor: Keteladanan KH Abbas Buntet Layak Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional
4
Akhir Perang AS-Israel Versus Iran
5
Masyarakat Sipil Gelar Aksi di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani Besok, Soroti Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua