Nasional

Refleksi Sumpah Pemuda, Generasi Muda Harus Berani Berkontribusi

NU Online  ·  Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Refleksi Sumpah Pemuda, Generasi Muda Harus Berani Berkontribusi

Seorang pengunjung sedang melihat replika sidang Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya No.106, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).

Jakarta, NU Online
 
Peringatan Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai dengan mengenang perjuangan para pendahulu. Generasi muda perlu menerapkan nilai persatuan, mencintai Tanah Air, dan berani berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan bangsa. Semangat tersebut sejalan dengan tema Sumpah Pemuda tahun ini, yakni “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.


Mahasiswa Universitas Indonesia, Fathan Mubina, mengatakan, kunjungannya ke Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Senen, Jakarta Pusat, menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh sejarah perjuangan pemuda Indonesia.


“Kebetulan hari ini saya ada tur lap dari kampus, dan juga kebetulan kan besok Sumpah Pemuda nih, jadi sekalian pengin menelusuri lebih jauh tentang museum ini,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (27/10/2026).


Menurutnya, memaknai Sumpah Pemuda dapat dilakukan dengan menghargai perjuangan para pahlawan, khususnya generasi muda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


“Untuk memaknai Sumpah Pemuda itu mungkin kita lebih menghargai gitu para pahlawan-pahlawan sejarah, khususnya anak muda pada saat itu untuk memperjuangkan kemerdekaan yang ada di Indonesia,” tuturnya.


Fathan berharap generasi muda, khususnya Generasi Z, semakin memperkuat persatuan dan kebersamaan agar Indonesia dapat berkembang lebih baik.


“Harapan aku pribadi semoga anak-anak muda yang ada di Indonesia khususnya Gen Z itu lebih bersatu gitu, untuk apa ya, lebih guyub gitu untuk Indonesia agar lebih maju ke depannya,” katanya.


Senada, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Karlin Abrar M. menilai nilai-nilai Sumpah Pemuda perlu dipelajari sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Ia mengatakan bahwa mahasiswa dan pelajar memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat kebangsaan melalui tindakan nyata.


“Dari Sumpah Pemuda, pasti kita harus mencoba melestarikan apa arti Sumpah Pemuda dan itu perlu dipelajari lebih dalam juga sebagai seorang mahasiswa, seorang pelajar, dan bukan hanya dipelajari aja gitu, apa sih arti Sumpah Pemuda dan lain-lain,” ungkapnya.


Karlin menyampaikan bahwa pemahaman mengenai Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada pengetahuan sejarah. Kecintaan terhadap Indonesia perlu diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.


“Tetapi juga perlu diterapkan nih, diterapkannya itu mungkin seperti kita harus tetap mencintai nih terkait Indonesia gitu, terkait bangsa kita gitu, harus berperan aktif juga sebagai mahasiswa, sebagai pelajar gitu,” ujarnya.


Ia mengingatkan bahwa pemuda perlu mengambil bagian dalam merespons berbagai persoalan yang sedang dihadapi Indonesia. Menurutnya, kontribusi tidak harus terbatas pada kegiatan seremonial, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap informasi dan keadaan bangsa.


“Harapan untuk pemuda Indonesia nih ke depannya. Tadi sih yang aku bilang harus berperan aktif dan ikut berkontribusi ya merayakan apa namanya acara-acara dari Indonesia atau mungkin berperan aktif dalam info-info yang saat ini terjadi gitu. Kayak mungkin keadaan Indonesia yang sekarang lagi darurat gitu, mungkin ada partisipasi dari pemuda-pemudinya,” kata Karlin.


Sementara itu, Pemandu Museum Sumpah Pemuda, Rahmat Widodo, menjelaskan bahwa museum tersebut diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada 1973. Setahun kemudian, museum diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto.


“Sejarah singkatnya untuk museum ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1973. Baru setahun selanjutnya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia kedua, Bapak Soeharto,” tuturnya.


Rahmat menyebut salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah biola asli milik WR Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya.


“Untuk koleksi di sini yang paling bikin menarik adalah di sini kita ada biola asli dari pencipta lagu Indonesia Raya yaitu Bapak W. R. Soepratman (W. R. Soepratman). Ada koleksi biola asli beliau di tempat ini,” katanya.


Ia mengatakan jumlah pengunjung museum cenderung relatif sama setiap hari. Namun, kunjungan meningkat tajam selama Oktober, bertepatan dengan peringatan Bulan Pemuda.


“Antusias pengunjung setiap harinya sih hampir rata-rata sama. Cuman di momen bulan pemuda ini Oktober, pengunjung drastis bisa naik 300 persen lebih. Hanya khusus di bulan pemuda ini di bulan Oktober,” ungkapnya.


Rahmat juga menyampaikan bahwa museum baru-baru ini mendapat perhatian pemerintah melalui pemugaran dan revitalisasi, termasuk perubahan tata letak koleksi untuk menarik lebih banyak pengunjung, terutama kalangan muda.


“Alhamdulillah untuk perhatiannya di sini ada perhatian dari pemerintah sendiri di mana belum lama museum ini dipugar, di mana direvitalisasi, terus untuk tata letak koleksi juga berubah sehingga ini bisa menarik pengunjung-pengunjung terutama kalangan muda untuk datang ke Museum Sumpah Pemuda,” ujarnya.


Museum Sumpah Pemuda beroperasi Selasa hingga Kamis pukul 08.00-16.00 WIB dan Jumat pukul 08.00-16.30 WIB. Museum tutup setiap Senin untuk perawatan. Harga tiket masuk sebesar Rp3.000 untuk anak-anak dan Rp5.000 untuk dewasa.


Ia berharap generasi muda mengunjungi museum untuk mempelajari perjuangan para pendahulu dalam membangun persatuan. Ia menegaskan, persatuan pemuda di Hindia Belanda menjadi modal penting bagi kemerdekaan Indonesia.


“Untuk pemuda bisa melihat perjuangan pemuda-pemuda kala itu di museum ini, di mana mereka berjuang untuk mempersatukan pemuda-pemuda yang ada di Hindia Belanda, di mana untuk persatuan itu menjadi modal untuk kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkas Rahmat.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang