Nasional

Satu Tahun POMI, Orang Muda Diajak Perkuat Gerakan Kritis dan Solidaritas Lintas Komunitas

NU Online  ·  Rabu, 4 November 2026 | 11:00 WIB

Satu Tahun POMI, Orang Muda Diajak Perkuat Gerakan Kritis dan Solidaritas Lintas Komunitas

Penggerak Orang Muda Indonesia bersama Lakpesdam NU berfoto bareng usai menyelenggarakan acara bertajuk "Bersatulah Orang Muda" dalam rangka memperingati satu tahun perjalanan POMI, di Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya No 106, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

Jakarta, NU Online

Penggerak Orang Muda Indonesia (POMI) mengajak generasi muda memperkuat konsolidasi gerakan, membangun daya kritis, dan memperluas solidaritas lintas komunitas dalam momentum peringatan satu tahun perjalanannya. Ajakan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk Bersatulah Orang Muda yang digelar di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Selasa (3/11/2026).


Kegiatan yang berlangsung di salah satu tempat bersejarah bagi pergerakan pemuda Indonesia ini menjadi ruang perjumpaan sekaligus refleksi kebangsaan. Melalui kunjungan museum, diskusi, dan refleksi lintas generasi, para peserta diajak menghubungkan semangat persatuan generasi 1928 dengan tantangan sosial, demokrasi, dan ketimpangan yang dihadapi generasi muda saat ini.


Direktur Lakpesdam PBNU Asrul Raman mengapresiasi kegiatan POMI karena dinilai mampu membuka ruang bagi tumbuhnya daya kritis mahasiswa dan pemuda. Menurutnya, konsolidasi gerakan perlu terus diperkuat, baik secara personal maupun antarkelompok, agar gerakan kemahasiswaan dan kepemudaan memiliki kekuatan dalam mengawal kebijakan negara.


Ia menegaskan, masyarakat sipil dan organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab historis untuk menjaga sikap kritis terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Kontrol masyarakat diperlukan agar kebijakan negara semakin berpihak kepada kepentingan publik, terutama kelompok masyarakat yang terpinggirkan.


Asrul juga menjelaskan bahwa penguatan gerakan kritis tersebut sejalan dengan berbagai inisiatif yang telah dilakukan melalui program Lampetan. Program ini telah berjalan di sejumlah wilayah, termasuk melalui konsolidasi dan diskusi kritis di tujuh provinsi.


Pada tahun sebelumnya, berbagai kelompok orang muda di tujuh provinsi tersebut telah menggelar diskusi untuk membahas ketimpangan dan persoalan sosial di daerah masing-masing. Forum-forum itu menjadi ruang penyampaian pandangan kritis sekaligus masukan terhadap kebijakan pemerintah daerah.


Menurut Asrul, isu yang dibicarakan tidak terbatas pada demokratisasi pemerintahan, tetapi juga mencakup persoalan masyarakat kurang beruntung dan kelompok-kelompok yang selama ini mengalami marginalisasi.


Ia berharap gerakan yang dibangun POMI dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk terlibat aktif dalam merespons persoalan di lingkungan masing-masing. Solidaritas antarkomunitas, katanya, perlu diperluas agar terbentuk mata rantai gerakan yang kuat dalam menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tingkat lokal hingga tantangan global.


Sementara itu, Presiden Penggerak Orang Muda Indonesia (POMI) Suparianto dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya menjadikan peringatan satu tahun POMI sebagai momentum memperluas jejaring dan memperkuat komitmen persatuan orang muda.


Melalui tema Bersatulah Orang Muda, POMI ingin menghadirkan ruang perjumpaan yang melampaui batas organisasi, identitas, dan latar belakang. Persatuan, menurut semangat kegiatan ini, tidak cukup berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui interaksi, pembelajaran, solidaritas, dan kerja bersama.


Persatuan yang dibangun para pemuda pada 1928, lanjutnya, menjadi pelajaran bahwa perbedaan bukan penghalang untuk merumuskan cita-cita bersama bagi Indonesia.


Menghadirkan perspektif perempuan dalam sejarah pergerakan

Dalam refleksi sejarah, Program Manager INKLUSI, Dentu Piawai Nastitie, mengingatkan pentingnya menghadirkan perspektif gender dalam membaca sejarah bangsa, termasuk sejarah perjuangan kemerdekaan dan peristiwa Sumpah Pemuda.


Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa perempuan juga memiliki kontribusi penting dalam membangun pergerakan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, kontribusi tersebut kerap belum mendapatkan ruang apresiasi yang setara dalam narasi sejarah.


Ia mencontohkan representasi tokoh perempuan di Museum Sumpah Pemuda. Meskipun sosok perempuan turut dihadirkan dalam sejumlah pajangan sejarah, keberadaannya belum tampak menonjol dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.


Karena itu, ia mendorong orang muda untuk membaca sejarah secara lebih kritis dan inklusif, sehingga kontribusi perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa.


Menjaga idealisme dan konsistensi gerakan

Semangat gerakan orang muda juga disampaikan aktivis 1998 sekaligus perwakilan Amnesty International, Usman Hamid. Ia mendorong generasi muda agar tetap konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai idealisme dan tidak mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan berbagai tawaran kekuasaan maupun jabatan.


Menurutnya, gerakan kepemudaan membutuhkan komitmen jangka panjang. Idealisme harus tetap menjadi pijakan agar orang muda tidak mudah tergoda oleh kepentingan pragmatis yang justru dapat menjauhkan mereka dari cita-cita perjuangan.


Sementara itu, Kepala Sekolah Pendidikan Kritis, Nafisatus Suroya, mengajak orang muda memperkuat tradisi refleksi dan keberanian mengambil peran dalam perubahan sosial.


Ia menekankan bahwa generasi muda tidak cukup hanya memosisikan diri sebagai agent of change atau agen perubahan. Lebih dari itu, orang muda harus mampu menjadi penggerak yang mengambil inisiatif, membangun kesadaran kolektif, dan memastikan perubahan benar-benar berlangsung di tengah masyarakat.


Melalui kegiatan ini, POMI berharap Museum Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi titik berangkat bagi tumbuhnya kesadaran dan gerakan baru generasi muda.


Peringatan satu tahun POMI pun menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan masa lalu. Persatuan harus terus dirawat melalui keberanian berpikir kritis, kesediaan bekerja sama, penghormatan terhadap keberagaman, serta keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.


Dengan demikian, orang muda tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi juga aktor yang menentukan arah masa depan Indonesia.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang