Yogyakarta, NU Online
Banyak di antara masyarakat tidak menyadari bahwa sebelum Indonesia merdeka pesantren berperan besar bagi bangsa, karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling lama. Melalui militansi yang dibangun di pesantren, perjuangan kemerdekaan Indonesia dimulai.<>
Demikian dalam kegiatan pra Satu Abad Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, yang diselenggarakan oleh organisasi alumni pondok pesantren di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bertema “Peran Pesantren dalam mewujudkan karakter bangsa”, Kamis (21/3.
“Dengan pendidikan yang diberikan oleh pesantren, para pejuang bangsa dapat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kata wakil keluarga alumni Salafiyah-Syafi’iyah, Yuna Warahsari saat memberikan sambutan.
Ia mengatakan, selain mendidik, pesantren saat ini juga terus berkontribusi untuk membangun bangsa lewat alumni-alumninya. Karena bukan hanya sekedar kecerdasan kognitif yang di tanamkan dalam pesantren, tetapi juga pendidikan spiritual.
Forum alumni pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo dinamakan Kamasta. Seminar kali ini merupakan rangkaian acara yang pertama dari peringatan pra satu abad pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo.
“Setelah acara ini selesai dilanjutkan dengan acara pertemuan alumni nasional di Kaliurang Yogyakarta,” ungkap ketua panitia, Hamzah Karim.
Seminar yang diadakan oleh Kamasta ini diikuti oleh para alumni pondok pesantren, mahasiswa serta alumni Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo. Tema yang dipilih oleh panitia kelihatannya memang sepele, akan tetapi di balik tema tersebut ada kekuatan yang besar untuk menentukan karakter bangsa yaitu pesantren, kata Hamzah.
Sebelum seminar dimulai, KHR. Azaim Ibrahimy Pengasuh Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara seminar nasional. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa pesantren adalah wadah terbesar yang melahirkan tokoh-tokoh bangsa.
“Dengan menghargai serta melestarikan kearifan lokal pesantren, kita dapat menentukan ke arah mana karakter bangsa kita tentukan. Karena pesantren dapat berkontribusi besar bagi bangsa ini,” jelasnya.
“Jangan sampai organisasi alumni pesantren ini menjadi sesuatu hal yang menkooptasi kreatifitas para alumni untuk terus berkarya. Organisasi alumni adalah simbol dari sambungan spiritual para santri dengan pesantrennya,” lanjutnya
Seminar nasional kali ini menghadirkan empat pembicara, yakni KH A. Malik Madany (Katib Aam PBNU), Zaini Rahman selaku alumni serta salah satu penggagas Kamasta yang sekarang menjabat sebagai anggota DPR RI, kemudian KH Muhiddin Khatib dan Ahmad Baso, penulis buku Pesantren Studies.
“Tema kali ini memang sangat penting untuk dibahas, karena dewasa ini, karakter bangsa tidak terarah. Dengan mempunyai karakter, maka bangsa ini mempunyai eksistensi,” kata KH Malik Madani.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor: Rokhim Bangkit-Solikhin
Terpopuler
1
Gus Kikin Kenang Perjuangan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid untuk NU
2
Kiai Miftach Ingatkan Pentingnya Wirid hingga Akhir Hayat
3
Data Hilal Awal Bulan Jumadal Ula 1448 H
4
Status Gunung Anak Krakatau Siaga, Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius 5 Km
5
Kemenhaj Cabut Izin KBIHU Al-Fatah karena Palsukan Data Dam dan Badal Haji
6
Material Pemadam Karhutla dari Brasil Diuji di Sumsel, Diklaim 10 Kali Lebih Efektif
Terkini
Lihat Semua