Syariah

Dua Cara Menahan Amarah Menurut Imam Al-Ghazali

NU Online  Ā·  Selasa, 9 April 2019 | 05:40 WIB

Dua Cara Menahan Amarah Menurut Imam Al-Ghazali

Ilustrasi (freepik)

Pernahkah anda marah? Di antara kita pasti pernah marah. Punya perasaan marah adalah sesuatu yang wajar. Nabi, sahabat dan para ulama juga pernah marah. Namun, yang paling penting diperhatikan adalah atas dasar apa kita marah dan bagaimana kita menyikapi gejolak itu: menahannya atau membiarkannya hingga memunculkan perlaku lanjutan, seperti berkata kasar, melukai orang lain, merusak barang, dan semacamnya.

Ada beberapa penjelasan tentang sisi negatif marah. Di antaranya:

ŁˆŁŽŲ±ŁŁˆŁŁŠŁŽ Ų£ŁŽŁ†Ł’ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„Ł‹Ų§ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: ŁŠŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡ŁŲŒ Ł…ŁŲ±Ł’Ł†ŁŁŠ ŲØŁŲ¹ŁŽŁ…ŁŽŁ„Ł ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁ‚Ł’Ł„ŁŁ„Ł’ŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲŗŁ’Ų¶ŁŽŲØŁ’ŲŒ Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ Ų£ŁŽŲ¹ŁŽŲ§ŲÆŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲŗŁ’Ų¶ŁŽŲØŁ’Ā 

ā€œSeorang laki-laki pernah meminta nasihat, ā€˜Wahai Rasulullah, perintahlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).’ Nabi menjawab, ā€˜Jangan marah.’ Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, ā€˜Jangan marah’.ā€Ā  (HR al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

ŁˆŁ‚Ų§Ł„ ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆ قال Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ ŲµŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ…ŁŽ Ł…ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ¹ŁŲÆŁ‘ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų§Ł„ŲµŁ‘ŁŲ±ŁŽŲ¹ŁŽŲ©ŁŽ ŁŁŁŠŁƒŁŁ…Ł’ Ł‚ŁŁ„Ł’Ł†ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠ Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲµŁ’Ų±ŁŽŲ¹ŁŁ‡Ł Ų§Ł„Ų±Ł‘ŁŲ¬ŁŽŲ§Ł„Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ł„ŁŽŁŠŁ’Ų³ŁŽ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁƒŁŁ†Ł Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠ ŁŠŁŽŁ…Ł’Ł„ŁŁƒŁ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ الغضب

ā€œIbnu Mas’ud berkata, Nabi bertanya, ā€˜Siapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa?’ Kami menjawab, ā€˜Dia yang tidak bisa dikalahkan keperkasaannya oleh siapa pun.’ Nabi menimpali, ā€˜Bukan demikian, akan tetapi yang perkasa adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah’.ā€ (HR Muslim)

Jakfar bin Muhammad berkata:

Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ Ł…ŁŁŁ’ŲŖŁŽŲ§Ų­Ł ŁƒŁŁ„Ł‘Ł Ų“ŁŽŲ±Ł‘Ł

ā€œMarah adalah kunci dari setiap keburukan.ā€

Lalu bagaimana tips kita agar bisa menahan amarah?

Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi memaparkan bahwa ketika amarah memuncak, ada dua cara luapan emosi itu bisa diredam. Pertama, dengan ilmu. Kedua, dengan amal.

• Dengan Ilmu

Dari sisi ilmu, al-Imam al-Ghaazali menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŁ„Ł: Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁŁŽŁƒŁ‘ŁŽŲ±ŁŽ ŁŁŁŠŁ…ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ±ŁŽŲÆŁŽ فِي ŁŁŽŲ¶Ł’Ł„Ł ŁƒŁŽŲøŁ’Ł…Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŁŠŁ’ŲøŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁŁ’ŁˆŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų­ŁŁ„Ł’Ł…Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŁŲ§Ų­Ł’ŲŖŁŁ…ŁŽŲ§Ł„ŁŲŒ ŁŁŽŁŠŁŽŲ±Ł’ŲŗŁŽŲØŁŽ فِي Ų«ŁŽŁˆŁŽŲ§ŲØŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŲŖŁŽŁ…Ł’Ł†ŁŽŲ¹ŁŁ‡Ł Ų§Ł„Ų±Ł‘ŁŽŲŗŁ’ŲØŁŽŲ©Ł فِي Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„ŁŲ§Ł†Ł’ŲŖŁŁ‚ŁŽŲ§Ł…ŁŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŽŁ†Ł’Ų·ŁŽŁŁŲ¦Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł ŲŗŁŽŁŠŁ’ŲøŁŁ‡Ł.

ā€œPertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.ā€

Ų§Ł„Ų«Ł‘ŁŽŲ§Ł†ŁŁŠ: Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŲ®ŁŽŁˆŁ‘ŁŁŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŽŁ‡Ł ŲØŁŲ¹ŁŁ‚ŁŽŲ§ŲØŁ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ł„ŁŽŁˆŁ’ Ų£ŁŽŁ…Ł’Ų¶ŁŽŁ‰ ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁŽŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‡ŁŽŁ„Ł’ ŁŠŁŽŲ£Ł’Ł…ŁŽŁ†Ł مِنْ ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŁŠŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ Ų£ŁŽŲ­Ł’ŁˆŁŽŲ¬Ł Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁƒŁŁˆŁ†Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁŁ’ŁˆŁ

ā€œKedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.ā€

Ų§Ł„Ų«Ł‘ŁŽŲ§Ł„ŁŲ«Ł: Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŲ­ŁŽŲ°Ł‘ŁŲ±ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŲ§Ł‚ŁŲØŁŽŲ©ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲÆŁŽŲ§ŁˆŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŁŲ§Ł†Ł’ŲŖŁŁ‚ŁŽŲ§Ł…ŁŲŒ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ“ŁŽŁ…Ł‘ŁŲ±ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲÆŁŁˆŁ‘Ł Ł„ŁŁ…ŁŁ‚ŁŽŲ§ŲØŁŽŁ„ŁŽŲŖŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų³Ł‘ŁŽŲ¹Ł’ŁŠŁ فِي Ł‡ŁŽŲÆŁ’Ł…Ł Ų£ŁŽŲŗŁ’Ų±ŁŽŲ§Ų¶ŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų“Ł‘ŁŽŁ…ŁŽŲ§ŲŖŁŽŲ©Ł ŲØŁŁ…ŁŽŲµŁŽŲ§Ų¦ŁŲØŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ®Ł’Ł„ŁŁˆ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲµŁŽŲ§Ų¦ŁŲØŁŲŒ ŁŁŽŁŠŁŲ®ŁŽŁˆŁ‘ŁŁŁ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŽŁ‡Ł ŲØŁŲ¹ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł‚ŁŲØŁ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ فِي Ų§Ł„ŲÆŁ‘ŁŁ†Ł’ŁŠŁŽŲ§ ؄ِنْ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ®ŁŽŲ§ŁŁ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¢Ų®ŁŲ±ŁŽŲ©Ł.

ā€œKetiga, menakut-nakuti dirinya tentang akibat dari permusuhan dan pembalasan, bagaimana sergapan musuh untuk membalasnya, menggagalkan rencana-rencananya serta bahagianya musuh saat ia tertimpa musibah, padahal seseorang tidak bisa lepas dari musibah-musibah. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak.ā€

Ų§Ł„Ų±Ł‘ŁŽŲ§ŲØŁŲ¹Ł: Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁŁŽŁƒŁ‘ŁŽŲ±ŁŽ فِي Ł‚ŁŲØŁ’Ų­Ł ŲµŁŁˆŲ±ŁŽŲŖŁŁ‡Ł Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁŲŒ ŲØŁŲ£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ°ŁŽŁƒŁ‘ŁŽŲ±ŁŽ ŲµŁŁˆŲ±ŁŽŲ©ŁŽ ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŁ‡Ł فِي Ų­ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŽŲŖŁŽŁŁŽŁƒŁ‘ŁŽŲ±ŁŽ فِي Ł‚ŁŲØŁ’Ų­Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ فِي Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŲ“ŁŽŲ§ŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ©Ł ŲµŁŽŲ§Ų­ŁŲØŁŁ‡Ł Ł„ŁŁ„Ł’ŁƒŁŽŁ„Ł’ŲØŁ Ų§Ł„Ų¶Ł‘ŁŽŲ§Ų±ŁŁŠ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų³Ł‘ŁŽŲØŁŲ¹Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ§ŲÆŁŁŠŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŲ“ŁŽŲ§ŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…Ł Ų§Ł„Ł’Ł‡ŁŽŲ§ŲÆŁŁŠ Ų§Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŲ§Ų±ŁŁƒŁ Ł„ŁŁ„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ Ł„ŁŁ„Ł’Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲØŁŁŠŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁˆŁ’Ł„ŁŁŠŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų¹ŁŁ„ŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų­ŁŁƒŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų”ŁŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŲ®ŁŽŁŠŁ‘ŁŲ±ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŽŁ‡Ł ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ“ŁŽŲØŁ‘ŁŽŁ‡ŁŽ ŲØŁŲ§Ł„Ł’ŁƒŁŁ„ŁŽŲ§ŲØŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų³Ł‘ŁŲØŁŽŲ§Ų¹Ł ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲ±ŁŽŲ§Ų°ŁŁ„Ł Ų§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲ§Ų³ŁŲŒ ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ“ŁŽŲØŁ‘ŁŽŁ‡ŁŽ ŲØŁŲ§Ł„Ł’Ų¹ŁŁ„ŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲØŁŁŠŁŽŲ§Ų”Ł فِي Ų¹ŁŽŲ§ŲÆŁŽŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł’Ų› Ł„ŁŲŖŁŽŁ…ŁŁŠŁ„ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų­ŁŲØŁ‘Ł Ų§Ł„ŁŲ§Ł‚Ł’ŲŖŁŲÆŁŽŲ§Ų”Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ¤ŁŁ„ŁŽŲ§Ų”Ł ؄ِنْ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł‚ŁŽŲÆŁ’ ŲØŁŽŁ‚ŁŁŠŁŽ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽŁ‡Ł Ł…ŁŲ³Ł’ŁƒŁŽŲ©ŁŒ مِنْ Ų¹ŁŽŁ‚Ł’Ł„Ł

ā€œKeempat, berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari. Berilah pilihan untuk dirimu, apakah lebih memilih serupa dengan anjing, binatang buas dan manusia-manusia hina; ataukah memilih untuk menyerupai ulama dan para nabi di dalam kebiasaan mereka? Agar hatinya condong untuk suka meniru perilaku mereka jika ia masih menyisakan satu tangkai dari akal sehat.ā€

Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŲ§Ł…ŁŲ³Ł: Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁŁŽŁƒŁ‘ŁŽŲ±ŁŽ فِي Ų§Ł„Ų³Ł‘ŁŽŲØŁŽŲØŁ Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠ ŁŠŁŽŲÆŁ’Ų¹ŁŁˆŁ‡Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„ŁŲ§Ł†Ł’ŲŖŁŁ‚ŁŽŲ§Ł…Ł ŁˆŁŽŁŠŁŽŁ…Ł’Ł†ŁŽŲ¹ŁŁ‡Ł مِنْ ŁƒŁŽŲøŁ’Ł…Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŁŠŁ’ŲøŁŲŒ Ł…ŁŲ«Ł’Ł„ŁŽ Ł‚ŁŽŁˆŁ’Ł„Ł Ų§Ł„Ų“Ł‘ŁŽŁŠŁ’Ų·ŁŽŲ§Ł†Ł Ł„ŁŽŁ‡Ł: Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ­Ł’Ł…ŁŽŁ„Ł Ł…ŁŁ†Ł’ŁƒŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ¬Ł’Ų²Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų°Ł‘ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŲŖŁŽŲµŁŁŠŲ±Ł Ų­ŁŽŁ‚ŁŁŠŲ±Ł‹Ų§ فِي Ų£ŁŽŲ¹Ł’ŁŠŁŁ†Ł Ų§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲ§Ų³Ł ŁŁŽŁŠŁŽŁ‚ŁŁˆŁ„Ł Ł„ŁŁ†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł: Ā«Ł…ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ų¬ŁŽŲØŁŽŁƒŁ! ŲŖŁŽŲ£Ł’Ł†ŁŽŁŁŁŠŁ†ŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„ŁŲ§Ų­Ł’ŲŖŁŁ…ŁŽŲ§Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ų¢Ł†ŁŽŲŒ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ£Ł’Ł†ŁŽŁŁŁŠŁ†ŁŽ مِنْ Ų®ŁŲ²Ł’ŁŠŁ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŁŠŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ©ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ­Ł’Ų°ŁŽŲ±ŁŁŠŁ†ŁŽ مِنْ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲµŁ’ŲŗŁŲ±ŁŁŠ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲØŁŁŠŁ‘ŁŁŠŁ†ŁŽĀ» .

ā€œKelima, berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah, semisal ketika dalam hati terdapat bujuk rayu setan; ā€˜Sesungguhnya orang ini membuatmu lemah dan rendah serta menjadikanmu hina di mata manusia’, maka jawablah dengan tegas di hatimu ā€˜Aku heran denganmu. Kamu sekarang mencemoohku karena menahan diri, sedangkan kamu tidak mencemooh dari kehinaan di hari kiamat. Kamu tidak khawatir dirimu akan hina di sisi Allah, para malaikat dan para Nabi’.ā€

ŁŁŽŁ…ŁŽŁ‡Ł’Ł…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲøŁŽŁ…ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŁŠŁ’ŲøŁŽ ŁŁŽŁŠŁŽŁ†Ł’ŲØŁŽŲŗŁŁŠ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŁƒŁ’ŲøŁŁ…ŁŽŁ‡Ł Ł„ŁŁ„Ł‘ŁŽŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ ŁŠŁŲ¹ŁŽŲøŁ‘ŁŁ…ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ الله  

ā€œKetika ia menahan amarah, maka seyogiayanya menahan amarah karena Allah. Yang demikian itu bisa membuatnya agung di sisi Allah.ā€ (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’idhah al-Mu’mini Min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208)

• Dengan Amal

Sedangkan dari sisi amal cara menahan amarah adalah dengan berdzikir membaca ta’awudz, kemudian berusaha menenangkan diri. Carilah posisi yang lebih rileks. Bila dalam keadaan berdiri, maka bisa berganti posisi dengan duduk. Jika dalam keadaan duduk, bisa berganti posisi dengan tidur miring. Dianjurkan pula berwudhu dengan air dingin.

Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:

ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁ…ŁŽŁ„Ł ŁŁŽŲ£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŁ‚ŁŁˆŁ„ŁŽ ŲØŁŁ„ŁŲ³ŁŽŲ§Ł†ŁŁƒŁŽ: Ų£ŁŽŲ¹ŁŁˆŲ°Ł ŲØŁŲ§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ų“Ł‘ŁŽŁŠŁ’Ų·ŁŽŲ§Ł†Ł Ų§Ł„Ų±Ł‘ŁŽŲ¬ŁŁŠŁ…ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ų¦ŁŁ…Ł‹Ų§ ŁŁŽŲ§Ų¬Ł’Ł„ŁŲ³Ł’ŲŒ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁŽ Ų¬ŁŽŲ§Ł„ŁŲ³Ł‹Ų§ ŁŁŽŲ§Ų¶Ł’Ų·ŁŽŲ¬ŁŲ¹Ł’ŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŲ³Ł’ŲŖŁŽŲ­ŁŽŲØŁ‘Ł Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶Ł‘ŁŽŲ£ŁŽ ŲØŁŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł Ų§Ł„Ł’ŲØŁŽŲ§Ų±ŁŲÆŁŲ› ŁŁŽŲ„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲ§Ų±ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲ§Ų±Ł Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ·Ł’ŁŁŲ¦ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł.

ā€œAdapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, A’ûdzu billĆ¢hi minasy syaithĆ¢nir rajĆ®m (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudhu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.ā€ (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’ihhah al-Mu’mini min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208).

Barangkali ekspresi kemarahan menurut sebagian kalangan adalah sebuah perbuatan yang menunjukan ketegasan, keberanian, dan keperkasaan. Mereka tidak sadar bahwa yang demikian tersebut timbul dari kebodohannya, pelakunya tidak mengerti bahwa untuk menunjukan keberanian tidak harus bersikap demikian. Bahkan menurut al-Ghazali perbuatan tersebut menunjukan sakitnya hati dan kurangnya akal. Orang yang bodoh tentang hal ini bisa diobati dengan dibacakan kepadanya hikayat-hikayat tentang ahli pemaaf dan kebaikan-kebaikan yang didapatkan dari mereka.

Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:

ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲ“ŁŽŲÆŁ‘Ł Ų§Ł„Ł’ŲØŁŽŁˆŁŽŲ§Ų¹ŁŲ«Ł Ł„ŁŁ„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ Ų£ŁŽŁƒŁ’Ų«ŁŽŲ±Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŁ‡Ł‘ŁŽŲ§Ł„Ł ŲŖŁŽŲ³Ł’Ł…ŁŁŠŁŽŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ¶ŁŽŲØŁŽ Ų“ŁŽŲ¬ŁŽŲ§Ų¹ŁŽŲ©Ł‹ ŁˆŁŽŲ¹ŁŲ²Ł‘ŁŽŲ©ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŲŒ Ų­ŁŽŲŖŁ‘ŁŽŁ‰ ŲŖŁŽŁ…ŁŁŠŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŁŁ’Ų³Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŲ­Ł’Ų³ŁŁ†ŁŽŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ‡Ł’Ł„ŁŲŒ ŲØŁŽŁ„Ł’ Ł‡ŁŁˆŁŽ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŲ¶Ł Ł‚ŁŽŁ„Ł’ŲØŁ ŁˆŁŽŁ†ŁŁ‚Ł’ŲµŁŽŲ§Ł†Ł Ų¹ŁŽŁ‚Ł’Ł„ŁŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲ¬Ł Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ„Ł ŲØŁŲ£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŲŖŁ’Ł„ŁŽŁ‰ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ų­ŁŁƒŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ§ŲŖŁ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„Ł الْحِلْمِ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁŁ’ŁˆŁŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŲ­Ł’Ų³ŁŁ†ŁŽ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ مِنْ ŁƒŁŽŲøŁ’Ł…Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŁŠŁ’ŲøŁŲŒ ŁŁŽŲ„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ł…ŁŽŁ†Ł’Ł‚ŁŁˆŁ„ŁŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲØŁŁŠŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų¹ŁŁ„ŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų”Ł.

ā€œDan motifasi paling besar yang mendorong untuk marah menurut mayoritas orang bodoh adalah apa yang mereka sebut kemarahan sebagai keberanian dan kemuliaan diri, sehingga dianggap baik dan dicondongi oleh nafsu. Ini adalah kebodohan, bahkan penyakit hati dan kurangnya akal. Orang bodoh ini bisa diobati dengan cara dibacakan kepadanya cerita-cerita orang yang ramah dan pemaaf, dan hal-hal yang dianggap baik dari mereka berupa menahan amarah, sesungguhnya hal tersebut dikutip dari para Nabi dan Ulama.ā€ (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’idhah al-Mu’mini Min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 207).

Demikian penjelasan mengenai tips menahan amarah yang dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali. Semoga kita bisa mengamalkannya.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Terkait

Syariah Lainnya

Lihat Semua