Berdampak Positif, Seni Kaligrafi Mengasah Perasaan
NU Online · Selasa, 18 Januari 2011 | 02:29 WIB
Dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini, seni kaligrafi dapat mengasah perasaan seseorang. Secara tidak langsung, seni kaligrafi juga membuat pelakunya akan lebih mampu menahan diri dan lebih banyak melakukan perbuatan positif.
Meski demikian, berbeda dengan seni rupa lainnya, keberadaan seni kaligrafi hingga saat ini masih belum mendapat tempat yang layak di masyarakat secara umum. Padahal, selain bernilai karya seni, kaligrafi juga memiliki makna filosofis.<>
Demikian dinyatakan Tjutju Widjaya (69), Senin (17/1) juarai seni kaligrafi diajang World Expo Shanghai China 2010. Menurut Tjutju, mendalami seni kaligrafi selain manfaat keahlian membuat tulisan bernilai karya seni, sekaligus mendalami makna filosofi arti tulisan maupun berolahraga prana.
“Masyarakat kita umumnya selalu mengartikan sesuatu kegiatan seni dari sisi hasil karya akhir. Padahal selama melakukan proses berkarya, ada banyak hal-hal ataupun manfaat yang dapat diperoleh, semisal dalam seni kaligrafi,” ujar Tjutju.
Lebih lanjut Tjutju menjelaskan, untuk menjadi seorang seniman kaligrafi keahlian yang harus dimiliki bukan hanya penguasaan teknik menulis ataupun melukis menggunakan kowas (maobi) semata. Seorang seniman kaligrafi juga membutuhkan kepiawaian mencari kata-kata bermakna dan juga teknik prana atau olah raga pernapasan. (ful)
Terpopuler
1
Kabar Baik, Kemenhaj Turunkan Masa Tunggu Haji Jadi 14 Tahun
2
Bijak Menyikapi Tahlilan dan Sedekah untuk Mayit di Tengah Ekonomi Sulit
3
Gus Kikin: Hubungan Indonesia-Palestina Terjalin Panjang Sejak Perjuangan KH Hasyim Asy’ari
4
Hari Ke-15 Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Tenggelam: 2 Jenazah Ditemukan, 69 Masih Hilang
5
25 Kader Pasukan Inti Taiwan Dibaiat, Gus Nabil: Bersiaplah Menjadi Ksatria Khidmah
6
404 Wisudan Lulusan Unusia Diharapkan Siap Hadapi Dunia Kerja
Terkini
Lihat Semua