Habibie Sayangkan Mental VOC dalam Pengadaan Industri Strategis
NU Online · Senin, 31 Januari 2011 | 14:03 WIB
Mantan Presiden BJ Habibie dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senin (31/1), menuturkan, pembangunan industri pesawat terbang yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia bukan karena dipanggil presiden dan juga bukan karena ingin menjadi menteri. Tekad membangun industri pesawat ini, kata Habibie, lahir pada 1964 saat anaknya, Ilham Habibie, berusia satu tahun.
"Jadi saya membangun industri pesawat terbang di sini, bukan karena dipanggil Presiden, bukan karena ingin menjadi menteri. Bukan diperintah oleh Presiden Soeharto. Karena sebenarnya Pak Harto pun hanya melanjutkan penuturan dan keinginan Presiden Soekarno. PPresiden Soekarno merupakan presiden amanat rakyat, itu masuk ke dalam amanat rakyat, agar ada pemerataan pendapatan di rakyat Indonesia dan pendapatanya meningkat," papar Habibie berapi-api membuka paparannya tentang industri strategis di Indonesia.
<>
"Sekarang ini pendapatan rakyat Indonesia tidak sama, timpang. Jadi bukan untuk menjadi presiden. Presiden is not myjob, saya ingin membangun dan mengembangkan industri pesawat di sini. Presiden itu tidak penting," tambah mantan Menteri Riset dan Teknologi ini.
Industri strategis, menurut Habibie, adalah industri yang bisa membangun bangsa. Bukan hanya industri yang dibangun dan dimanfaatkan untuk pertahanan. "Kalau begitu, maka kalian hanya akan mengandalkan anggaran pertahanan. Tidak cukup Dik, untuk operasional latihan saja, untuk terbang butuh biaya berapa," ujar Habibie.
Industri maritim, sambung Habibie, merupakan amanat rakyat yang tahun 1950 oleh Bung Karno ditetapkan. Industri dirgantara yang 2015 juga sudah ditulis pada waktu itu.
Sayangnya, kata Habibie, yang dikejar sekarang ini bukan kemandirian, tapi yang dikejar itu keuntungan sesaat. "Kalau keuntungan sesaat itu yang saya katakan skenario VOC, iya? Industri strategis terhenti perkembangannya karena tidak didukung dengan bantuan anggaran pemerintah. Karena dicari keuntungan dalam US dolar. Kalau begitu ya bikin saja dagang. Ngapain? Ya, bikin saja pabrik perwakilan mereka," ujarnya sengit.
Habibie juga meminta anggota DPR dan generasi muda Indonesia untuk tidak terbuai dengan globalisasi yang tidak lain adalah kolonialisasi.
"Globalisasi, globalisasi apa? Globalisasi adalah pakaian baru untuk kolonialisasi. Saudara, saya orang tua, tapi saya tidak buta. Saya harus katakan kepada Anda, Anda harus bangkit. Begitu pun yang di sana, yang di balkon mereka juga sama seperti saya, rakyat," kata Habibie sambil mengarahkan pandangannya ke pengunjung di balkon. (ful)
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
4
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
5
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
6
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
Terkini
Lihat Semua