Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku merasa aneh atas fenomena munculnya aliran sesat yang marak belakangan. Terutama menyusul heboh aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang kemudian diikuti penangkapan terhadap pemimpinnya yang mengaku sebagai rasul, Ahmad Moshaddeq, pada Senin (29/10) malam.
āIni ājibrilā-nya (Pemimpin komunitas Eden: Lia Eden, Red) keluar, kok ānabiā-nya (Ahmad Moshaddeq, Red) masuk penjara,ā ujar Hasyim kepada wartawan usai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara PBNU dengan British Council di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (31/10)<>
Seperti diberitakan, Lia Eden, Pemimpin komunitas Eden itu, keluar dari hotel prodeo sekitar pukul 08.00 WIB, Selasa (30/10) kemarin. Mengenakan jubah putih dan tongkat kebesarannya serta dijemput 10 pengikutnya, Lia meninggalkan Rumah Tahan Pondok Bambu setelah mendekam selama 2 tahun.
Lia Eden divonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 26 Juni 2006 karena terbukti melakukan penodaan agama dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan.
Sementara, āRasulā Ahmad Moshaddeq menyerahkan diri bersama 6 pengikutnya ke Polda Metro Jaya. Moshaddeq menyerahkan diri karena mengetahui dicari petugas kepolisian dan mengetahuinya dari media.
Hasyim mencatat, fenomena aliran yang kerap menyelewengkan ajaran agama itu terjadi dalam dua tahun terakhir. āMulai dari ajaran salat dua bahasa, pelecehan terhadap Al-Quran, ajaran salat tanpa busana, orang mengaku sebagai malaikat jibril, dan terakhir, ada orang mengaku nabi,ā terangnya.
Hal yang membuat ia mengaku semakin heran adalah, hingga saat ini, pemerintah belum memiliki aturan perundangan yang mengatur tentang aliran sesat tersebut. Padahal, katanya, Indonesia sudah dua kali mengalami hal yang serupa. āSeharusnya kita sudah punya cara efektif untuk mengatasinya,ā pungkasnya.
Fenomena maraknya aliran sesat tersebut, lanjut Presiden Worl Conference on Religions for Peace itu, mengingatkan akan periode pertama munculnya Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia pada 1964 hingga awal 1965. (rif)
Terpopuler
1
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
2
Bolehkah Suami Menggunakan Tabungan Istri untuk Membayar Utang?
3
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
4
Khutbah Jumat: Jangan Putus Asa Mencari Rezeki Halal Saat Ekonomi Sulit
5
BNPB Sebut 639 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi
6
Kemenhaj Imbau Jamaah Umrah Indonesia Waspada, Pastikan Kesiapan Perjalanan
Terkini
Lihat Semua