Hasyim: Fundamentalisasi dan Liberalisasi Agama Menjadi Tren
NU Online · Sabtu, 15 Agustus 2009 | 08:38 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, menilai, saat ini muncul kecenderungan maraknya fundamentalisasi dan liberalisasi agama. Keduanya seperti menjadi tren wacana pemikiran di kalangan anak muda.
Fundamentalisasi agama yang mengarah pada gerakan Islam radikal, menurut Hasyim, umumnya dapat ditemukan di kampus-kampus umum. Sementara, liberalisasi agama justru terjadi di kampus-kampus yang berbasis agama.<>
“Mereka yang di kampus-kampus umum, karena kurangnya pengetahuan terhadap agama, malah lebih menyukai pemikiran Islam yang cenderung keras, radikal dan ekstrim,” terang Hasyim dalam sambutannya pada Pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar NU dan PP Ikatan Pelajar Putri NU periode 2009-2012 di Gedung Smesco, Jakarta, Jumat (14/8) malam.
Di sisi lain, kalangan muda yang berada di kampus-kampus berbasis agama, lebih tertarik terhadap wacana Islam liberal. “Mereka, mungkin saja karena sebelumnya sudah terlalu paham agama; lulusan pesantren, lalu bosan, akhirnya mencari pemikiran yang lain yang baru,” jelas Pengasuh Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, itu.
Keberadaan organisasi kemahasiswaan yang berpaham Islam moderat, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menurut Hasyim, justru tidak bisa diharapkan lagi perannya. “Terutama PMII, yang sudah lama ‘meninggalkan’ kampus dan lebih banyak di ‘jalanan’ (aksi demonstrasi),” tandasnya.
Kondisi demikian, imbuh Hasyim, tentu malah menyuburkan keberadaan paham Islam radikal atau sebaliknya: Islam liberal. Pasalnya, organisasi semacam PMII atau HMI tak lagi memperhatikan pengkaderan mahasiswa yang muslim.
Hasyim menilai, IPNU dan IPPNU yang berpaham Islam moderat ala Ahlussunnah wal Jamaah, masih berada di jalur semestinya. Karena itu, ia meminta kedua organisasi tersebut lebih berkonsentrasi mengurus pengkaderan di tingkat pelajar dan santri yang diharapkan dapat menjadi generasi NU masa depan.
Selain itu, IPNU dan IPPNU diwanti-wanti agar tidak terlibat dalam politik praktis. Keduanya harus bisa bermanfaat di tengah ketidakberdayaan organisasi-organisasi pemuda lainnya. Caranya, menyiapkan kader-kader yang mampu bekerja untuk masyarakat.
"Tugas utama IPNU dan IPPNU adalah menyiapkan kader bangsa yang berkualitas dan ikut berkontribusi menyelesaikan persoalan bangsa. Jangan terburu-buru ikut politik praktis," pinta Hasyim. (rif)
Terpopuler
1
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
2
Guru Dituntut Profesional tapi Kesejahteraan Dinilai Belum Berkeadilan
3
Dakwaan Hukum Terhadap Dua Aktivis Pati Botok dan Teguh Dinilai Berlebihan dan Overkriminalisasi
4
KontraS Soroti Brutalitas Aparat dan Pembungkaman Sipil Usai Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB
5
Nikah Siri Tak Diakui Negara, Advokat: Perempuan dan Anak Paling Dirugikan
6
Belajar Dakwah Tanpa Menyakiti Hati dari Sayyidina Hasan dan Husain
Terkini
Lihat Semua