Pro dan kontra mengenai kiai terjun ke dunia politik praktis masih terus berlangsung. Setidaknya demikianlah kesimpulan Bedah buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, karya Ibu Hajar, Ahad (29/3). Bedah buku yang berlangsung di Aula SMKN 2 Kota Malang itu kemarin berlangsung seru.
Sejumlah pembicara memperdebatkan isi buku tersebut. Kamilun Muhtadien misalnya, salah seorang pembicara kurang sepaham dengan penulis yang pada awal-awal bukunya memaparkan tentang keagungan kiai, tetapi di belakang-belakangnya justru merobohkan keagungan tersebut.<>
"Tidak semua kiai seperti itu, masih banyak kiai yang baik. Menurut saya Islam itu tidak alergi politik," ujar mantan Kadis Pendidikan Kabupaten Malang ini.
Dalam kesempatan itu, Kamilun juga menilai tidak ada salahnya seorang kiai berpolitik. Karena pada zaman perjuangan dulu sejumlah kiai juga terjun di dunia politik dan tetap bisa mempertahankan moralnya. "ujarnya santun.
Kamilun mengatakan, seorang kiai yang kerap berhubungan dengan masyarakat dinilai banyak tahu dengan persoalan yang dialami masyarakat. Untuk itu, jika memang kiai memutuskan berpolitik, maka tujuan utama itu harus diperjuangkan, bukan karena tujuan materi.
Namun, Kamilun juga kurang setuju jika ada seorang kiai yang terjun ke dunia politik hanya untuk mendapatkan materi. Kemudian mengikutkan para santrinya dalam dunia politik praktis. Karena pilihan politik adalah pilihan pribadi.
Sementara pembicara yang lain, Robikin Emhas lebih pro dengan penulis buku. Menurut dia, kiai yang terjun ke politik dengan tujuan yang tidak benar bisa menurunkan derajatnya. Sehingga, fatwa-fatwa yang disampaikan kurang atau bahkan tidak dipercaya umat. Untuk itu, para kiai harus berpikir lebih dalam sebelum memutuskan ke belantara politik praktis.
Menurut Robikin, dalam sejarah, para kiai dulu tida pernah terikat dengan pemerintah. Karea para kiai memiliki sawah dan ladang untuk digarap dan hasilnya untuk membiayai para santri. Para santri yang mengaji kepada kiai tidak dipungut biaya. Saat ini hal semacam itu jarang ditemukan. (JP)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
2
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
3
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
6
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
Terkini
Lihat Semua