Jakarta, NU Online
Upaya untuk menjalin komunikasi dan koordinasi yang lebih baik antara PBNU dan wilayah serta cabangnya merupakan bagian dari program peningkatan efektifitas organisasi. Kali ini, PBNU mengundang seluruh PWNU Jabar dan PCNU Se-Jabar untuk bersilaturrahmi di Gd. PBNU, Selasa.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh PCNU diberi kesempatan untuk mengungkapkan unek-unek tentang seluruh perkembangan dan permasalahan yang dihadapi masing-masing daerahnya. Salah satu permasalahan yang mengemuka adalah masalah penyelesaian pasca Konferwil yang belum tuntas. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi didampingi H. Ahmad Bagdja mewakili PBNU.
Ketua Umum PBNU meminta agar PWNU Jabar bisa meningkatkan kinerja organisasinya agar bisa sejajar dengan daerah lainnya seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Kita minta Jabar bisa membangun kantor yang representatif. Kita usahakan PWNU bisa bekerjasama dengan berbagai fihak sehingga dapat dana. Kita beri kailnya, bukan ikannya,” tandasnya.
Guna menghadapi berbagai permasalahan keagamaan yang belakangan ini terus meningkat, PBNU juga menginginkan agar silaturrahmi antar ulama ditingkatkan, termasuk dengan melibatkan para ulama non struktural.
“Saya harapkan ada pertemuan rutin, nanti saya atau pengurus PBNU lainnya bisa memberikan masukan tentang berbagai permasalahan. PBNU ini tugasnya berat, mulai ngurusi tingkat ranting sampai masalah internasional,” tuturnya.
Dikatakan oleh Hasyim bahwa pasca reformasi banyak tumbuh aliran baru. Terdapat golongan yang cenderung ke kanan seperti Salafi dan Syiah. Banyak dari para aktifis organisasi ini yang datang dari kawaan Timur Tengah. Sementara itu di sisi lain golongan juga tumbuh golongan yang ke kiri, yaitu Islam Liberal.
“Kalau golongan kanan cenderung memecah belah persatuan umat Islam sementara kalau golongan liberal mengembangkan wacana-wacana yang bisa merusak akidah umat Islam. Mereka mempertanyakan Qur’an atau Hadist. Kalau orang tidak mau dipoligami itu gak pa-pa, tapi kalau orang mempertanyakan tentang ayat poligami, ini yang jadi masalah,” tuturnya.
Siapkan Kader
Mantan Ketua PWNU Jatim tersebut juga mengaku prihatin dengan konflik PKB yang tak kunjung selesai sampai sekarang. “Bisa saja Gus Dur menang di tingkat pengadilan, tapi hubungannya dengan beberapa kyai di daerah sudah memburuk, ini masih menjadi masalah,” tambahnya.
Sinergi antara NU dan partai politik merupakan hal yang sangat penting. NU memerlukan sayap politik yang bisa memperjuangkan kepentingan nahdliyyin sementara NU sebagai ormas tetap menjalankan aktifitas keagamaan. “Saat ini yang berkuasa adalah partai politik. Harus ada kader-kader NU yang terjun ke dalam parpol. Nanti kalau tidak akan dikuasai orang lain dan kita akan digencet,” tandasnya. (mkf)
Terpopuler
1
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
2
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
Terkini
Lihat Semua